Kebanyakan Rotasi, Guardiola Akui Kesalahan usai City Kalah Lawan Leverkusen
Manajer Manchester City, Pep Guardiola, mengambil tanggung jawab penuh atas kekalahan mengejutkan timnya 0-2 dari Bayer Leverkusen dalam lanjutan Liga Champions UEFA pada Selasa dini hari WIB. Kekalahan ini adalah yang kedua secara beruntun di semua kompetisi, dan Guardiola secara terbuka mengakui bahwa keputusannya untuk melakukan sepuluh perubahan pada starting XI adalah kesalahan yang sangat mahal.
Kekalahan di Etihad Stadium ini diakhiri dengan sorakan dari sebagian suporter, dan memutus rekor fantastis The Citizens yang tidak terkalahkan dalam 23 pertandingan kandang terakhir mereka di fase grup Liga Champions.
Terlalu Banyak Perubahan
Guardiola mengejutkan banyak pihak dengan mengistirahatkan hampir seluruh pilar utamanya, termasuk Erling Haaland, Phil Foden, dan Gianluigi Donnarumma.
Rotasi besar-besaran ini dilakukan untuk mengelola jadwal padat yang akan dihadapi City, termasuk pertandingan krusial melawan Real Madrid.
Baca juga: Grimaldo dan Schick Bawa Leverkusen Bungkam Man City 2-0
Namun, perjudian tersebut gagal total. "Saya bertanggung jawab penuh. Terlalu banyak perubahan," kata Guardiola. “Saya percaya bahwa musim yang panjang, (pertandingan) setiap dua hari, tiga hari, dua hari, tiga hari, semua orang harus terlibat. Tapi mungkin terlalu berlebihan melihat hasilnya.”
Guardiola menjelaskan bahwa skuad yang dirombak terlalu banyak tersebut gagal menemukan ritme dan kepercayaan diri. Ia mengindikasikan bahwa para pemain yang diberi kesempatan tampaknya bermain dengan rasa takut membuat kesalahan, bukannya bermain bebas dan agresif.
"Ini pertama kalinya dalam hidup saya melakukan itu [10 pergantian] dan itu terlalu berlebihan. Melihat hasilnya, mereka bermain untuk tidak membuat kesalahan, alih-alih melakukan apa yang harus kami lakukan. Mereka mencoba melakukannya. Mungkin dengan para pemain yang bermain secara reguler, mereka akan memiliki kepercayaan diri yang lebih."
Leverkusen Menghukum Ketiadaan Ritme
Bayer Leverkusen, yang dilatih oleh Kasper Hjulmand, memanfaatkan penuh ketiadaan kohesi dalam tim City.
Gol pertama tercipta di menit ke-23 melalui serangan balik cepat yang diselesaikan oleh Alejandro Grimaldo. Setelah City gagal memanfaatkan dominasi penguasaan bola di babak pertama, Leverkusen kembali menghukum mereka.
Baca juga: Gvardiol Berharap Keberuntungan Temani Man City Menuju Fase Gugur UCL
Patrik Schick mencetak gol kedua pada menit ke-53, hanya delapan menit setelah Guardiola mencoba memperbaiki situasi dengan memasukkan Foden dan Rayan Cherki.
Meskipun City menikmati mayoritas penguasaan bola, mereka kesulitan menciptakan peluang bersih. Kekalahan ini menyoroti bahwa, meskipun memiliki kedalaman skuad yang luar biasa, kohesi dan ritme tim utama tetap tak tergantikan dalam laga sekelas Liga Champions.
“Dan untuk ke depannya, untuk pertandingan-pertandingan berikutnya, kita akan menghadapi Fulham, Sunderland, Real Madrid, banyak pertandingan bersama. Erling tidak bisa bermain 95 menit penuh,” ujarnya.
"Saya merasa, setelah jeda (internasional), sekarang pertandingan setiap tiga hari, empat hari, hingga Maret, dan tidak ada manusia yang bisa bertahan selama itu."
Kini, dengan pertandingan menentukan melawan Real Madrid di depan mata, Guardiola harus segera menemukan kembali keseimbangan yang tepat antara rotasi dan kontinuitas tim inti untuk menghindari bencana lebih lanjut di Eropa.