Bagi seorang penggemar sepak bola, membeli seragam klub kesayangan tidak pernah terasa lengkap tanpa mencetak nama dan angka di bagian belakangnya. Angka-angka ini telah menjadi sangat ikonik sehingga sering kali kita lebih mengingat seorang pemain berdasarkan nomor yang mereka kenakan daripada wajah mereka sendiri. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa tradisi ini dimulai dan bagaimana sepotong kain dengan angka bisa berubah menjadi identitas yang begitu kuat?

Sejarah awal penomoran pemain rupanya tidak lahir dari strategi pemasaran, melainkan murni dari kebutuhan praktis di atas lapangan hijau.

Eksperimen Bersejarah di Tahun 1928

Sebelum dekade 1920-an, para pemain sepak bola berlarian di lapangan tanpa tanda pengenal apa pun di punggung mereka. Para penonton yang memadati stadion sering kali kesulitan membedakan siapa yang sedang membawa bola, terutama jika mereka duduk jauh dari lapangan.  

Baca juga: Negara Mana yang Pertama Kali Memainkan Sepak Bola?

Perubahan besar terjadi pada tanggal 25 Agustus 1928 di sepak bola Inggris. Manajer legendaris Arsenal, Herbert Chapman, yang dikenal sebagai salah satu pemikir paling progresif dalam sejarah olahraga ini, memutuskan untuk bereksperimen dengan menambahkan nomor punggung pada kemeja para pemainnya saat bertandang ke markas Sheffield Wednesday. Pada hari yang sama, Chelsea juga melakukan hal serupa saat melawan Swansea Town.  

Tujuan utama dari inovasi ini sangat sederhana: membantu para penonton di stadion dan pembawa acara radio agar dapat mengenali setiap pemain dengan mudah. Pada saat itu, sistem penomorannya sangat kaku, di mana para pemain inti secara berurutan diberikan nomor 1 hingga 11 berdasarkan posisi mereka dalam formasi 2-3-5 yang sangat populer di era tersebut. 

Penjaga gawang selalu mengenakan nomor 1, para pemain bertahan mengenakan nomor 2 dan 3, sementara barisan penyerang mendapatkan angka dari 7 hingga 11.  

Diadopsi Dunia dan Insiden Alfabet

Meskipun mendapat sambutan baik dari para jurnalis dan penonton, otoritas sepak bola Inggris awalnya sempat menolak gagasan ini secara resmi. Barulah pada tahun 1939, aturan kewajiban mengenakan nomor punggung dari angka 1 hingga 11 diresmikan untuk semua pertandingan liga.  

Baca juga: Siapa Pemain Sepak Bola Terbaik Sepanjang Masa?

Di kancah internasional, penggunaan nomor punggung untuk keseluruhan turnamen baru mulai diterapkan pada Piala Dunia FIFA 1954 di Swiss. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini melahirkan berbagai kisah unik. Salah satu yang paling terkenal adalah keputusan tim nasional Argentina pada Piala Dunia 1974, 1978, dan 1982 yang membagikan nomor punggung berdasarkan urutan alfabet nama belakang para pemainnya. 

Sistem ini menghasilkan pemandangan yang sangat tidak lazim, seperti gelandang Ossie Ardiles yang harus mengenakan nomor punggung 1 pada Piala Dunia 1982. Tradisi alfabet ini hanya dilanggar demi Diego Maradona, yang memaksa untuk tetap mengenakan nomor 10 kesayangannya meskipun secara alfabet seharusnya ia mendapatkan nomor 12.  

Era Skuad Modern dan Transformasi Menjadi Merek

Sistem tradisional 1-11 terus bertahan hingga awal dekade 1990-an. Revolusi berikutnya terjadi pada musim kompetisi Liga Premier Inggris 1993/1994, ketika sistem "nomor skuad" permanen diperkenalkan. Untuk pertama kalinya, setiap pemain diberikan satu nomor punggung spesifik beserta nama mereka di atasnya yang berlaku selama satu musim penuh.  

Baca juga: Mengapa Sepak Bola Menjadi Olahraga Paling Populer di Dunia?

Sejak saat itu, angka di punggung pemain telah bertransformasi sepenuhnya. Nomor punggung bukan lagi sekadar alat identifikasi posisi taktis, melainkan sebuah merek dagang komersial dan warisan. 

Angka 10 kini secara universal dipuja sebagai simbol sang playmaker atau bintang utama berkat sihir Pelé, Maradona, dan Lionel Messi. Sementara itu, angka 7 menjadi representasi pemain sayap yang dinamis berkat warisan George Best, David Beckham, dan Cristiano Ronaldo.

Dari sekadar eksperimen untuk membantu para komentator radio di tahun 1928, nomor punggung telah berevolusi menjadi salah satu elemen paling kultus, sentimental, dan menguntungkan dalam industri sepak bola modern.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!