Kandas di Piala Dunia, Falcao Sebut Sepak Bola Kolombia 'Memalukan'
Pencetak gol terbanyak sepanjang masa tim nasional Kolombia, Radamel Falcao, melontarkan kritik publik yang sangat tajam dengan menyebut sistem sepak bola domestik negaranya sebagai sebuah aib atau memalukan. Pernyataan keras ini menyusul tersingkirnya skuad Los Cafeteros dari Piala Dunia 2026 setelah kalah dalam drama adu penalti melawan Swiss di babak 16 besar.
Falcao, yang selama turnamen ini bertugas sebagai komentator dan pengamat untuk ESPN, menilai bahwa kegagalan tersebut merupakan puncak dari gunung es masalah struktural yang tak kunjung dibenahi di kompetisi lokal mereka. Mantan penyerang Atletico Madrid, Manchester United, dan Chelsea itu menegaskan bahwa model liga di Kolombia saat ini justru mematikan daya saing para pemain.
Sistem Kompetisi Memupuk Kemalasan
Kritik utama penyerang berusia 40 tahun itu tertuju pada format kompetisi profesional di Kolombia yang saat ini hanya memiliki dua kasta, yaitu divisi utama (Primera A) dan divisi kedua (Primera B), tanpa adanya struktur kompetisi di bawahnya.
“Pelatihan kita harus ditingkatkan, begitu pula penekanan, perhatian, kepedulian, peralatan, dan infrastruktur yang harus diberikan kepada para pemain muda kita, kepada jajaran pemain muda,” ketus Radamel.
Baca juga: Swiss Tumbangkan Kolombia Lewat Adu Penalti untuk Segel Tiket Perempat Final
Ia menjelaskan bahwa format tanpa ancaman degradasi yang nyata ke kasta yang lebih rendah membuat banyak pemilik klub enggan berinvestasi secara serius demi memajukan kualitas tim.
"Hal yang sama berlaku untuk divisi sepak bola Kolombia; tidak mungkin kita tidak memiliki Divisi C. Sungguh memalukan bahwa sepak bola kita kurang kompetitif dan mendorong mediokritas dan kemalasan,” tambahnya.
“Tim-tim yang tidak berinvestasi karena mereka tahu mereka tidak akan terdegradasi ke divisi Divisi C, yang memiliki anggaran Divisi Pertama dan membayar pemain dengan upah yang sangat rendah dan satu-satunya yang dihasilkan adalah mediokritas dalam sebuah institusi dan pada para pemain sepak bola itu sendiri, yang tahu bahwa tidak akan terjadi apa pun jika mereka finis di posisi terakhir.”
Hilangnya Bakat Muda Akibat Minim Wadah
Selain format liga yang mandek, Falcao menyoroti rapuhnya pembinaan usia muda di Kolombia. Menurutnya, ketiadaan kompetisi divisi ketiga atau keempat membuat ribuan talenta muda di negaranya terpaksa menyudahi mimpi mereka sebelum berkembang secara optimal.
"Sepak bola kita pantas mendapatkan sesuatu yang lebih. Dewan ini telah meningkatkan tim nasional Kolombia, telah memberikannya sarana, telah mendirikan basis di Bogotá, di Barranquilla,” ujarnya.
Baca juga: Gol Tunggal Jhon Arias Sempurnakan Dominasi Kolombia Atas Ghana
“Mereka memberikan segalanya untuk tim nasional dan para pemain ini mengerahkan upaya mereka, berkembang di Kolombia dan di tempat lain, mencoba memberikan yang terbaik untuk kita, terima kasih atas apa yang telah mereka lakukan, tetapi sepak bola kita tidak dapat terus mempromosikan kemalasan dan mediokritas dan mungkin kita adalah satu-satunya di dunia yang tidak memiliki divisi ketiga atau keempat dan kita kehilangan pemain pada usia 20 tahun karena mereka tidak punya tempat untuk bermain.”
Klarifikasi Demi Néstor Lorenzo
Mengingat gelombang reaksi yang luar biasa besar di Amerika Selatan pasca-wawancara tersebut dirilis, Falcao segera menggunakan media sosialnya untuk memberikan klarifikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman. Ia menegaskan bahwa kritik tersebut murni ditujukan kepada sistem birokrasi dan organisasi sepak bola, bukan performa James Rodríguez dan kolega di atas lapangan.
"Setelah melihat beberapa media memutarbalikkan kata-kata saya dalam judul berita mereka, saya ingin menegaskan bahwa komentar saya sama sekali tidak ditujukan untuk tim nasional Kolombia," tulis Falcao lewat akun media sosial pribadinya.
Sebaliknya, ia justru memberikan apresiasi tinggi atas kinerja pelatih kepala Néstor Lorenzo yang dinilai telah berhasil membangun tim tangguh yang mampu bersaing di level tertinggi internasional. Falcao bahkan berharap federasi mempertahankan kontrak Lorenzo untuk siklus kualifikasi Piala Dunia berikutnya guna melanjutkan fondasi positif yang sudah terbangun.