Penuh Kenangan dan Koneksi, Guardiola Ucapkan Selamat Tinggal untuk Man City
Pep Guardiola boleh saja meninggalkan Manchester City dengan gelimang 20 trofi mayor, termasuk enam gelar Premier League yang legendaris. Namun, sang arsitek asal Katalan itu menegaskan bahwa memori indah dan ikatan emosional yang akan mendefinisikan satu dekade kepemimpinannya di klub.
Pernyataan tersebut disampaikan Guardiola selepas laga pamungkas musim 2025–26, di mana City menelan kekalahan tipis 1-2 dari Aston Villa di Etihad Stadium. Hasil pertandingan itu sendiri sudah tidak lagi memengaruhi posisi City yang finis sebagai runner-up di belakang sang juara, Arsenal. Bagi Guardiola, peluit panjang malam itu menandai akhir dari sebuah era paling transformatif dalam sejarah sepak bola modern Inggris.
Penuh dengan Memori
Berbicara usai terakhir kalinya sebagai manajer City, pria berusia 55 tahun itu tampak sangat reflektif. Ia tidak menampik bahwa kesuksesan di lapangan adalah alasan mengapa ia bisa bertahan begitu lama, namun ia menolak jika warisannya hanya diukur dari angka-angka statistik.
Baca juga: Akhir Sebuah Era: Guardiola Resmi Tinggalkan Manchester City
“Saya sudah berada di sini selama 10 tahun dan tentu saja, beban, kenangan yang tersimpan di dalamnya. Itu lebih dari bagian mana pun,” kata Guardiola. “Ada 20 trofi? Tentu saja. Jika bukan 20 trofi, mereka pasti sudah memecat saya. Menang, menang, menang, maka akan terus berlanjut, berlanjut, berlanjut.
“Ketika Anda tidak di rumah dan melihat trofi di lemari, saya mengatakan betapa bahagianya saya karena saya memenangkan satu liga. Itu adalah kenangan, koneksi yang saya miliki.”
Guardiola menambahkan bahwa kebahagiaan sejati yang ia rasakan berasal dari keseharian yang ia lewati di Manchester.
“Saya tidak bisa menjelaskannya, tetapi koneksi yang saya miliki sejak hari pertama, dengan kota ini, tetapi terutama dengan staf dan para pemain,” tambahnya.
“Saya tahu kami terhubung. Saya yakin John dan Bernando akan mengatakan hal yang sama dan itulah yang akan saya bawa kembali ke Barcelona.”
Air Mata untuk Bernardo Silva dan John Stones
Suasana konferensi pers semakin mengharu biru ketika Guardiola menceritakan momen-momen perpisahan di ruang ganti, khususnya dengan dua pilar seniornya, kapten Bernardo Silva dan bek John Stones.
"Saya tidak menangis, tetapi ketika saya melihat Bernardo menangis, saya ikut menangis," tambah Guardiola. "Itu adalah momen yang sangat istimewa bersama Bernie. Dia berkata kepada saya, 'Saya sangat lelah, saya tidak bisa berlari.' Dan emosi sangat penting hari ini bersama John."
Baca juga: Guardiola Ucapkan Selamat kepada Arteta Usai Arsenal Segel Gelar Juara
Ikatan batin yang begitu kuat inilah yang menurut Guardiola membuat Manchester City mampu melakukan hal yang mustahil: memenangkan empat gelar Premier League berturut-turut antara tahun 2021 hingga 2024, serta merengkuh posisi Treble legendaris pada musim 2022–23.
Pesan Terakhir untuk Suporter City
Meskipun estafet kepelatihan di Etihad dikabarkan akan diteruskan oleh mantan bos Chelsea, Enzo Maresca, Guardiola tidak akan benar-benar pergi jauh. Ia telah berkomitmen untuk mengambil peran baru sebagai Duta Global dan penasihat teknis bagi City Football Group (CFG).
Sebelum meninggalkan podium untuk terakhir kalinya, Guardiola memberikan pesan penutup yang sederhana namun mendalam bagi seluruh suporter setia The Sky Blues.
"Bisnis ini sangat rumit," jelasnya. "Ketika Anda memenangkan pertandingan di Etihad, rayakan, nikmati, pergi ke pub di Manchester, minum bir yang enak. Kemudian tuntut para pemain untuk berjuang, tuntut para pemain untuk berlari... itulah cara terbaik kita bisa melangkah maju.
"Setiap langkah, setiap hal yang Anda lakukan, jangan menunggu untuk memenangkan Premier League untuk merasa bahagia, jangan menunggu untuk memenangkan Liga Champions untuk merasa bahagia. Nikmati prosesnya, dan para pemain, karena saya mengenal semua pemain di sini, mereka akan melakukannya, saya tahu."