Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Pelatih Liverpool, Andoni Iraola, tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya setelah timnya takluk 2-3 dari Fenerbahce dalam lanjutan Liga Champions 2026-27. Ia secara khusus menyoroti buruknya pertahanan The Reds dalam mengantisipasi situasi bola mati yang menjadi penyebab utama kekalahan di Istanbul.
Liverpool sebenarnya dua kali berada dalam posisi unggul melalui Trey Nyoni dan Alexander Isak. Namun, Fenerbahce selalu mampu memberikan respons sebelum akhirnya memastikan kemenangan lewat gol Vedat Muriqi pada menit ke-79.
Ketiga gol tuan rumah tercipta dari situasi bola mati, masing-masing melalui tendangan bebas Mason Greenwood, situasi sepak pojok yang berujung gol Archie Brown, serta lemparan ke dalam panjang yang diselesaikan Muriqi.
Dalam konferensi pers setelah pertandingan, Iraola menegaskan bahwa kegagalan mengantisipasi bola mati menjadi alasan utama Liverpool kehilangan tiga poin. Ia mengakui timnya sudah mengetahui bahwa situasi tersebut merupakan salah satu kekuatan Fenerbahce.
"Alasan utama kekalahan ini adalah kami kebobolan tiga gol dari situasi bola mati. Sebelumnya, kami tampil sangat baik dalam mengantisipasi situasi seperti ini di liga. Kami tahu itu merupakan salah satu kekuatan Fenerbahce, tetapi kami kebobolan melalui tendangan bebas, sepak pojok, bahkan lemparan ke dalam panjang," ujar Iraola.
Baca juga: Dua Kali Kehilangan Keunggulan, Liverpool Tumbang 2-3 dari Fenerbahce
Pelatih asal Spanyol tersebut juga menyebut bahwa gol-gol yang bersarang di gawang Liverpool seharusnya bisa dihindari. Menurutnya, timnya sudah memiliki beberapa periode permainan yang bagus dan mampu mengendalikan pertandingan, tetapi kesalahan dalam bertahan membuat keuntungan tersebut tidak berarti.
"Mereka adalah gol-gol murah dan kacau. Itu terjadi dari tendangan bebas; jaraknya pun cukup jauh. Bola melewati pagar betis—itu adalah kesalahan-kesalahan yang bisa merugikan Anda. Gol terakhir... berawal dari lemparan jauh; fase pertamanya adalah penguasaan bola, tetapi setelah bola dikirim jauh ke depan, Muriqi berhasil memenangkannya,” lanjutnya.
Iraola juga menyoroti kesulitan komunikasi di antara para pemain Liverpool akibat atmosfer luar biasa di stadion Fenerbahce. Ia mengaku bahkan kesulitan menyampaikan instruksi kepada anak asuhnya dari pinggir lapangan.
Momen tersebut terlihat dalam proses terciptanya gol kedua Fenerbahce. Setelah situasi sepak pojok, Cody Gakpo berusaha menghalau bola, tetapi sentuhannya justru mengubah arah bola sehingga Alisson Becker tidak mampu menjangkaunya. Archie Brown kemudian memanfaatkan situasi tersebut untuk mencetak gol dari jarak dekat.
"Di stadion itu, hampir tidak mungkin untuk berkomunikasi karena suasananya sangat bising. Bahkan bagi saya, memberikan instruksi saja sangat sulit. Saya rasa komunikasi antara Ali dan Cody juga mengalami kesulitan," jelasnya.
Meski demikian, Iraola tidak menjadikan atmosfer stadion sebagai alasan utama kekalahan Liverpool. Ia tetap menegaskan bahwa timnya seharusnya mampu mengantisipasi situasi tersebut dengan lebih baik.
Baca juga: Iraola Ancam Minta Pemain Liverpool Diving Usai Kontroversi Lawan Arsenal
Liverpool melakukan lima perubahan dalam susunan pemain utama untuk pertandingan di Istanbul. Salah satu keputusan yang cukup menarik adalah menempatkan Bradley Barcola sebagai penyerang tengah, sementara Isak baru dimainkan pada babak kedua.
Namun, Iraola menolak anggapan bahwa rotasi tersebut menjadi penyebab kekalahan. Ia menjelaskan bahwa perubahan susunan pemain merupakan bagian dari strategi untuk menghadapi jadwal padat sepanjang musim.
"Kami sudah melakukan hal ini sepanjang musim, bukan hanya hari ini. Ketika harus bermain di tengah pekan, kami sering melakukan empat, lima, enam, bahkan tujuh perubahan. Dengan jadwal seperti ini, mustahil untuk selalu menggunakan susunan pemain yang sama," katanya.
Iraola juga menegaskan bahwa dirinya tetap percaya terhadap kualitas skuad Liverpool. Menurutnya, beberapa pemain yang mendapatkan kesempatan tampil sejak awal telah menunjukkan performa bagus, sehingga perhatian utama seharusnya tertuju pada kesalahan pertahanan yang menyebabkan kekalahan.
Kekalahan dari Fenerbahce menjadi hasil negatif kedua secara beruntun bagi Liverpool setelah sebelumnya takluk dari Arsenal di Premier League. Catatan sempurna mereka di Liga Champions juga berakhir setelah tiga kemenangan beruntun pada awal fase liga.
Meski demikian, Iraola masih melihat sejumlah aspek positif dari penampilan timnya, terutama kemampuan menciptakan peluang dan dua kali mengambil keunggulan. Tantangan berikutnya adalah memperbaiki organisasi pertahanan, khususnya dalam situasi bola mati, agar kesalahan serupa tidak kembali terulang dalam pertandingan mendatang.