Cambiaso Incar Kemenangan Pertama Bersama Juventus, Soroti Tantangan Main di Suhu Dingin
Tekanan di pundak Juventus semakin besar menjelang pertandingan tandang Liga Champions UEFA melawan Bodo/Glimt di Aspmyra Stadion. Bek sayap Bianconeri, Andrea Cambiaso, secara terus terang mengakui bahwa timnya tidak punya banyak ruang untuk kesalahan dan menekankan betapa sulitnya ujian ini akibat kondisi lapangan dan cuaca di Norwegia Utara.
Juventus, yang ditangani oleh pelatih Luciano Spalletti, hingga kini masih mencari kemenangan pertama mereka di Fase Liga Champions musim ini. Dengan hanya mengoleksi tiga poin dari empat pertandingan, Si Nyonya Tua saat ini berada di peringkat ke-26, hanya beberapa tingkat di atas lawan mereka, Bodo/Glimt (peringkat ke-29). Kebutuhan akan poin penuh untuk masuk ke zona aman 24 besar menjadi mutlak.
Lawan Bukan Hanya Tim, Tapi Lapangan dan Udara
Dalam konferensi persnya, Cambiaso mendukung pernyataan pelatih Spalletti mengenai kerugian yang dihadapi timnya. Ia menyoroti dua faktor utama yang membuat kunjungan ke markas Glimt selalu menjadi momok bagi tim Eropa dari liga yang lebih besar: rumput sintetis dan suhu beku.
“Kami tahu bahwa tidak akan ada banyak ruang untuk kesalahan melawan Bodo/Glimt. Kami butuh poin besok, dan kami sadar ini akan menjadi pertandingan yang penting,” ujar Cambiaso.
Baca juga: Spalletti Sebut Lapangan Sintetis dan Suhu Dingin Jadi Tantangan Juventus Lawan Bodo/Glimt
Cambiaso kemudian menjelaskan mengapa kondisi tersebut akan menjadi pembeda terbesar. Ia mengaku tidak terbiasa bermain di lapangan artifisial, sebuah lingkungan yang dikuasai oleh tim tuan rumah.
“Perbedaannya terletak pada fisik, karena suhunya akan mencapai -6°C, itu memengaruhi pernapasan Anda, kekuatan kaki Anda. Kami harus mengganti sepatu. Saya belum pernah bermain di lapangan sintetis sejak usia 17 tahun, dan itu akan menjadi perbedaan terbesar,” ujar Cambiaso.
Permukaan sintetis diyakini akan mengubah kecepatan dan alur bola secara signifikan, menghilangkan keunggulan sentuhan dan teknik halus yang dimiliki para pemain bintang Juventus, sekaligus memberi Bodo/Glimt keuntungan karena terbiasa dengan karakteristik lapangan mereka.
Kekecewaan Florence Jadi Pelajaran
Cambiaso juga tak menampik bahwa Juventus datang ke Norwegia dengan membawa rasa kecewa setelah penampilan domestik terakhir. Kegagalan meraih kemenangan dalam tiga pertandingan terakhir Serie A, termasuk hasil imbang 1-1 yang dianggap mengecewakan melawan Fiorentina, telah membuat tim dalam sorotan tajam.
Baca juga: Yakin dengan Kualitas Juventus, Spalletti Optimis dengan Kebangkitan Bianconeri
“Kami kecewa di Florence karena kami bermain jelek, dan kami membahasnya dengan pelatih,” aku Cambiaso. “Pelatih memberikan pidato bagus, dia bicara soal tugas yang membebani, tapi keinginan kuat yang membebaskan.”
Ucapan ini menunjukkan bahwa Cambiaso dan tim telah mengambil pelajaran. Mereka tahu bahwa di tengah tantangan lingkungan ekstrem dan permukaan lapangan yang asing, hanya tekad dan mentalitas yang tangguh yang bisa menyelamatkan harapan mereka di kompetisi ini.