Rodri Didenda £80.000 oleh FA Karena Komentar usai Ditahan Imbang Spurs
Gelandang andalan Manchester City, Rodri, resmi dijatuhi sanksi berupa denda sebesar £80.000 (sekitar Rp1,8 miliar) dan peringatan keras terkait perilakunya oleh Federasi Sepak Bola Inggris (FA) pada Senin waktu setempat. Hukuman ini merupakan buntut dari komentar kontroversial sang pemain kepada media usai hasil imbang 2-2 melawan Tottenham Hotspur di Premier League awal Februari lalu.
Pemain internasional Spanyol tersebut dinyatakan melanggar Peraturan FA E3.1 karena melontarkan pernyataan yang menyiratkan adanya bias dan mempertanyakan integritas wasit. Meskipun denda yang dijatuhkan cukup besar, Rodri beruntung karena terhindar dari sanksi larangan bertanding, sehingga ia tetap tersedia untuk laga-laga krusial City mendatang, termasuk final Piala Liga melawan Arsenal.
Frustrasi Akibat Gol Kontroversial Solanke
Pihak FA dalam pernyataan resminya mengonfirmasi bahwa peraih Ballon d'Or 2024 tersebut telah mengakui tuduhan bertindak tidak pantas selama wawancara pasca-pertandingan. Besaran denda tersebut dikabarkan sudah dikurangi dari angka awal sebesar £120.000 karena sikap kooperatif Rodri selama proses investigasi.
Baca juga: Man City Terpeleset di London Utara, Guardiola Berang Soal Gol Kontroversial Solanke
"Diduga gelandang tersebut bertindak tidak pantas selama wawancara media pasca pertandingan dengan membuat komentar yang menyiratkan bias dan/atau mempertanyakan integritas wasit dan/atau petugas pertandingan," kata FA dalam sebuah pernyataan.
Kemarahan Rodri dipicu oleh keputusan wasit Robert Jones yang mengesahkan gol kedua Tottenham yang dicetak oleh Dominic Solanke. Dalam proses terjadinya gol tersebut, para pemain City memprotes keras karena Solanke terlihat menendang kaki bek Marc Guehi sebelum bola masuk ke gawang. Meski telah ditinjau oleh VAR, wasit tetap pada keputusannya.
Sesaat setelah pertandingan berakhir, Rodri yang tampak emosional mengeluarkan pernyataan yang cukup tajam.
“Saya tahu kami terlalu sering menang dan orang-orang tidak ingin kami menang, tetapi wasit harus netral,” katanya. “Ini tidak adil karena kami bekerja sangat keras. Ketika semuanya selesai, Anda merasa frustrasi. Ini satu pertandingan, lalu pertandingan lain, dan pertandingan lain lagi – dan itu tidak mungkin.
“Jujur, saya tidak pernah berbicara tentang wasit, saya sangat menghormati pekerjaan mereka. Tetapi mereka harus memperhatikan hal-hal ini. Dia menendang kaki, itu sangat jelas. Ini terjadi dua, tiga pertandingan berturut-turut dan saya tidak tahu mengapa.”
Komentar yang menyebutkan bahwa wasit tidak netral inilah yang dianggap melewati batas oleh komisi regulasi FA, karena secara langsung menyerang imparsialitas korps berbaju hitam di Premier League.
Permohonan Maaf dan Penyesalan Rodri
Sebagai bagian dari proses disipliner, Rodri telah mengirimkan surat permohonan maaf kepada FA. Ia menegaskan bahwa komentarnya murni lahir dari rasa frustrasi setelah hasil pertandingan yang mengecewakan dan tidak bermaksud meragukan integritas petugas pertandingan secara personal.
Baca juga: Pep Guardiola Tetap Optimis Meski City Ditahan Imbang Forest: "Jalan Masih Panjang"
"Saya ingin memperjelas bahwa saya tidak bermaksud menyiratkan bias atau mempertanyakan integritas para petugas pertandingan," tulis Rodri. “Saya selalu memiliki, dan terus memiliki, rasa hormat yang besar kepada wasit dan pekerjaan sulit yang mereka lakukan dalam lingkungan yang serba cepat dan penuh tekanan.
"Komentar saya dibuat dalam momen frustrasi setelah hasil yang mengecewakan. Setelah merenung, saya menyadari bahwa kata-kata yang saya gunakan kurang tepat dan dapat diinterpretasikan dengan cara yang tidak saya maksudkan."
Dengan tuntasnya kasus ini, fokus Manchester City kini kembali ke lapangan hijau. Skuad asuhan Pep Guardiola saat ini berada di posisi kedua klasemen, tertinggal tujuh poin dari Arsenal dengan tabungan satu pertandingan lebih banyak. Kehadiran Rodri di lini tengah akan sangat vital bagi The Citizens dalam upaya mereka mengejar defisit poin dan mempertahankan gelar juara.