Pelatih Bologna, Vincenzo Italiano, tampak terpukul dan kehilangan kata-kata setelah timnya hancur lebur di tangan AC Milan. Kekalahan telak 0-3 di kandang sendiri memicu pertanyaan besar bagi sang allenatore mengenai mentalitas skuadnya yang seolah tidak mampu menjaga standar performa dalam dua laga berturut-turut.

Berbicara kepada DAZN di Stadio Renato Dall'Ara, Italiano tidak menutupi rasa frustrasinya. Bologna, yang sempat menunjukkan tanda-tagi kebangkitan di laga sebelumnya, justru tampil tanpa taji dan melakukan rentetan kesalahan defensif yang fatal.

Masalah Mental dan Konsistensi

Analisis Italiano pasca-laga menyoroti ketidakmampuan anak asuhnya untuk mereplikasi level permainan yang ia harapkan secara konsisten.

Baca juga: Europa League: Bologna Bantai Maccabi Tel Aviv 3-0

“Analisis saya adalah kami sangat percaya diri. Kami bermain dengan baik, tetapi tampaknya kami tidak mampu menampilkan dua performa terbaik secara beruntun,” kata Italiano.

“Sayangnya, kami kebobolan gol setiap kali melakukan kesalahan kecil. Kami membayar mahal untuk setiap blunder. Pertahanan kami lemah dan mereka menyulitkan kami. Kami tetap bertahan dan mencoba menyulitkan mereka, tetapi kami tidak bisa bermain bagus terus menerus dan kami harus memperbaiki hal itu.”

Gol-gol dari Ruben Loftus-Cheek, penalti Christopher Nkunku, dan lesatan Adrien Rabiot disebut Italiano sebagai akibat dari kerapuhan di lini belakang yang terus berulang. Meski Bologna sempat mencoba menekan, mereka gagal memberikan ancaman berarti ke gawang Milan.

Di Bawah Tekanan

Kekalahan ini bukan sekadar hilangnya tiga poin. Ini adalah kekalahan ketiga beruntun Bologna di Serie A pada awal tahun 2026, sebuah catatan yang menempatkan posisi Italiano di bawah tekanan besar. 

Italiano mengakui adanya kesenjangan kualitas, namun ia menolak menjadikannya alasan utama.

Baca juga: Inter Milan Kembali ke Puncak: Lautaro Menginspirasi Kemenangan 3-1 atas Bologna

“Wajar jika setiap tim memiliki pemain kunci untuk memenangkan pertandingan. Pemain berkualitaslah yang membuat perbedaan dan memperbaiki keadaan ketika performa tim sedang buruk,” lanjutnya.

“Kami bermain tidak konsisten, menunjukkan performa naik turun, dan itu tidak bagus. Kami harus menemukan keseimbangan, dan itulah yang membuat perbedaan.”

Bologna kini terpuruk di posisi ke-10 klasemen, dan Italiano memiliki waktu sempit untuk membenahi penyakit inkonsistensi ini sebelum laga krusial perempat final Coppa Italia melawan Lazio pekan depan. Jika tidak, masa depannya di Dall'Ara mungkin akan segera berakhir.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!