Mateta Bawa Crystal Palace Juara Conference League
Sejarah baru resmi tercipta di Red Bull Arena. Crystal Palace berhasil merengkuh trofi kompetisi Eropa pertama sepanjang sejarah klub setelah menundukkan wakil Spanyol, Rayo Vallecano, dengan skor tipis 1-0 pada partai final UEFA Conference League yang berlangsung dramatis pada Rabu malam waktu setempat.
Gol tunggal dari penyerang asal Prancis, Jean-Philippe Mateta, di awal babak kedua sudah cukup untuk mengunci kemenangan The Eagles. Keberhasilan ini sekaligus memberikan kado perpisahan yang manis bagi manajer Oliver Glasner, yang dipastikan menyudahi masa baktinya di Selhurst Park akhir musim ini dengan menyumbangkan trofi mayor ketiga dalam dua tahun terakhir.
Balasan Sempurna di Tengah Kontroversi
Bagi para pendukung Crystal Palace yang memadati stadion di Leipzig, gelar juara ini terasa seperti sebuah keadilan yang tertunda. Sebelum turnamen dimulai, Palace sempat mengajukan banding ke pengadilan akibat didegradasi oleh UEFA dari Europa League ke Conference League, sebuah slot yang awalnya mereka amankan berkat status juara FA Cup musim lalu, akibat tersandung regulasi kepemilikan multi-klub.
Ketegangan tersebut bahkan terlihat sebelum sepak mula, di mana suporter Palace membentangkan spanduk raksasa menyerupai papan jadwal penerbangan bandara bertuliskan: "Europa League: Boarding". Kemenangan malam ini secara otomatis menggaransi tiket kembali ke kompetisi kasta kedua Eropa tersebut untuk musim depan.
Baca juga: Arsenal Rayakan Gelar Juara Premier League di Selhurst Park
"Sangat luar biasa! Ini pertama kalinya kami bermain di Eropa dan kami langsung juara. Sekarang saya hanya ingin merayakan ini, saya hanya ingin berpesta," cetus sang pahlawan kemenangan, Jean-Philippe Mateta, kepada TNT Sports seusai laga.
Menariknya, Mateta sendiri nyaris meninggalkan klub pada bursa transfer musim dingin lalu ke AC Milan sebelum akhirnya kesepakatan tersebut runtuh di menit-menit akhir akibat gagal tes medis.
Babak Pertama yang Alot dan Ketat
Pertandingan berjalan sangat taktis dan cenderung hati-hati sejak menit awal. Di paruh pertama, kedua tim tampak gugup sehingga gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran.
Rayo Vallecano, yang menjalani final kompetisi Eropa mayor pertama dalam sejarah mereka, sempat mengancam lebih dulu pada menit ke-25 lewat sepakan voli Alemão memanfaatkan umpan silang Pep Chavarría, namun bola masih melebar.
Palace, yang mendapatkan suntikan tenaga instan setelah gelandang andalan Adam Wharton dinyatakan pulih dari cedera pergelangan kaki, perlahan mulai mengambil alih kendali permainan.
The Eagles nyaris memecah kebuntuan sesaat sebelum turun minum, ketika umpan silang akurat Wharton disambut dengan sundulan menyelam oleh Tyrick Mitchell, tetapi bola masih menyamping tipis di sisi gawang Augusto Batalla.
Sambaran Kilat Mateta dan Tiang Ganda Pino
Kebuntuan akhirnya pecah enam menit setelah memasuki babak kedua. Gol bermula dari aksi individu Adam Wharton di luar kotak penalti yang melepaskan tembakan jarak jauh yang sangat keras.
Kiper Rayo, Augusto Batalla, berhasil memblok bola dengan kedua tangannya, namun bola muntah justru bergulir tepat ke jalur pergerakan Mateta. Tanpa ampun, penyerang bertubuh kekar itu menyambar bola untuk mengubah skor menjadi 1-0 pada menit ke-51.
Baca juga: Singkirkan Strasbourg, Rayo Vallecano Tembus Final Conference League
Semenit kemudian, Palace hampir menggandakan keunggulan melalui skema bola mati. Eksekusi tendangan bebas melengkung yang dilepaskan oleh pemain sayap Yéremy Pino secara luar biasa membentur tiang gawang sebelah kiri, bergulir di sepanjang garis gawang, mengenai tiang sebelah kanan, sebelum akhirnya berhasil disapu bersih oleh lini pertahanan Rayo yang panik.
Setelah tertinggal, pelatih Rayo Vallecano mencoba menyegarkan lini serang dengan memasukkan Sergio Camello dan Ilias Akhomach. Namun, rapatnya trio lini belakang Palace yang dikomandoi Maxence Lacroix, Chadi Riad, dan bek muda Jaydee Canvot membuat setiap gelombang serangan klub asal Madrid tersebut selalu patah sebelum memasuki area penalti. Skor 1-0 bertahan hingga wasit meniup peluit panjang.
Kemenangan ini memastikan dominasi tim-tim Premier League di kompetisi ini terus berlanjut, setelah West Ham United memenanginya pada tahun 2023 dan Chelsea di tahun 2025. Bagi Oliver Glasner, ini adalah kado perpisahan terbaik dari salah satu era paling sukses dalam sejarah klub London Selatan tersebut.