Gejolak hebat melanda sepak bola Afrika setelah Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) secara resmi menyatakan "perang" hukum dan moral terhadap Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). Langkah ini diambil sebagai respons atas keputusan kontroversial CAF yang mencabut gelar juara Piala Afrika (AFCON) 2025 milik Senegal dan memberikannya kepada Maroko.

Presiden FSF, Abdoulaye Fall, pada Kamis (26/3) menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam menghadapi apa yang ia sebut sebagai "perampokan administratif terbesar dalam sejarah olahraga."

Akar Krisis

Kemarahan Senegal bermula dari keputusan komite banding CAF pada 17 Maret lalu. Komite tersebut membatalkan kemenangan 1-0 Senegal atas Maroko di final yang berlangsung 18 Januari 2026 di Rabat. CAF menyatakan Senegal kalah diskualifikasi dengan skor resmi 3-0 untuk Maroko.

Sanksi berat ini dijatuhkan karena para pemain Senegal sempat meninggalkan lapangan selama kurang lebih 15 menit sebagai bentuk protes atas penalti yang diberikan wasit kepada Maroko di masa injury time. 

Baca juga: Senegal Resmi Gugat CAF ke CAS Terkait Pencopotan Gelar AFCON

Meskipun para pemain akhirnya kembali ke lapangan dan memenangkan laga lewat babak perpanjangan waktu, CAF menilai aksi mogok tersebut melanggar aturan turnamen yang mewajibkan tim untuk tetap bertanding hingga akhir tanpa interupsi sepihak.

Peperangan Menuju Lausanne

Abdoulaye Fall menyatakan bahwa Senegal telah resmi mendaftarkan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Lausanne, Swiss. 

Didampingi tim hukum internasional yang dipimpin oleh pengacara kondang Juan de Dios Crespo Perez, FSF menuntut agar integritas hasil pertandingan di lapangan tetap dihormati.

“Menghadapi perampokan administratif ini, FSF menolak untuk menyerah. Kami akan berjuang dalam sebuah perjuangan moral dan hukum,” kata Fall.

Tim hukum Senegal berargumen bahwa keputusan wasit di lapangan bersifat final dan tidak bisa dianulir oleh keputusan administratif dua bulan setelah laga usai. Mereka juga menyoroti fakta bahwa meski sempat terjadi kekacauan, pertandingan tersebut tetap dilanjutkan hingga tuntas atas persetujuan wasit dan delegasi resmi pertandingan.

Tuduhan Korupsi dan Campur Tangan Pemerintah

Skandal ini tidak hanya berhenti di meja hijau sepak bola. Pemerintah Senegal, melalui juru bicara Marie Rose Khady Fatou Faye, juga telah turun tangan. 

Baca juga: AFCON: Gelar Senegal Dicabut, Maroko Resmi Dinobatkan Sebagai Juara

Dakar secara resmi menyerukan penyelidikan internasional independen atas dugaan korupsi di dalam tubuh kepengurusan CAF.

“Senegal dengan tegas menolak upaya campur tangan yang tidak beralasan ini. Senegal menyerukan pembukaan kembali penyelidikan internasional independen atas tuduhan korupsi di dalam badan-badan pengatur CAF,” demikian bunyi pernyataan tersebut

“Selanjutnya, Senegal akan menggunakan semua jalur hukum yang sesuai, termasuk di hadapan pengadilan internasional yang berwenang, untuk memastikan keadilan ditegakkan dan hasil olahraga dipulihkan.”

Di sisi lain, Presiden CAF Patrice Motsepe membela keputusan lembaga yang dipimpinnya. Ia menyatakan bahwa komite banding bertindak secara independen dan murni berdasarkan peraturan turnamen yang ketat demi menjaga disiplin kompetisi.

Simbol Perlawanan di Stade de France

Menariknya, meski gelar mereka dicabut secara administratif, Senegal tetap menganggap diri mereka sebagai juara bertahan. 

Sebagai bentuk pembangkangan simbolis, skuad Lions of Teranga berencana untuk tetap membawa dan memamerkan trofi AFCON asli kepada para pendukungnya saat melakoni laga persahabatan melawan Peru di Stade de France, Paris, pada Sabtu besok.

Dunia sepak bola kini menanti keputusan CAS. Kasus ini diprediksi akan menjadi preseden penting bagi otoritas badan olahraga dunia dalam menangani sanksi administratif versus hasil pertandingan yang sudah tuntas secara fisik di lapangan.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!