Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Mantan pembalap Red Bull Racing, Sergio "Checo" Perez, akhirnya membongkar tabir gelap di balik garasi tim juara dunia tersebut. Pembalap asal Meksiko ini blak-blakan mengenai hancurnya mentalitasnya akibat tekanan berat mendampingi Max Verstappen, serta perlakuan manajemen Red Bull yang berulang kali menuduh penurunan performanya sebagai akibat dari masalah psikologis, bukan masalah teknis mobil.
Dalam pengakuan mengejutkan di podcast High Performance dan Cracks, Perez mengungkapkan bagaimana dirinya dijadikan kambing hitam oleh manajemen tim. Alih-alih mengevaluasi masalah pada jet darat mereka, Red Bull justru memaksa Perez menemui psikolog untuk "menyembuhkan" apa yang mereka sebut sebagai runtuhnya mental sang pembalap.
Tekanan psikologis ini sudah dimulai sejak Perez pertama kali bergabung dengan Red Bull pada tahun 2021. Ekspektasi tinggi untuk menyamai level Verstappen langsung berubah menjadi penghakiman sepihak ketika Perez gagal meraih hasil maksimal di balapan-balapan awal.
"Begitu saya tiba di Red Bull, di balapan-balapan pertama saat saya tidak memberikan hasil, mereka langsung bilang: 'Yang kamu butuhkan adalah psikolog, kamu harus menemui psikolog,'" kenang Perez.
Baca juga: Comeback ke F1 Bersama Cadillac, Perez: Bukan Ajang Pembuktian
"Di Red Bull itu lucu, setiap kali Anda tidak tampil bagus, mereka selalu menuduh ada masalah mental. Jadi saya pikir, oke, saya terbuka untuk mencoba apa saja."
Perez pun menuruti kemauan tim. Namun, kepatuhannya justru berujung pada momen absurd di pabrik Milton Keynes ketika ia disodori tagihan medis yang fantastis.
"Suatu hari saya tiba di pabrik dan mereka bilang, 'Hei, ada tagihan untukmu' – sebesar £6.000 (sekitar Rp145 juta) dari psikolog," ujar Perez sembari tertawa getir. "Saya bilang ke mereka, 'Ah, kirim saja tagihan ini ke Helmut [Marko]. Dia yang akan bayar.' Itu adalah biaya £6.000 hanya untuk satu kali panggilan telepon."
Saat penasihat motorsport Red Bull, Helmut Marko, menanyakan hasil sesi tersebut, Perez menjawab dengan sarkas: "Sempurna, dengan sesi ini kita semua sudah beres." Kompromi ironis ini setidaknya memberi Perez ketenangan selama tiga tahun berikutnya, di mana ia berhasil mempersembahkan beberapa kemenangan krusial dan finis sebagai runner-up kejuaraan dunia pada 2023.
Puncak keretakan hubungan ini terjadi pada musim 2024, di mana performa Perez merosot tajam. Ketika publik dan media berasumsi Perez hancur di bawah bayang-bayang kehebatan Verstappen, pembalap veteran itu menegaskan bahwa akar masalahnya murni bersifat mekanis.
Seiring perkembangan mobil RB20 yang semakin condong ke arah gaya balap Verstappen, karakteristik bagian depan yang sangat tajam dan bagian belakang yang liar, Perez kehilangan kendali atas mobilnya. Alih-alih mengakui bahwa pengembangan mobil mereka mengorbankan pembalap kedua, manajemen Red Bull kembali menggunakan narasi "masalah psikologis".
"Di tahun-tahun terakhir, tekanannya sangat besar hingga saya sempat berpikir, 'Yah, mungkin saya memang butuh bantuan, kan? Hasilnya tidak kunjung datang,'" aku Perez mengenai bulan-bulan terakhirnya sebelum akhirnya didepak.
Baca juga: Lewis Hamilton Raih Kemenangan Perdana Bersama Ferrari di Barcelona
"Saya mencari bantuan ke mana-mana, tapi jauh di lubuk hati saya tahu persis: ketika Anda mengendarai mobil di mana Anda terus berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya, di tikungan mana Anda akan kecelakaan, Anda tidak akan pernah bisa melaju cepat."
Hal yang paling menyakitkan bagi Perez adalah isolasi politik yang ia rasakan di dalam internal tim sendiri. Manajemen puncak Red Bull secara terbuka menegaskan bahwa prioritas tim bukanlah dirinya.
"Pada akhirnya, mereka terang-terangan mengatakan kepada saya bahwa seluruh proyek tim ini dibuat untuk pembalap utama kami, dan pembalap itu adalah Max," ungkap Perez tanpa basa-basi. "Jadi, bagi saya semuanya sudah jelas, dan saya menerima hal itu. Saya hanya mencoba memanfaatkannya sebaik mungkin."
Menghadapi situasi di mana seluruh elemen tim tidak lagi mendukungnya menciptakan beban moral yang luar biasa. "Di atas semua itu, Anda merasa seluruh tim menentang Anda. Secara publik, itu sangat sulit. Saya rasa hanya orang yang bermental sangat kuat yang bisa bertahan dalam situasi seperti itu," pungkasnya.
Pernyataan berani Perez ini membuka mata dunia tentang betapa kejam dan toksiknya lingkungan di kursi kedua Red Bull Racing. Kini, bersiap untuk memulai babak baru di grid Formula 1 bersama Cadillac, Checo siap membuktikan bahwa kemundurannya di masa lalu bukanlah karena lemahnya mentalitas, melainkan karena ia berada di ekosistem yang hanya diciptakan untuk satu orang.