Kasih Debut ke Anak Sendiri di Feyenoord, Van Persie Tegaskan Bukan Nepotisme
Momen haru bercampur kekalahan mewarnai Stadio Feijenoord pada Jumat (28/11). Di tengah hasil mengecewakan 1-3 yang diderita Feyenoord dari Celtic di UEFA Europa League, sorotan tertuju pada debut profesional Shaqueel van Persie, yang diberi kesempatan oleh ayahnya sekaligus manajer tim, Robin van Persie.
Setelah pertandingan, Robin van Persie dengan tegas membela keputusannya memasukkan putranya yang berusia 19 tahun itu, bersikeras bahwa Shaqueel mendapatkan tempatnya berkat kerja keras dan bukan karena sentimen keluarga.
Debut di Tengah Kekalahan Krusial
Shaqueel, penyerang yang telah menimba ilmu di akademi Manchester City dan kemudian mengikuti jejak ayahnya di Feyenoord sejak 2017, masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-81 saat skor masih 2-1 untuk keunggulan Celtic. Tujuannya jelas: Feyenoord, yang tengah mengejar gol penyama kedudukan, membutuhkan sosok penyerang yang dapat memberikan dampak instan.
Namun, harapan itu sirna seketika. Hanya semenit setelah Shaqueel menginjak lapangan, Celtic justru mencetak gol ketiga melalui Benjamin Nygren, yang memastikan kemenangan 3-1 bagi tim Skotlandia tersebut.
Baca juga: Aston Villa Taklukkan Feyenoord 2-0 di De Kuip
Gol-gol kemenangan Celtic dicetak oleh Yang Hyun-jun dan Reo Hatate yang membalikkan keunggulan awal Feyenoord melalui Ayase Ueda pada menit ke-11
"Keputusan Pelatih, Bukan Ayah"
Berbicara setelah pertandingan, Robin van Persie langsung menghadapi pertanyaan mengenai keputusannya menurunkan sang putra.
Mantan striker Arsenal dan Manchester United itu tak gentar, menegaskan bahwa keputusannya adalah murni profesional.
"Saya membuat keputusan itu sebagai pelatih, bukan sebagai ayah. Tim sedang membutuhkan gol, dan Shaqueel adalah pemain yang mampu mencetak gol dari berbagai sudut. Itulah alasan saya memainkannya," jelas Robin van Persie.
Ia menambahkan, terlepas dari rasa bangga seorang ayah yang melihat putranya melakukan debut, fokus utamanya tetap pada tugasnya sebagai manajer.
Baca juga: Mourinho Bawa Fenerbahce Comeback 5-2 Lawan Feyenoord
"Dari sudut pandang seorang ayah, tentu saja itu adalah momen yang istimewa. Tetapi saat itu, saya tidak terlalu sibuk menikmati momen tersebut. Saya melakukan pekerjaan saya, sama seperti Shaqueel. Saya melihatnya sebagai salah satu pemain di skuad ini."
Ketika ditanya apakah sulit memisahkan perannya sebagai pelatih dan ayah, Van Persie menjelaskan, "Tidak, sama sekali tidak. Cara saya memandang Shaqueel hanyalah sebagai salah satu pemain. Ini adalah kesepakatan kami berdua beberapa tahun lalu ketika kami sudah bekerja sama."
Potensi yang Terlihat
Meski waktu bermainnya singkat dan tidak sempat memberikan dampak signifikan—ia tercatat hanya melepaskan satu tembakan di kotak penalti—Shaqueel telah menunjukkan performa menjanjikan di level junior Feyenoord dan tim nasional Belanda U-17.
Debut ini adalah puncak dari proses panjang yang telah ia jalani. Shaqueel, yang baru-baru ini juga masuk dalam skuad Eredivisie untuk pertama kalinya, membuktikan bahwa ia telah memenuhi standar yang sangat tinggi yang ditetapkan oleh ayahnya.
Bagi Feyenoord, kekalahan ini membuat mereka berada di posisi sulit di fase liga dengan hanya tiga poin dari lima pertandingan, sementara Celtic naik ke zona play-off. Namun, bagi keluarga Van Persie, malam ini akan selalu dikenang sebagai tonggak sejarah baru, terlepas dari hasil di papan skor.