Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Penalti dari jarak sebelas meter selalu menjadi ujian psikologis tertinggi dalam sepak bola. Di bawah sorotan jutaan pasang mata, ruang sempit di antara tiang gawang mampu menentukan nasib sebuah negara, mengubah takdir sang bintang, serta mengukir sejarah yang tak pernah terhapus.
Berikut sepuluh momen penalti paling ikonik yang secara dramatis mengubah jalan sejarah laga-laga terbesar dunia.
Lahirnya Keberanian Ternekat dalam Sejarah Euro (1976)
Pada final Piala Eropa 1976 antara Cekoslowakia dan Jerman Barat, Antonín Panenka melangkah maju untuk mengeksekusi penalti penentu. Menghadapi kiper legendaris Sepp Maier, Panenka secara mengejutkan melambungkan bola secara perlahan tepat ke tengah gawang.
Keberanian luar biasa ini tidak hanya membawa Cekoslowakia meraih gelar juara, tetapi juga melahirkan teknik tendangan paling tersohor dalam sejarah sepak bola.
Tragedi Kuncir Kuda di Pasadena (1994)
Roberto Baggio telah menggendong Italia sepanjang Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Namun, dalam adu penalti partai final melawan Brasil di Rose Bowl, tembakan pemain berjuluk Il Divin Codino ini melambung jauh di atas mistar gawang Taffarel.
Baca juga: Bagaimana Media Massa Memengaruhi Persepsi Publik Terhadap Penalti Kontroversial
Gambar Baggio berdiri menunduk lunglai di tengah selebrasi pemain Brasil menjadi salah satu potret paling memilukan dan ikonik sepanjang masa.
Gertakan Nekat di Partai Puncak (2006)
Menghadapi Gianluigi Buffon pada final Piala Dunia 2006, Zinedine Zidane melakukan aksi nekat dengan mengeksekusi penalti teknik Panenka. Bola membentur mistar gawang sebelum memantul melewati garis gawang Italia.
Meski laga ini berakhir tragis lewat kartu merah Zidane, penalti dingin di awal pertandingan tersebut menegaskan kejeniusan dan kenekatan sang maestro Prancis.
Tangisan Afrika di Johannesburg (2010)
Perempat final Piala Dunia 2010 menghadirkan drama paling memilukan bagi benua Afrika. Setelah Luis Suárez sengaja menahan bola dengan tangan di garis gawang pada menit ke-120, Ghana mendapatkan hadiah penalti.
Asamoah Gyan melangkah maju membawa harapan seluruh benua untuk menjadi tim Afrika pertama di semifinal, namun eksekusinya membentur mistar. Uruguay akhirnya menang lewat adu penalti.
Terpeleset di Bawah Hujan Moskow (2008)
Chelsea berada di ambang kejayaan Liga Champions pertama mereka pada final 2008 melawan Manchester United. Kapten John Terry tinggal membutuhkan satu gol dalam adu penalti untuk memastikan trofi.
Baca juga: Aturan Handball Terbaru FIFA yang Memicu Penalti Kontroversial
Namun, saat menendang, kaki tumpuannya terpeleset di atas rumput basah Stadion Luzhniki, membuat bola membentur tiang. Manchester United memanfaatkan momentum tersebut dan keluar sebagai juara.
Penyelamatan Petr Čech di Allianz Arena (2012)
Bermain di kandang sendiri pada final Liga Champions 2012, Bayern Munich mendapat hadiah penalti pada babak perpanjangan waktu melawan Chelsea. Arjen Robben maju sebagai algojo untuk mengunci kemenangan.
Namun, kiper Petr Čech secara gemilang membaca arah bola dan menepisnya. Kegagalan ini membakar semangat Chelsea hingga akhirnya memenangkan laga lewat adu penalti.
Luka Nasional Inggris di Wembley (1996)
Pada semifinal Euro 1996 di rumah sendiri, Inggris berhadapan dengan rival abadi mereka, Jerman. Memasuki penalti sudden-death, eksekusi Gareth Southgate berhasil ditahan oleh Andreas Köpke.
Kegagalan ini menghentikan langkah Three Lions dan melahirkan trauma adu penalti yang membayangi tim nasional Inggris selama berpuluh-puluh tahun.
Tembok Seveso dari Steaua București (1986)
Final Piala Champions 1986 antara Steaua București dan Barcelona menyajikan pertunjukan kiper paling ajaib. Dalam adu penalti, kiper Steaua, Helmuth Duckadam, melakukan hal yang mustahil dengan menepis empat eksekusi penalti berturut-turut dari para pemain Barcelona. Ketangguhannya membawa klub Rumania tersebut mengukir sejarah sebagai jawara Eropa.
Baca juga: Analisis Penalti Fabio Grosso Melawan Australia di Piala Dunia 2006
Tarian Dudek dalam Keajaiban Istanbul (2005)
Setelah AC Milan membuang keunggulan 3-0 di final Liga Champions 2005 melawan Liverpool, laga berlanjut ke adu penalti. Kiper Liverpool, Jerzy Dudek, mengintimidasi para penendang dengan gerakan Dudek Dance di garis gawang.
Puncaknya, Dudek menepis tembakan Andriy Shevchenko untuk menyempurnakan kebangkitan paling spektakuler dalam sejarah sepak bola Eropa.
Tembakan Penentu Takdir Lionel Messi (2022)
Setelah final Piala Dunia paling mendebarkan sepanjang masa antara Argentina dan Prancis berakhir 3-3 di Qatar, Gonzalo Montiel maju sebagai penendang keempat Argentina. Dengan tenang, Montiel memperdaya Hugo Lloris, memastikan Argentina meraih trofi World Cup ketiga dan menyempurnakan mahkota keabadian bagi karier Lionel Messi.