Presiden UEFA Aleksander Čeferin secara tegas mencoret namanya dari bursa pencalonan Presiden FIFA, namun memberikan peringatan keras bahwa Gianni Infantino harus bersiap menghadapi perlawanan terbuka atau mundur dari jabatannya pada pemilihan tahun depan.  

Pernyataan menohok ini disampaikan Čeferin menyusul gelombang penolakan global atas rencana kontroversial FIFA untuk menjual 20 persen hak komersial turnamen, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta. Rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah memicu penolakan masif dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola dunia.  

Penolakan Tegas dan Alasan Kredibilitas

Dalam wawancara di podcast The Rest Is Politics: Leading, orang nomor satu di sepak bola Eropa tersebut mengonfirmasi bahwa ia tidak berminat mengambil alih tampuk kepemimpinan tertinggi FIFA pada Kongres mendatang di Maroko.  

Baca juga: Wakil Presiden FIFA Sándor Csányi Resmi Tarik Dukungan dari Gianni Infantino

Čeferin mengungkapkan bahwa keputusannya didasari atas kecintaannya pada UEFA serta keinginan untuk menikmati kehidupan di luar politik olahraga. Pria asal Slovenia tersebut menambahkan bahwa kredibilitasnya dalam mengkritik kebijakan FIFA justru jauh lebih kuat ketika ia tidak memiliki ambisi pribadi untuk menduduki kursi kekuasaan Infantino.  

"Salah satu alasannya adalah saya mencintai UEFA dan senang bekerja di sini, dan menurut saya pada titik tertentu—maksud saya—sudah saatnya juga untuk sedikit menikmati hidup," kata Ceferin.

"Kita lihat saja sampai kapan. Dan poin kedua, kredibilitas saya jauh, jauh, jauh lebih tinggi jika saya tidak menginginkan jabatan tersebut."

Dua Pilihan untuk Infantino: Mundur atau Bertarung

Meski enggan maju sebagai penantang langsung, Čeferin menggarisbawahi bahwa posisi Infantino kini sangat rapuh. Ia menilai rencana komersialisasi Piala Dunia, yang disebutnya sebagai ancaman yang jauh lebih berbahaya ketimbang proyek European Super League, telah merusak kepercayaan komunitas sepak bola internasional.  

Menurut Čeferin, Infantino kini hanya memiliki dua opsi menjelang pemilihan. "Salah satu kemungkinannya adalah dia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki dukungan—bukan hanya dukungan politik dari pihak-pihak yang memiliki hak suara, melainkan juga dukungan politik dari komunitas sepak bola, suporter, pemain, mantan pemain, serta pelatih,” jelasnya.

Baca juga: Desak Infantino Mundur, UEFA, CONCACAF, dan AFC Siapkan Turnamen Tandingan

"Kemungkinan kedua adalah dia tetap maju dalam pemilihan bulan Maret; namun dalam skenario itu, menurut saya akan ada kandidat lain yang menjadi pesaingnya. Saya belum tahu siapa orangnya."

Gelombang Oposisi Lintas Benua

Tekanan terhadap Infantino tidak hanya datang dari Eropa. UEFA bersama konfederasi Asia (AFC) dan Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) dilaporkan terus mengonsolidasikan kekuatan, bahkan mempertimbangkan opsi mosi tidak percaya jelang kongres.  

Keretakan hubungan ini menandai krisis kepemimpinan terhebat bagi Infantino sejak menjabat. Dengan bursa calon penantang yang mulai bergerak di balik layar, lanskap politik sepak bola dunia kini berada di puncak ketegangan menyongsong pertarungan kekuasaan tahun depan.  

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!