Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Di era ketika nilai transfer diukur dalam ratusan juta dan hampir semua kesepakatan tampak murni tunai, ada sesuatu yang terasa hampir klasik ketika dua klub sekadar sepakat untuk saling menukar pemain secara langsung.
Kesepakatan barter tak pernah menjadi hal yang lumrah dalam sepak bola, namun ketika itu terjadi, hasilnya cenderung berkesan, kadang membingungkan, dan terkadang benar-benar mendefinisikan sebuah era.
Berikut sederet barter pemain terbesar yang pernah terjadi dalam sepak bola.
Barcelona & Inter Milan
Pada musim panas 2009, Barcelona besutan Pep Guardiola berada di puncak dunia usai meraih treble winner. Demi mencari dimensi taktis baru di lini serang, Barcelona melakukan salah satu manuver paling berani dalam sejarah transfer: melepas penyerang tajam asal Kamerun, Samuel Eto’o, ditambah dana segar senilai €46 juta ke Inter Milan demi memboyong sang jimat asal Swedia, Zlatan Ibrahimović.
Baca juga: Pemain dengan Gol Bunuh Diri Terbanyak
Ibrahimović memang mencetak 22 gol dan mengamankan gelar La Liga pada musim perdananya di Camp Nou, namun hubungan yang memburuk dengan Guardiola membuat masa baktinya berlangsung singkat. Di sisi lain, Inter Milan memetik hasil yang luar biasa. Eto’o menjadi mesin pekerja keras dalam skema José Mourinho, mencetak gol-gol krusial dan rela mengorbankan posisinya demi bermain di area sayap. Inter berhasil menyingkirkan Barcelona di semi-final Liga Champions sebelum akhirnya merengkuh treble winner bersejarah pada tahun 2010.
Chelsea & Arsenal
Mekanisme transfer langsung antar rival sekota London biasanya diselimuti ketegangan tinggi, tetapi tenggat waktu transfer pada Agustus 2006 menghadirkan kejutan besar. Bek kiri Arsenal, Ashley Cole, akhirnya mengamankan kepindahannya ke Stamford Bridge, sementara bek asal Prancis, William Gallas, bergerak ke arah berlawanan menuju London Utara disertai pembayaran ekstra sebesar £5 juta dari Chelsea kepada Arsenal.
Cole kemudian mengukuhkan statusnya sebagai salah satu bek kiri terbaik dalam sejarah Premier League. Ia menjadi tembok kokoh Chelsea dalam 338 penampilan sembari mengoleksi gelar Premier League, empat FA Cup, dan trofi UEFA Champions League 2012. Sebaliknya, Gallas dipercayakan jersey nomor 10 di Arsenal dan sempat menjadi kapten, namun masa baktinya diwarnai friksi di ruang ganti serta minimnya raihan trofi bergengsi.
Manchester United & Arsenal
Ketika Manchester United dan Arsenal sepakat melakukan pertukaran pemain secara langsung tanpa melibatkan uang transfer satu sen pun pada Januari 2018, jagat sepak bola mendadak heboh. Alexis Sánchez, yang kontraknya hampir habis di Arsenal, memilih Old Trafford ketimbang Manchester City, sementara playmaker asal Armenia, Henrikh Mkhitaryan, bertolak ke selatan untuk bergabung dengan skuad Arsène Wenger.
Baca juga: Sejarah VAR di Sepak Bola
Meski dibumbui pengumuman komersial yang luar biasa meriah, termasuk video ikonik Sánchez bermain piano, pertukaran ini justru minim prestasi di lapangan. Sánchez tampil jauh dari performa impresifnya semasa di Emirates dan hanya mencetak lima gol dari 45 laga di bawah beban gaji yang sangat tinggi. Mkhitaryan beberapa kali memperlihatkan umpan manja untuk Arsenal tetapi gagal tampil konsisten. Kedua pemain akhirnya dilepas ke Serie A dalam kurun waktu dua tahun.
Inter Milan & AC Milan
Transaksi antarklub satu kota di San Siro memang terbilang langka. Keputusan Inter Milan melepas gelandang serbabisa asal Belanda, Clarence Seedorf, ke AC Milan pada tahun 2002 menjadi salah satu langkah paling disesali Nerazzurri. Sebagai gantinya, Inter menerima bek kiri Italia, Francesco Coco.
Seedorf langsung menjadi kunci permainan skema Carlo Ancelotti di AC Milan, membentuk trio gelandang elit bersama Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso. Selama satu dekade berikutnya, Seedorf mempersembahkan dua trofi Liga Champions dan dua gelar Serie A bagi Rossoneri. Sementara itu, Coco yang terus diganggu cedera berkepanjangan kesulitan mendapat menit bermain di Inter hingga akhirnya memutuskan pensiun dari sepak bola profesional pada usia 30 tahun.
Barcelona & Juventus
Dilakukan di tengah situasi finansial yang penuh ketidakpastian pada tahun 2020, Barcelona dan Juventus merancang kesepakatan yang mencerminkan realitas akuntansi klub modern. Secara formal dicatat sebagai dua transfer terpisah bernilai tinggi, gelandang asal Brasil Arthur Melo bergabung dengan Juventus seharga €72 juta, sementara Miralem Pjanić bertolak ke Camp Nou dengan nilai €60 juta.
Baca juga: Mengapa Nomor 10 Identik dengan Playmaker?
Secara teknis di lapangan, kedua pemain gagal membuktikan diri sebagai pilar utama. Pjanić sangat minim mendapatkan kesempatan starter di bawah arahan Ronald Koeman sebelum akhirnya dipinjamkan, sedangkan Arthur terus berjuang melawan problem kebugaran fisik dan cedera selama di Turin.
Parma & Inter Milan
Salah satu barter paling timpang dalam daftar ini. Inter Milan menukar kapten juara Piala Dunia, Fabio Cannavaro, dengan penjaga gawang asal Uruguay, Fabián Carini, dalam pertukaran langsung tanpa uang tunai sama sekali.
Carini hanya tampil empat kali dalam tiga tahun di Inter sebagai kiper pilihan ketiga atau bahkan keempat, sementara Cannavaro justru mengantarkan Italia meraih gelar juara Piala Dunia dan memenangkan Ballon d'Or dalam kurun dua tahun setelah meninggalkan Inter.
Real Madrid & Arsenal
Satu-satunya daftar bersifat sementara dalam daftar ini, sekaligus pengingat bahwa kesepakatan barter tak selalu harus permanen. Reyes kembali ke Spanyol lewat pinjaman satu musim yang ditukar dengan Real Madrid, di mana ia mencetak tujuh gol dan meraih gelar juara La Liga, sementara Julio Baptista berangkat ke Arsenal dan mencetak sepuluh gol, di mana empat di antaranya dalam satu pertandingan melawan Liverpool, namun tak meraih satu pun trofi.
Baca juga: Stadion Paling Angker di Dunia
Musim panas berikutnya, kedua pemain kembali ke klub asal mereka masing-masing, dengan Reyes kemudian bergabung secara permanen dengan rival sekota Real Madrid, yaitu Atlético.
Baik terinspirasi oleh kebutuhan finansial maupun sekadar tawar-menawar gaya lama antar direktur olahraga, kesepakatan barter menempati sudut yang unik dalam sejarah sepak bola, kadang terbukti sebagai keputusan bisnis brilian, kadang benar-benar menjadi misteri bagaimana sebuah klub bisa menyetujuinya sama sekali.
Seiring aturan fair play finansial yang semakin ketat di seluruh Eropa, jangan heran jika metode bisnis gaya lama ini kembali lebih sering muncul dalam sepak bola modern dibanding yang dibayangkan para penggemar.