Manajer interim Tottenham Hotspur, Igor Tudor, tidak lagi berbasa-basi mengenai situasi kritis yang menimpa klub London Utara tersebut. Dalam konferensi pers menjelang laga krusial akhir pekan ini melawan Fulham, pelatih asal Kroasia itu mengakui bahwa menjaga Spurs agar tidak terdegradasi dari Premier League adalah tantangan terbesar dalam karier kepelatihannya.

Setelah kekalahan telak 4-1 dalam Derby London Utara melawan Arsenal pada debutnya pekan lalu, Tudor kini dihadapkan pada kenyataan pahit, tim yang memenangi Liga Europa musim lalu itu kini terkapar di peringkat ke-16, hanya terpaut empat poin dari zona merah.

Perjuangan Berat di Zona Merah

Tudor, yang dikenal sebagai "pemadam kebakaran" spesialis di Serie A setelah menyelamatkan Udinese dan menstabilkan Lazio, mengaku skala krisis di Tottenham berada di level yang berbeda. 

Baca juga: Tudor Tuntut Spurs Buang Kebiasaan Buruk Usai Dipermalukan Arsenal

Cedera pemain pilar dan merosotnya mentalitas skuat menjadi tembok besar yang harus ia runtuhkan.

Ketika ditanya apakah menyelamatkan musim Spurs adalah pekerjaan penyelamatan terbesar yang pernah ia lakukan, pelatih asal Kroasia itu menjawab, "Mungkin, jika saya melihat, jika saya menyadari kesulitan yang ada, mungkin, ya."

Ia menambahkan bahwa partisipasi Spurs di babak 16 besar Liga Champions sebenarnya tidak ideal di tengah perjuangan hidup-mati di liga domestik, karena menguras energi fisik dan mental yang sangat terbatas.

“Masalahnya adalah kurangnya jumlah pemain, jumlah pemain yang kita miliki di tim, itulah masalahnya, karena jika Anda harus bermain setiap tiga hari dengan 10, 12, 13 pemain,” tambah mantan pelatih Juventus ini.

“Itulah masalahnya, bukan apakah kita bermain di Liga Champions atau tidak. Selain itu, ini bukan hanya tentang menghabiskan energi fisik, tetapi juga energi mental karena setiap pertandingan bagi kita di liga adalah final. Jadi, bukan situasi yang ideal, tetapi begitulah adanya.”

Melupakan Estetika Demi Poin

Bagi seorang pelatih yang biasanya menuntut permainan intensitas tinggi, Tudor kini bersikap pragmatis. Ia menegaskan bahwa gaya bermain yang indah menjadi prioritas kedua dibandingkan hasil akhir.

“Saya perlu cerdas untuk memahami lebih dalam momen ini dan cara meraih poin, bahkan tanpa melihat gaya saat ini,” jelasnya.

“Gaya harus ada di prioritas kedua, karena sekarang ini adalah soal hidup dan mati, jika saya bisa mengatakannya dengan cara itu, secara sportif, Anda bisa menggunakannya, ya.”

Baca juga: Siap Selamatkan Musim Tottenham, Igor Tudor: Tak Waktu Cari Alasan

Krisis cedera terus menghantui Spurs. Meski ada secercah harapan dengan kembalinya Pedro Porro dan Kevin Danso ke sesi latihan, Tudor masih kehilangan pilar-pilar kreatif seperti Dejan Kulusevski dan James Maddison. 

Sementara itu, kapten Cristian Romero masih absen akibat hukuman kartu, meninggalkan lubang besar di jantung pertahanan.

Menatap Laga di Craven Cottage

Tantangan berikutnya bagi Tudor adalah laga tandang melawan Fulham. Dengan West Ham dan Nottingham Forest yang mulai merangkak naik, tekanan bagi Spurs untuk memutus tren tanpa kemenangan menjadi sangat masif.

Tudor mungkin memiliki reputasi sebagai pelatih bertangan besi, namun di Tottenham, ia tidak hanya butuh disiplin, tapi juga keajaiban medis dan mental. Mengakui bahwa ini adalah tantangan terberatnya adalah langkah awal untuk menyadarkan para pemain bahwa status klub besar tidak akan menyelamatkan mereka dari jurang degradasi, hanya kerja keras dan poin yang bisa melakukannya.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!