Garcia Tegaskan Remontada Lawan Senegal Bangkitkan Momentum Belgia
Pelatih kepala Belgia, Rudi Garcia, menegaskan bahwa kemenangan epik comeback 3-2 atas Senegal di babak 32 besar harus menjadi batu loncatan emosional bagi Red Devils untuk menguasai sisa turnamen Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Garcia menuntut anak asuhnya tidak hanya merayakan malam keajaiban di Seattle, melainkan membawa mentalitas pantang menyerah tersebut hingga ke tangga juara.
Langkah Belgia di Piala Dunia hampir saja berakhir tragis setelah tertinggal 2-0 dari Senegal hingga menit ke-85 akibat gol Habib Diarra dan Ismaïla Sarr. Namun, keputusan taktis Garcia memasukkan Romelu Lukaku mengubah segalanya. Gol Youri Tielemans pada menit ke-89 berhasil memaksakan babak perpanjangan waktu, sebelum sang kapten mengunci kemenangan bersejarah lewat penalti dingin di menit ke-125 setelah peninjauan VAR yang menegangkan.
Nikmati Momen Remontada
Bagi negara yang kerap dikritik karena sering runtuh di bawah tekanan besar pada era "Generasi Emas" sebelumnya, kemenangan ini menandai perubahan karakter yang masif. Garcia tidak ragu menyebut laga melelahkan ini bak pertarungan tinju kelas berat yang menguras emosi dan fisik.
Pelatih asal Prancis berharap remontada ini menjadi momen untuk bangkit di babak selanjutnya. Seperti yang diketahui, ini adalah kali kedua Belgia bangkit dari defisit dua gol untuk memenangkan pertandingan babak gugur Piala Dunia setelah kemenangan 3-2 mereka atas Jepang di babak 16 besar tahun 2018.
"Saya datang 18 bulan lalu karena saya percaya bahwa tim ini memiliki kualitas. Ini bukan tim terbaik sepanjang masa, tetapi malam ini kami menulis sejarah," ujar Garcia.
Baca juga: Penalti Kontroversial Menit ke-125 Tielemans Loloskan Belgia Lawan Senegal
"Kami tidak memenangkan apa pun, kami lolos ke babak 16 besar, dan kita akan lihat siapa yang akan kita hadapi.
"Tidak masalah siapa lawannya. Sekarang kita akan menikmati kemenangan dan 'remontada' kita."
Menempa Solidaritas untuk Hadapi AS
Hadiah langsung dari drama larut malam di Seattle ini adalah laga babak 16 besar yang sangat dinantikan melawan tuan rumah Amerika Serikat, yang sebelumnya mendepak Bosnia-Herzegovina. Kendati demikian, Garcia melihat dampak yang jauh lebih besar bagi masa depan skuadnya yang kini sedang bertransisi dari para ikon senior.
"Sepak bola adalah emosi. Kami punya banyak emosi," tambah Garcia. "Ketika Anda tertinggal 2-0 di menit ke-83, tidak pernah mudah untuk bangkit dan memenangkan pertandingan.
"Tapi inilah yang saya katakan kepada para pemain saat istirahat minum: kami harus mencetak gol ketiga dalam pertandingan dan kemudian segalanya mungkin.
"Kami melakukannya, kami memberikan yang terbaik, dan kemudian mereka kembali membuka permainan.
Baca juga: Bermodal Momentum, Belgia Emoh Terlena Status Favorit Lawan Senegal
"Ini adalah skenario yang dapat membuat tim semakin kuat dan solid dan menyadari bahwa sampai pertandingan belum selesai, sampai peluit akhir berbunyi, banyak hal dapat terjadi seperti yang baru saja kami tunjukkan hari ini."
Dengan skuad yang kini berada dalam kondisi bugar, termasuk ketajaman Lukaku yang kembali dan kejeniusan Tielemans di lini tengah, Belgia di bawah asuhan Garcia terbukti tidak sekadar bertahan di tengah ketatnya kompetisi, mereka justru berkembang dalam drama. Jika mereka mampu mempertahankan kerja keras ini di laga-laga berikutnya, kontestan lain patut waspada.