Harapan pemain sayap muda Argentina, Gianluca Prestianni, untuk tampil membela Albiceleste di panggung Piala Dunia 2026 mendapat pukulan telak. FIFA resmi mengumumkan pada hari Rabu bahwa hukuman larangan bertanding enam laga yang diterimanya akibat perilaku homofobik kini berlaku secara global.

Keputusan ini memastikan bahwa jika pelatih Lionel Scaloni memanggil bintang Benfica tersebut ke dalam skuat final, ia dipastikan absen dalam dua pertandingan pertama fase grup Argentina di Amerika Serikat bulan depan.

Meluas ke Level Internasional

Kasus ini bermula dari insiden panas dalam laga babak gugur Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid pada bulan Februari lalu. Prestianni dituduh melontarkan kata-kata cacian kepada bintang Madrid, Vinícius Júnior. Meski sempat ada dugaan pelecehan rasial, investigasi UEFA menyimpulkan bahwa tindakan pemain berusia 20 tahun tersebut bersifat homofobik, pelanggaran yang tetap memicu sanksi berat.

Baca juga: Arbeloa dan Courtois Desak UEFA Tindak Tegas Pelaku Rasisme

Awalnya, UEFA menjatuhkan skorsing enam pertandingan, dengan tiga di antaranya ditangguhkan sebagai masa percobaan. Namun, badan sepak bola dunia, FIFA, kini mengonfirmasi bahwa mereka telah mengabulkan permintaan UEFA untuk memperluas jangkauan hukuman tersebut.

“Komite Disiplin FIFA telah memutuskan untuk memperpanjang larangan enam pertandingan yang dijatuhkan UEFA kepada pemain Benfica, Gianluca Prestianni, agar berlaku di seluruh dunia,” kata FIFA dalam sebuah pernyataan.

Dampak bagi Argentina

Prestianni, yang baru mengoleksi satu caps senior bersama tim nasional Argentina, telah menjalani satu laga hukuman saat ia absen di leg kedua melawan Real Madrid. 

Dengan status "berlaku di seluruh dunia," sisa hukuman dua laga kompetitifnya kini harus dijalani pada turnamen resmi terdekat: Piala Dunia 2026.

Artinya, Prestianni dipastikan menjadi penonton saat sang juara bertahan memulai kampanye mereka melawan Aljazair di Kansas City pada 17 Juni, serta laga kedua melawan Austria di Arlington lima hari kemudian.

Baca juga: UEFA Skors Sementara Prestianni Terkait Dugaan Pelecehan Rasial terhadap Vinícius

Situasi ini menempatkan Lionel Scaloni dalam dilema besar. Membawa pemain yang tidak bisa diturunkan di dua laga awal adalah risiko taktis yang signifikan, terutama di turnamen sesingkat Piala Dunia. Jika Prestianni akhirnya tidak terpilih masuk skuat Argentina, ia akan tetap menjalani sisa hukuman tersebut pada kompetisi antarklub UEFA musim depan.

Perubahan Aturan Mulut Tertutup

Kasus Prestianni juga memicu reaksi keras dari otoritas sepak bola terkait gestur pemain yang menutupi mulut saat berbicara dengan lawan di tengah perselisihan. 

IFAB (Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional) baru saja menyetujui perubahan aturan yang memberikan kewenangan kepada wasit untuk memberikan kartu merah langsung jika seorang pemain terbukti melakukan penghinaan sambil menutupi mulutnya.

Langkah tegas ini diambil guna memberantas tindakan diskriminatif yang sulit dideteksi oleh kamera maupun wasit di lapangan, menyusul insiden serupa yang terus berulang di kompetisi elit Eropa.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!