Mikel Arteta mungkin sedang terlibat dalam pertarungan taktik paling sengit dalam kariernya, namun hal itu tidak menghentikannya untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada rival terbesarnya. 

Di tengah upaya Arsenal mempertahankan keunggulan enam poin dari kejaran Manchester City, Arteta secara terbuka melabeli Pep Guardiola sebagai pelatih terhebat yang pernah ada dalam sejarah sepak bola.

Pelatih Terbaik Sepanjang Masa

Pernyataan ini muncul menyusul kemenangan dramatis Manchester City di Anfield akhir pekan lalu, sebuah hasil yang membuktikan bahwa sang juara bertahan belum siap menyerahkan mahkota mereka. 

Meski Arsenal masih memegang kendali di puncak klasemen, Arteta sadar betul siapa yang sedang mengintai di belakangnya.

Baca juga: Guardiola Peringatkan Arsenal Usai Kemenangan Epik Man City di Anfield

“Saya belajar dari Pep sejak saya berusia 15 tahun, ketika kami pertama kali bertemu di Barcelona,” kata Arteta kepada TNT Sports ketika ditanya apa yang dia pelajari dari masa baktinya di bawah Guardiola.

“Kemudian saya mendapat hak istimewa untuk bekerja dengannya dan mengalami begitu banyak momen luar biasa bersama. Dia adalah seorang master, menurut saya yang terbaik dalam sejarah.”

“Dia telah merevolusi permainan dan cara orang memahami permainan. Menjadi bagian dari itu adalah pengalaman yang luar biasa, saya sangat, sangat bersyukur.”

Belajar dari Kekalahan

Hubungan antara keduanya memang unik. Arteta menghabiskan tiga tahun sebagai asisten Guardiola di Etihad Stadium sebelum mengambil tantangan di Emirates. 

Kini, sang murid sedang berusaha menggulingkan takhta sang guru dalam salah satu perburuan gelar Premier League paling menarik di era modern.

Meskipun memuji setinggi langit, Arteta menegaskan bahwa rasa hormatnya tidak akan mengurangi determinasi Arsenal untuk mengakhiri puasa gelar liga mereka.

Selain belajar dari sang guru, Arteta juga menegaskan pentingnya belajar dari pertandingan, terutama dari kekalahan. Dalam tiga musim terakhir, Arsenal selalu menjadi runner-up di Premier League, dua di antaranya kalah dari City, serta tahun lalu kalah dari Liverpool.

"Keadaan emosional yang Anda alami saat menganalisis kekalahan itu berat," jelasnya. "Profesi kita, saat menang atau kalah, itu benar-benar berbeda.”

Baca juga: Rice Sebut Arsenal Miliki Hasrat Ekstra Akhiri Puasa Gelar Enam Tahun

"Itu harus berasal dari apa yang harus Anda lakukan untuk lebih membantu tim. Naluri pertama terkadang hanya mengkritik para pemain. Saya pikir Anda harus melihat ke cermin terlebih dahulu: bagaimana Anda mempersiapkan pertandingan, apa pesan-pesan kuncinya dan apa yang terjadi dalam pertandingan.”

"Kemudian bersikaplah sangat jujur; para pemain juga harus melihat kerentanan itu, tetapi mereka harus tetap percaya diri.”

"Banyak pertandingan memberi Anda kesempatan untuk belajar. Setelah pertandingan, sudah terlambat. Apa yang diajarkan pertandingan kepada Anda di setiap momen? Dan Anda harus konsisten dalam hal itu."

Peta Persaingan

Saat ini, Arsenal memimpin klasemen dengan 56 poin, sementara City membuntuti dengan 50 poin. Pertemuan langsung kedua tim pada Maret mendatang diprediksi akan menjadi penentu siapa yang akan mengangkat trofi di bulan Mei.

Meskipun City meraih kemenangan emosional di Liverpool, Arsenal tetap menjadi favorit berkat konsistensi permainan mereka sepanjang musim 2025-26. 

Dengan pujian yang sudah dilontarkan, kini bola berada di kaki Arsenal untuk membuktikan bahwa meskipun Guardiola adalah yang terbaik dalam sejarah, musim ini adalah milik London Utara.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!