Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Pep Guardiola nyaris menjadi pelatih Timnas Italia, namun rasa lelah yang luar biasa menghancurkan mimpi besar tersebut. Paolo Maldini mengonfirmasi bahwa pelatih asal Spanyol itu begitu antusias hingga sudah membuat sketsa formasi dan menganalisis tim-tim muda Azzurri, sebelum akhirnya mundur karena kelelahan fisik dan mental, bukan karena masalah uang.
Dalam wawancara eksklusif bersama Corriere della Sera, Maldini membongkar detail pembicaraan rahasia saat ia menjabat sebagai Direktur Teknik Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Wawancara ini menjawab spekulasi mengenai seberapa dekat mantan pelatih Barcelona dan Manchester City itu menangani juara dunia empat kali tersebut.
Semuanya bermula ketika Maldini bersama Leonardo terbang ke Katalonia untuk menawarkan proyek besar Azzurri. Pertemuan yang awalnya dirancang sebagai diskusi biasa mendadak berubah menjadi sesi bedah taktik marathon selama seharian penuh.
Baca juga: Leonardo Bonucci Resmi Masuk Staf Kepelatihan Roberto Mancini di Timnas Italia
Guardiola rupanya tidak datang dengan tangan kosong. Ia menunjukkan ketertarikan mendalam untuk menjajal tantangan di level internasional bersama Italia.
"Dia pernah menyampaikan keinginan melatih tim nasional kepada beberapa temannya," ungkap Maldini. "Kami mengunjunginya di Barcelona, makan siang bersama, dan berbincang seharian. Dia sangat tergiur dan hampir saja menerima tawaran itu. Dia bahkan sudah mulai menuliskan perkiraan formasi di lembaran kertas."
Antusiasme Guardiola tidak berhenti pada papan taktik tim senior. Ia dan tim FIGC bahkan mengaudit seluruh struktur pembinaan pemain muda Italia untuk memastikan keberlanjutan proyek tersebut.
"Diskusi itu sangat serius," tegas Maldini. "Kami menganalisis skuad dari kategori umur U-17 ke atas."
Kabar yang beredar sebelumnya menyebutkan bahwa negosiasi menemui jalan buntu akibat tuntutan gaji Guardiola yang melambung tinggi, rumornya mencapai €20 juta per tahun.
Maldini membantah keras kabar burung tersebut dan menegaskan bahwa uang sama sekali bukan hambatan.
Baca juga: Roberto Mancini Sampaikan Permohonan Maaf Usai Kembali Menukangi Timnas Italia
Guardiola bahkan secara terbuka menawarkan struktur gaji yang sangat fleksibel agar proyek ini bisa berjalan.
“Uang tidak pernah menjadi masalah. Pep berkata dengan jelas kepada kami: "Berikan saya satu euro lebih sedikit daripada yang diterima pelatih sebelumnya, dan saya tidak keberatan,” jelasnya.
Jika uang bukan masalah dan kesamaan visi taktis sudah tercipta, apa yang akhirnya menggagalkan salah satu perekrutan paling ambisius dalam sejarah sepak bola internasional ini?
Maldini menyebutkan bahwa kondisi fisik dan mental Guardiola sudah mencapai titik jenuh. Setelah bertahun-tahun berada di tekanan tertinggi Premier League dan sempat menjalani operasi punggung, tubuh sang manajer tidak lagi mampu memenuhi tuntutan pekerjaan baru tanpa istirahat.
"Alasannya adalah kelelahan," jelas Maldini saat ditanya mengapa kesepakatan itu akhirnya batal. "Guardiola baru saja melewati 10 tahun yang sangat menguras tenaga di Premier League. Dia pernah menjalani operasi punggung dan dia benar-benar butuh istirahat."
Baca juga: Pirlo Batal Tukangi Timnas Italia usai Terseret Skandal
Guardiola akhirnya memilih untuk memprioritaskan kesehatannya dan mengambil jeda dari dunia kepelatihan.
Batalnya Guardiola memicu efek domino di tubuh FIGC. Maldini yang sempat beralih ke rencana cadangan untuk menunjuk Andrea Pirlo juga menemui jalan buntu akibat penolakan pimpinan federasi terkait konflik sponsor internal. Perselisihan visi ini akhirnya berujung pada pengunduran diri Maldini dari jabatannya.
Pengakuan Maldini ini memberikan gambaran betapa dekatnya dunia sepak bola menyaksikan gaya positional play ala Guardiola diterapkan pada warisan taktik pertahanan Italia. Pada akhirnya, publik sepak bola dunia hanya bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika coretan taktik di Barcelona itu benar-benar terwujud di atas lapangan.