Glasner Tegaskan Tak Menyesal Tinggalkan Palace usai Juara Conference League
Oliver Glasner memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para pemain Crystal Palace setelah menutup masa baktinya sebagai manajer dengan merengkuh trofi Liga Konferensi UEFA. Meski baru saja mencatatkan tinta emas dalam sejarah klub London Selatan tersebut, juru taktik asal Austria ini menegaskan sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk hengkang.
Kemenangan tipis 1-0 atas Rayo Vallecano di Red Bull Arena, Leipzig, memastikan Palace mengangkat trofi mayor Eropa pertama sepanjang 121 tahun klub berdiri. Gol penentu dari Jean-Philippe Mateta pada menit ke-51 tidak hanya membawa The Eagles terbang tinggi di benua biru, tetapi juga menyempurnakan warisan singkat namun luar biasa milik Glasner di Selhurst Park.
Sanjungan Tinggi untuk Para Pemain
Usai laga emosional di Leipzig, Glasner yang tampak basah kuyup setelah mendapat kejutan siraman air dari para pemainnya, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya terhadap performa anak asuhnya di tengah badai luar lapangan yang sempat menerpa klub.
“Saya menarik napas lega saat peluit akhir berbunyi,” aku Glasner yang emosional.
“Saya hanya mendukung kelompok pemain ini – saya bisa menjadi pesulap terbaik, tetapi tanpa para pemain, itu tidak akan berhasil. Para pemain pantas mendapatkan semua pujian karena mereka harus mempercayai saya dan bekerja sangat keras.
Baca juga: Mateta Bawa Crystal Palace Juara Conference League
“Mereka semua akan memberi tahu Anda bahwa saya sangat menuntut. Tetapi mereka tahu saya menginginkan yang terbaik untuk semua orang. Begitu semua orang memahami itu, kami menciptakan semangat yang fantastis dan para pendukung sekarang mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan dengan tempat di Liga Europa.”
Keberhasilan ini melengkapi catatan fantastis Glasner yang sukses mempersembahkan tiga trofi mayor hanya dalam kurun waktu dua tahun terakhir bagi Palace. Padahal, persiapan tim sempat terganggu oleh sengketa regulasi kepemilikan multi-klub dengan UEFA yang sempat mendegradasi mereka dari kompetisi Liga Europa sebelum turnamen dimulai.
Kepergian Tanpa Penyesalan
Meski berhasil membawa Palace mencetak sejarah baru dan mengamankan tiket otomatis kembali ke Liga Europa musim depan, pria berusia 51 tahun itu tetap teguh pada keputusannya untuk menyudahi kontraknya lebih awal pada musim panas ini.
Ketika didesak oleh para jurnalis mengenai apakah kesuksesan masif ini membuatnya goyah atau memicu penyesalan karena memilih pergi di saat Palace sedang berada di puncak performa, Glasner menjawabnya dengan sangat lugas:
“Tidak. Saya ingat Anda pernah bertanya kepada saya, itu di akademi, ketika para penggemar menyiapkan spanduk, ketika kami sedikit kesulitan. Dan sekarang sama saja,” tegasnya.
“Saya melihat diri saya sebagai pelayan bagi para pemain, sebagai pelayan bagi klub, dan kemudian sebagai seseorang yang memberi arahan. Saya mengatakan kepada para pemain hari ini dalam pertemuan ketika kami berada di hotel, karena saya menerima banyak pesan dari penggemar yang mengatakan: 'Terima kasih untuk hari terbaik dalam hidup saya,' dan saya sangat menghargainya.
Baca juga: Pemain Rayo Vallecano Minta Maaf Usai Gagal Angkat Trofi Eropa
“Dan saya mengatakan hal yang sama persis kepada para pemain. Jadi saya harus mengucapkan terima kasih kepada para pemain, saya harus mengucapkan terima kasih kepada para pendukung, karena semuanya sama saja.”
Warisan Emas untuk Manajer Berikutnya
Di bawah kepemimpinan Glasner, Crystal Palace berhasil bertransformasi dari tim yang awalnya kerap berkutat di papan tengah Premier League menjadi kekuatan baru yang disegani, baik di kancah domestik maupun kompetisi Eropa. Keberaniannya mengorbitkan talenta muda seperti Adam Wharton dan memaksimalkan ketajaman Jean-Philippe Mateta menjadi kunci sukses revolusi taktisnya.
Glasner meninggalkan Selhurst Park dengan kepala tegak dan warisan cetak biru skuad yang sangat solid untuk diteruskan oleh manajer Palace berikutnya. Baginya, aksi meluncur di atas lapangan di depan tribun suporter Palace malam ini adalah memori penutup yang sempurna. Ia pergi bukan sebagai pecundang yang menyerah, melainkan sebagai legenda yang telah menuntaskan misinya.