Manajer Chelsea, Liam Rosenior, tidak lagi bisa menahan amarahnya setelah menyaksikan timnya luluh lantak di tangan Brighton & Hove Albion dengan skor telak 3-0 di Amex Stadium pada Selasa malam (Rabu dini hari WIB). Rosenior menyebut laga tersebut sebagai "malam tersulit" sepanjang kariernya dan menolak untuk memberikan pembelaan apa pun bagi para pemainnya.

Kekalahan ini menandai titik nadir baru bagi The Blues yang kini telah menelan lima kekalahan beruntun di Premier League tanpa mencetak satu gol pun, sebuah catatan memalukan yang terakhir kali dialami klub pada tahun 1912.

Tak Bisa Lagi Bela Pemain

Selama beberapa pekan terakhir, Rosenior kerap pasang badan menghadapi kritik publik terhadap performa anak asuhnya. Namun, di Brighton, kesabaran pelatih berusia 41 tahun itu tampaknya sudah habis.

“Itu tidak dapat diterima dalam setiap aspek permainan. Tidak dapat diterima dalam hal sikap. Saya terus membela para pemain, tetapi penampilan malam ini tidak dapat diterima,” kata Rosenior.

Baca juga: Brighton Hancurkan Chelsea 3-0: Posisi The Blues Merosot di Tengah Krisis Gol

“Sesuatu perlu diubah secara drastis di sini, sekarang juga. Kita perlu bercermin. Saya tidak bisa terus membela beberapa hal yang kita lihat. Sikap umum, semangat, kurang, tekad, mungkin tiga atau empat dari 11 pemain, itu jauh dari cukup untuk klub ini. Saya tidak bisa berbohong, itu adalah penampilan yang tidak dapat diterima untuk klub ini.”

Rosenior menegaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada taktik, melainkan pada sikap dasar para pemain. 

“Tidak ada yang mendekati level yang diharapkan, bahkan taktik, tekel, duel, intensitas, semangat, energi, gairah semuanya kurang dan itulah alasan kami kalah,” tegasnya.

“Saya merasa mati rasa. Saya sangat marah. Saya selalu berbicara tentang apa yang saya lihat dan itu tidak dapat diterima. Gol-gol yang kami kebobolan tidak dapat diterima dan itu adalah sesuatu yang harus saya akui.”

Dominasi Total The Seagulls

Pertandingan dimulai dengan bencana bagi tim tamu ketika Ferdi Kadioglu mencetak gol pembuka untuk Brighton saat laga baru berjalan tiga menit melalui skema sepak pojok. Chelsea tampak limbung dan gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang laga.

Meski Rosenior mencoba melakukan perubahan dengan memasukkan Alejandro Garnacho di babak kedua, Brighton tetap tak terhentikan. Jack Hinshelwood menggandakan keunggulan pada menit ke-56 setelah memanfaatkan kelengahan barisan pertahanan Chelsea yang digalang mantan pemain Brighton, Moises Caicedo dan Robert Sanchez. Gol penutup dari pemain pengganti Danny Welbeck di masa injury time melengkapi penderitaan Chelsea malam itu.

Baca juga: Rosenior Akui Tanggung Jawab, Klaim Tetap Dapat Dukungan Penuh Pemilik Chelsea

“Dari segi profesionalisme, performanya kurang memuaskan. Ini benar-benar malam yang sangat sulit. Malam tersulit di klub megah ini sepanjang karier saya. Beberapa hal yang saya saksikan hari ini, saya tidak ingin melihatnya lagi,” ujar Rosenior yang juga mantan pelatih dan pemain Brighton.

Masa Depan di Ujung Tanduk

Hasil ini membuat Brighton melompati Chelsea ke posisi keenam klasemen, sementara Chelsea merosot ke peringkat ketujuh, terpaut tujuh poin dari zona Liga Champions dengan hanya empat laga tersisa. Suasana di tribun penonton pun mulai memanas, di mana ribuan suporter tandang Chelsea terdengar menyanyikan yel-yel yang mendesak pemecatan sang manajer.

Tekanan kini berada di pundak manajemen Chelsea dan Rosenior untuk memberikan respons instan. Harapan terakhir untuk menyelamatkan musim ini kini bergantung sepenuhnya pada laga semifinal FA Cup melawan Leeds United di Wembley pada hari Minggu mendatang.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!