Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Mantan Direktur Teknik Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Paolo Maldini, mengungkapkan bahwa dua pahlawan Piala Dunia 2006, Daniele De Rossi dan Fabio Grosso, sejatinya masuk dalam daftar calon pelatih Timnas Italia. Namun, skenario tersebut kandas akibat rumitnya pakta politik dengan pihak klub Serie A.
Dalam wawancara blak-blakan bersama Corriere della Sera, Maldini membongkar dinamika balik layar yang mewarnai masa jabatannya yang hanya bertahan 17 hari di sektor teknis Azzurri. Setelah diskusi ambisius dengan Pep Guardiola dan Carlo Ancelotti tidak terwujud, Maldini mengalihkan fokusnya pada generasi baru pelatih Italia yang memiliki rekam jejak kuat bersama tim nasional.
Maldini menjelaskan bahwa visinya berpusat pada penunjukan pelatih muda yang memiliki ikatan emosional mendalam dengan struktur tim nasional untuk memimpin perombakan budaya sepak bola Italia.
Selain Andrea Pirlo, yang penolakannya oleh pimpinan federasi akhirnya memicu pengunduran diri Maldini, nama De Rossi dan Grosso menjadi kandidat utama dalam daftarnya.
“Gagasan kami berkaitan dengan teknik, yakni aspek penyerangan dalam permainan. Di Italia, kami sempat tertinggal dalam banyak hal. Kami ingin melatih para pemain muda dalam hal teknik, situasi satu lawan satu, dan mentalitas menyerang, bukan sekadar taktik,” kata Maldini.
Baca juga: Paolo Maldini Buka-Bukaan Soal Batalnya Pep Guardiola Latih Timnas Italia
“Selain itu, kami menginginkan pelatih muda yang memiliki rekam jejak di tim nasional. Ada tiga nama yang masuk dalam pertimbangan. Daniele De Rossi dan Fabio Grosso. Tiga juara Piala Dunia.”
Namun, ambisi Maldini untuk merekrut De Rossi atau Grosso langsung terbentang tembok tebal berupa kesepakatan politik di internal federasi. Presiden FIGC Giovanni Malagò menginformasikan kepada Maldini bahwa ada kesepakatan tidak tertulis dengan klub-klub kasta teratas yang melarang tim nasional membajak pelatih yang masih terikat kontrak di klub Serie A.
Mengingat proses pencarian pelatih berlangsung pada akhir Juli, di mana klub-klub Serie A sudah memulai persiapan pramusim, Malagò menegaskan bahwa mengambil pelatih aktif dari klub akan merusak kepercayaan politik yang telah dibangun saat pemilihan presiden.
"Presiden memberi tahu kami bahwa berdasarkan kesepakatan yang mengantarkannya pada pemenangan pemilu, dengan dukungan seluruh klub kecuali Lazio, kami tidak boleh menyentuh pelatih mana pun dari tim Serie A," tegas Maldini.
Baca juga: Roberto Mancini Sampaikan Permohonan Maaf Usai Kembali Menukangi Timnas Italia
"Di akhir Juli, tim-tim sudah memulai pramusim dan sulit untuk mengubah arah. Malagò mengatakan itu tidak bisa dilakukan, jadi kami melanjutkan proses dengan Pirlo."
Dengan tertutupnya peluang untuk memboyong De Rossi dan Grosso, Pirlo menjadi satu-satunya kandidat tersisa dari daftar utama Maldini. Namun, ketika Malagò kemudian mengintervensi penunjukan Pirlo dan menyatakan bahwa pimpinan federasi yang akan menentukan keputusan akhir, Maldini menganggap hal tersebut sebagai pelanggaran langsung terhadap wewenangnya.
Enggan menerima pembatasan peran tersebut, Maldini bersama penasihat teknis Leonardo memilih untuk mengundurkan diri sebelum menandatangani kontrak empat tahun mereka. Pengakuan ini membuka mata publik sepak bola mengenai rumitnya jaring politik serta gesekan kepentingan antara klub dan tim nasional yang terus membayangi sepak bola Italia.