Swiss Tumbangkan Kolombia Lewat Adu Penalti untuk Segel Tiket Perempat Final
Penantian panjang selama 72 tahun akhirnya usai. Tim nasional Swiss berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah sepak bola mereka setelah menyingkirkan Kolombia lewat babak adu penalti yang mendebarkan di Stadion BC Place, Vancouver.
Setelah bermain tanpa gol selama 120 menit yang penuh dengan tensi tinggi fisik, ketenangan di babak tos-tosan menjadi pembeda. Eksekusi dingin dari pemain pengganti, Ruben Vargas, memastikan langkah Nati menuju babak perempat final Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya sejak tahun 1954. Di fase delapan besar nanti, Swiss sudah ditunggu oleh Argentina yang dipimpin oleh sang maestro Lionel Messi di Kansas City.
Ketangguhan Kobel Gagalkan Dominasi Kolombia
Kehilangan bintang muda yang sedang naik daun, Johan Manzambi, akibat cedera lutut sebelum laga dimulai, Swiss tampak kesulitan mengembangkan permainan kreatif di lini depan sepanjang babak pertama. Sebaliknya, Los Cafeteros langsung mengambil inisiatif serangan dan mendominasi penguasaan bola.
Peluang emas pertama pertandingan lahir di menit ke-20 lewat kaki gelandang muda Kolombia, Gustavo Puerta. Tembakan melengkung indahnya dari luar kotak penalti yang mengarah tepat ke pojok atas gawang berhasil digagalkan secara heroik oleh Gregor Kobel yang terbang menyelamatkan bola. Ketangguhan kiper Borussia Dortmund ini di bawah mistar gawang menjadi fondasi kokoh bagi pertahanan Swiss sepanjang laga.
Baca juga: Hapus Kutukan 88 Tahun: Swiss Bungkam Aljazair 2-0 dan Lolos ke 16 Besar
Di kubu seberang, Swiss sempat membalas lewat tendangan voli kaki kiri Fabian Rieder dan tusukan cepat Dan Ndoye. Namun, penampilan sigap penjaga gawang Kolombia, Camilo Vargas, memastikan babak pertama berakhir dengan skor kacamata.
Drama Mistar Gawang dan Peluang Emas yang Sia-Sia
Memasuki babak kedua, intensitas pertandingan justru sedikit menurun karena kedua tim tampil lebih pragmatis dan disiplin dalam bertahan. Minimnya kreativitas membuat pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu.
Di sinilah drama sesungguhnya dimulai. Pada menit ke-93, Kolombia melayangkan protes keras setelah Jaminton Campaz dijatuhkan oleh Miro Muheim di dalam kotak terlarang, namun wasit bergeming. Hanya berselang lima menit, giliran dewi fortuna yang menjauh dari Kolombia; sundulan tajam Jhon Lucumí memanfaatkan umpan sepak pojok Juan Fernando Quintero membentur mistar gawang dengan sangat keras.
Peluang terbaik untuk menyudahi laga sebelum adu penalti sejatinya didapatkan oleh Campaz menjelang akhir babak tambahan waktu kedua. Memanfaatkan kesalahan fatal kapten Swiss, Granit Xhaka, di lini belakang, Campaz berdiri bebas satu lawan satu dengan Kobel. Naas, tembakannya justru melambung jauh di atas mistar gawang.
Baca juga: Gol Tunggal Jhon Arias Sempurnakan Dominasi Kolombia Atas Ghana
Vargas Jadi Penentu, Sejarah 1954 Terulang
Ketika laga harus ditentukan lewat titik putih, mentalitas Swiss terbukti jauh lebih baja. Dua algojo Kolombia, Davinson Sánchez yang tembakannya membentur mistar, serta Cucho Hernández yang eksekusinya dibaca dengan sempurna oleh Kobel, harus membayar mahal kegagalan mereka.
Meskipun Manuel Akanji sempat gagal mengeksekusi penalti bagi Swiss, Ruben Vargas yang maju sebagai penendang kelima melepaskan sepakan tenang yang mengecoh Camilo Vargas. Skor adu penalti berakhir 4-3, memicu ledakan kegembiraan dari seluruh penggawa Swiss dan menyisakan kesedihan mendalam di wajah Luis Díaz dan rekan-rekannya.
Kemenangan ini memutus kutukan babak 16 besar yang selalu membayangi Swiss dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir, sekaligus menyamai pencapaian legendaris generasi 1954.