Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Rodri menyentuh bola dengan tangannya di dalam kotak penalti. Wasit tidak meniup peluit. VAR tidak melakukan peninjauan. Belgia tersingkir dari Piala Dunia, dan jutaan penggemar di seluruh dunia langsung bertanya: mengapa itu bukan penalti?
Jawabannya, seperti biasa dalam kasus handball, jauh lebih rumit dari sekadar apa yang terlihat di layar televisi.
Kontroversi ini pecah di menit ke-62 dari perempat final yang tegang dan cepat, dengan skor masih imbang 1-1. Belgia mengalirkan umpan ke kotak penalti ke arah Romelu Lukaku, namun bek tengah Spanyol, Aymeric Laporte, berhasil menyapu bola dengan sundulan.
Baca juga: Analisis Penalti Fabio Grosso Melawan Australia di Piala Dunia 2006
Defleksi tersebut membuat bola langsung mengenai tangan Rodri saat ia sedang melompat untuk mengawal Lukaku di dalam kotak penalti. Para pemain Belgia langsung memprotes meminta penalti, namun wasit Michael Oliver mengabaikan protes tersebut tanpa menghentikan pertandingan, dan yang lebih krusial, VAR sama sekali tak menyarankan tinjauan ulang.
Spanyol akhirnya memenangkan pertandingan 2-1 setelah gol pembuka Fabian Ruiz, gol penyeimbang Charles De Ketelaere, dan tendangan penentu Merino di menit ke-88 yang membawa La Roja melaju ke semifinal. Namun bukan hasil akhir pertandingan, melainkan keputusan-yang-tidak-diambil itulah yang mendominasi perbincangan selama berhari-hari setelahnya.
Meski memicu amarah dari suporter Belgia maupun pihak netral, aturan sepak bola sebenarnya cukup jelas untuk skenario spesifik ini. Seperti dijelaskan oleh para analis perwasitan yang membedah insiden tersebut, aturan handball IFAB menyatakan bahwa tak ada pelanggaran yang terjadi jika bola mengenai tangan atau lengan seorang pemain langsung dari sundulan kepala atau tubuh rekan setimnya sendiri, dan dalam kasus ini, bola memang datang dari sundulan Laporte sebelum mengenai lengan Rodri.
Baca juga: Mengapa Keputusan Penalti Sering Dianggap Kontroversial Meskipun Ada Aturan Jelas
Faktor posisi alami lengan juga turut berperan. Para analis menunjukkan bahwa Rodri sedang melompat saat kontak terjadi, sebuah skenario di mana mengangkat lengan untuk menjaga keseimbangan dianggap sebagai gerakan tubuh alami, bukan upaya menghalangi bola, dan perubahan arah bola yang mendadak akibat sundulan Laporte membuatnya nyaris tak punya waktu untuk bereaksi.
Bahkan suara-suara yang biasanya lebih skeptis dalam sepak bola pun sebagian besar sepakat begitu aturan tersebut diterapkan secara harfiah. Mantan kepala PGMOL sekaligus mantan wasit FIFA, Keith Hackett, secara terbuka mendukung keputusan Oliver, menegaskan bahwa itu bukan tindakan yang disengaja mengingat bola datang dari sundulan rekan setim terlebih dahulu.
Ini bukan pertama kalinya aturan handball dalam sepak bola menentukan jalan cerita sebuah turnamen besar, dan kemungkinan besar bukan yang terakhir. Aturan ini telah berulang kali direvisi selama satu dekade terakhir seiring IFAB berusaha menyeimbangkan konsistensi dengan kenyataan bahwa setiap insiden terlihat berbeda dalam hitungan detik yang sesungguhnya.
Bek kiri Chelsea, Marc Cucurella, pernah berada di pusat badai yang nyaris identik di Euro 2024, ketika sebuah handball di dalam kotak penaltinya sendiri melawan Jerman tak diganjar hukuman; insiden tersebut menjadi studi kasus yang begitu mendefinisikan hingga UEFA kemudian menggunakannya langsung dalam sesi pelatihan wasit, memberi tahu Cucurella bahwa situasinya menjadi salah satu alasan mengapa aturan tersebut akhirnya diamandemen.
Baca juga: Peran VAR dalam Mengurangi atau Menambah Penalti Kontroversial
Rumusan aturan saat ini masih meminta wasit untuk menimbang beberapa faktor yang saling tumpang tindih hanya dalam hitungan detik: apakah lengan membuat tubuh pemain tampak tak wajar lebih besar, apakah kontak terjadi langsung dari rekan setim atau lawan, dan apakah gol atau peluang mencetak gol yang jelas langsung mengikuti setelahnya.
Ini adalah kerangka aturan yang dirancang untuk kejelasan, namun tetap menyisakan ruang besar bagi keputusan yang bersifat subjektif, ketegangan yang persis meledak di Los Angeles.
Kebenaran secara teknis ternyata tak cukup untuk meredam perdebatan di mata publik. Meski penjelasan aturan yang rinci beredar luas setelahnya, keputusan perwasitan tersebut tetap memicu perdebatan sengit di media sosial selama beberapa hari berikutnya.
Bagi generasi emas Belgia yang kini kemungkinan besar menghadapi akhir dari sebuah siklus turnamen internasional besar tanpa trofi, penjelasan bahwa lengan Rodri "berada dalam posisi alami" hanya memberi sedikit penghiburan.
Baca juga: Daftar Penalti Sepak Bola yang Paling Diperdebatkan dalam Sejarah
Apa yang sebenarnya diungkap oleh insiden Rodri ini bukanlah kelemahan dalam perwasitan, melainkan rancangan mendasar dari aturan handball itu sendiri, sebuah aturan yang berusaha mengatur niat, hukum fisika, dan refleks sepersekian detik secara bersamaan.
FIFA dan IFAB kemungkinan besar akan menunjuk momen-momen seperti ini sebagai bukti bahwa aturan tersebut bekerja persis seperti yang diharapkan. Sementara di sisi lain, para penggemar Belgia hanya akan mengingat tayangan ulangnya: sebuah bola, sebuah lengan, dan mimpi Piala Dunia yang berakhir tanpa satu pun bunyi peluit.