Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Di era sepak bola modern dengan nomor punggung yang semakin komersial—di mana seorang gelandang bertahan bisa mengenakan nomor 2, pemain sayap memilih nomor 88, dan penyerang menggunakan nomor 40-an—ada satu angka yang tetap memancarkan aura sakral. Kostum nomor 10 bukan sekadar helai kain; ia adalah jubah keagungan sepak bola, sebuah warisan berat yang hanya dikenakan oleh para pemimpi, arsitek permainan, dan maestro terbaik di lapangan hijau.
Dari Pelé hingga Diego Maradona, Zinedine Zidane hingga Lionel Messi, nomor sepuluh telah bertransformasi dari sekadar penanda posisi menjadi simbol keajaiban murni. Namun, kisah bagaimana dua angka sederhana ini menjadi seragam paling diidamkan di dunia olahraga merupakan perpaduan antara evolusi taktis, bakat monumental, dan sebuah ketidaksengajaan administratif yang bersejarah.
Jauh sebelum bintang-bintang dunia mendefinisikan nomor punggung, sepak bola beroperasi di bawah sistem posisi yang ketat sejak tahun 1920-an. Nomor 1 hingga 11 dibagikan berdasarkan posisi starter.
Dalam formasi klasik pertengahan abad ke-20, nomor 10 dialokasikan untuk penyerang dalam kiri (inside-left), seorang pemain serang yang berdiri sedikit di belakang penyerang tengah dengan tugas menghubungkan lini tengah dan lini depan.
Baca juga: Sejarah Diciptakannya Posisi Sweeper atau Libero
Namun, lonjakan angka ini menjadi ikon global dipicu oleh sebuah kekeliruan administratif menjelang Piala Dunia 1958 di Swedia.
Federasi Sepak Bola Brasil lupa menyerahkan daftar nomor punggung resmi skuad mereka kepada FIFA. Pihak FIFA akhirnya membagikan nomor 1 hingga 22 secara acak kepada para pemain Brasil. Kiper Gilmar justru mendapatkan nomor 3, sementara seorang remaja berusia 17 tahun bernama Edson Arantes do Nascimento, atau yang akrab disapa Pelé, diberi nomor 10.
Pelé tampil menghentak turnamen tersebut, mencetak enam gol, termasuk gol spektakuler dengan melambungkan bola melewati bek di partai final, untuk membawa Brasil meraih gelar Piala Dunia pertama mereka.
Selama 12 tahun berikutnya, seiring Pelé mengangkat tiga trofi Piala Dunia, ia mengangkat derajat nomor 10 dari sekadar nomor seragam biasa menjadi sinonim keagungan mutlak.
Seiring berkembangnya taktik sepak bola pada era 1970-an dan 1980-an, nomor 10 mengukuhkan posisinya sebagai episentrum ekspresi kreatif. Baik dijuluki sebagai trequartista di Italia, enganche di Argentina, maupun maestro di Prancis, pemain bernomor punggung sepuluh diberikan kebebasan artistik tertinggi di lapangan.
Di posisi inilah pertandingan ditentukan bukan lewat benturan fisik, melainkan melalui visi bertanding, kesadaran ruang, dan umpan-umpan mematikan.
Baca juga: Istilah Panenka Penalty dan Pemain Pertama yang Menggunakannya
Michel Platini mengasah peran ini dengan presisi luar biasa untuk Prancis dan Juventus pada 1980-an. Kemudian lahirlah Diego Maradona. Pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, Maradona tidak sekadar mengenakan nomor 10; ia mengubahnya menjadi alat perlawanan individu, memimpin Argentina menuju puncak kejayaan lewat kelincahan dribel dan kejeniusan yang tiada tanding.
Bersama Maradona, nomor 10 juga mewakili tanggung jawab besar di tengah tekanan dahsyat.
Memasuki milenium baru, mengenakan nomor 10 berarti memikul harapan seluruh klub atau negara. Zinedine Zidane membawanya menuju puncak dunia bersama Prancis pada 1998. Ronaldinho menghadirkan kegembiraan murni pada nomor ini di Barcelona lewat tarian samba yang memukau.
Ketika Lionel Messi mewarisi nomor tersebut untuk klub dan negaranya, ia membawa warisan ini ke tingkat yang belum pernah terjangkau sebelumnya.
Puncaknya pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Messi memberikan babak penutup modern yang sempurna bagi legenda nomor 10.
Baca juga: Asal Usul Sebutan El Clasico, Derby della Madonnina, dan El Trafico
Saat ini, taktik high-pressing dan sistem 4-3-3 modern telah menggeser peran playmaker tradisional. Namun, aura dari nomor ini tetap tak tersentuh. Ketika seorang pemain diserahi nomor 10, pesan dari manajer sangatlah jelas: kamulah yang bertugas menciptakan keajaiban.
Nomor 10 tetap menjadi simbol paling romantis dalam olahraga, sebuah pengingat bahwa meskipun sebelas pemain turun ke lapangan, sering kali satu pemain dengan angka sepuluh di punggungnyalah yang mengukir sejarah.