Esposito Senang Bisa Kemenangan bagi Skuad Termuda Italia Sepanjang Sejarah
Saat tim-tim raksasa Eropa lainnya tengah sibuk mengepak koper dan memoles taktik akhir menuju Amerika Utara untuk Piala Dunia 2026, tim nasional Italia harus memulai urusan yang menyakitkan: membangun ulang segalanya dari nol.
Namun, di tengah puing-puing kekecewaan pasca-gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun akibat kalah adu penalti dari Bosnia-Herzegovina Maret lalu, secercah harapan baru lahir di Stade de Luxembourg, Rabu malam. Dipimpin oleh pelatih interim Silvio Baldini, Italia menurunkan susunan starting lineup paling muda sejak Desember 1912 dalam sejarah sepak bola mereka dengan rata-rata usia hanya 21 tahun.
Di malam yang dipenuhi oleh perkenalan wajah-wajah baru tersebut, striker muda Inter Milan, Francesco Pio Esposito, tampil sebagai pembeda. Sundulannya di menit ke-49 memanfaatkan umpan sepak pojok Niccolò Pisilli memastikan kemenangan tipis 1-0 atas Luksemburg.
Masuk Buku Sejarah Sejajar Meazza dan Rivera
Gol tunggal tersebut tidak sekadar memberikan kemenangan moral yang sangat dibutuhkan publik Coverciano, melainkan juga menempatkan nama Pio Esposito ke dalam buku rekor elit sepak bola Italia.
Di usianya yang baru menginjak 20 tahun (ia baru akan berulang tahun ke-21 pada 28 Juni mendatang), striker yang menghabiskan musim lalu sebagai pinjaman di Spezia ini telah mengemas 4 gol hanya dari 8 penampilan seniornya bersama La Nazionale.
Catatan impresif tersebut menjadikannya pemain ketiga dalam sejarah Italia yang mampu mencetak lebih dari tiga gol sebelum menginjak usia 21 tahun, bersanding dengan dua legenda absolut: Giuseppe Meazza dan Gianni Rivera (data Opta).
Baca juga: Luksemburg 0-1 Italia: Gol Tunggal Esposito Beri Kemenangan Tim Muda Azzurri
"Saya senang bisa membantu tim meraih hasil yang baik. Meskipun ini pertandingan persahabatan, kami menanggapinya dengan sangat serius dan dengan upaya maksimal," kata Pio Esposito kepada RAI Sport.
Dewasa di Skuad Muda
Dinamika di ruang ganti Italia saat ini memang terbilang unik. Kehadiran Baldini membawa perombakan radikal dengan memanggil 19 pemain yang belum pernah mencicipi caps senior sama sekali. Sepanjang 90 menit laga berjalan, luar biasanya ada 15 pemain debutan yang mencatatkan penampilan pertama mereka mengenakan jersi biru yang sakral.
Di tengah lautan debutan tersebut, Esposito, yang baru memiliki segelintir caps senior dan sempat merasakan kepedihan gagal mengeksekusi penalti melawan Bosnia tiga bulan lalu, mendadak harus memikul peran sebagai pemimpin di lini depan. Sebuah tanggung jawab yang diembannya dengan kedewasaan luar biasa.
“Saat saya menginjakkan kaki di lapangan, saya berusaha memberikan yang terbaik, bukan hanya dalam mencetak gol, tetapi juga berusaha membantu rekan-rekan setim saya,” ujarnya.
“Sungguh luar biasa bisa berada di dekat rekan-rekan setim saya saat debut mereka. Saya pernah berada di posisi mereka beberapa bulan lalu, sungguh menyenangkan melihat emosi mereka dalam persiapan, dan saat mereka memasuki lapangan.”
Baca juga: Ranieri Siap Mengabdi: "Jika Panggilan Italia Datang, Jawabannya Adalah Ya"
Fondasi Tanpa Beban Masa Lalu
Eksperimen berani yang diluncurkan FIGC dan Baldini ini sejatinya mengirimkan pesan yang sangat jelas ke seluruh penjuru Italia: ini adalah pemotongan generasi total. Skuad yang merumput di Luksemburg semalam adalah anak-anak muda yang bersih dari beban mental kegagalan di Stockholm pada 2017, Palermo pada 2022, maupun Sarajevo pada 2026.
Meskipun secara estetika permainan Italia semalam masih jauh dari kata sempurna dan kerap kehilangan presisi di sepertiga akhir lapangan, termasuk peluang emas Seydou Fini yang melambung serta tembakan Pisilli yang menerpa tiang, stabilitas dan ketenangan yang ditunjukkan sepanjang laga menjadi sinyal bagus.
Kemenangan 1-0 atas Luksemburg jelas tidak serta merta mengobati luka absen di Piala Dunia pekan depan. Namun, dengan figur muda seperti Francesco Pio Esposito yang siap memimpin era restorasi ini di lapangan, Italia setidaknya telah meletakkan batu pertama yang kokoh untuk membangun kembali kejayaan masa lalu menjelang turnamen UEFA Nations League musim gugur mendatang.