‘Impian yang Runtuh’, Son Minta Maaf Setelah Korsel Tersingkir di Piala Dunia
Kapten tim nasional Korea Selatan, Son Heung-min, menyampaikan permohonan maaf yang emosional kepada para penggemar pada hari Senin setelah timnya secara mengejutkan tersingkir di babak penyisihan grup Piala Dunia 2026. Bintang lini depan tersebut mengakui bahwa kegagalan ini sangat menyakitkan untuk diterima, namun ia memohon dengan sangat agar publik memberikan dukungan dan tidak menghujat rekan-rekan setimnya.
"Generasi Emas" sepak bola Korea Selatan, yang diperkuat bintang-bintang top Eropa seperti Son, Kim Min-jae (Bayern Munich), dan Lee Kang-in (Paris Saint-Germain), harus menyudahi turnamen dengan cara yang tragis. Hanya membutuhkan hasil imbang di laga pamungkas Grup A untuk mengamankan tiket otomatis ke babak 32 besar, mereka justru takluk 1-0 dari Afrika Selatan di Stadion Monterrey, Meksiko. Nasib mereka kemudian dipastikan karena gagal menembus delapan besar sebagai peringkat ketiga terbaik dengan raihan tiga poin.
Mundurnya Pelatih dan Ketegangan di Bandara
Kegagalan fatal ini langsung memakan korban. Pelatih kepala Hong Myung-bo resmi mengundurkan diri pada hari Minggu menyusul gelombang protes keras dari publik terkait strategi taktisnya. Saat rombongan tim nasional mendarat di Bandara Internasional Incheon pada Selasa pagi, Hong disambut dengan sorakan ejekan dan tuntutan mundur dari suporter yang marah.
Sebaliknya, para suporter tetap memberikan tepuk tangan apresiasi kepada para pemain yang berjalan di belakangnya, sebuah perbedaan perlakuan yang sangat ingin dijaga oleh Son. Melalui pesan panjang di akun Instagram pribadinya sebelum kembali ke Korea, Son mengambil tanggung jawab penuh atas kegagalan tim.
Baca juga: Afrika Selatan Bungkam Korea Selatan 1-0, Ukir Sejarah Lolos ke Babak Gugur
"Saya sejujurnya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa, dan saya tidak ingin lari dari kenyataan. Pertama-tama, saya ingin meminta maaf yang sebesarnya kepada masyarakat Korea Selatan dan seluruh penggemar yang telah mendukung tim nasional kita,” tulisnya
“Ini adalah turnamen yang sangat berarti bagi saya, dan rasanya seolah-olah 'panggung impian masa kecil' yang selalu saya bicarakan telah runtuh."
Keputusan Kontroversial di Bangku Cadangan
Sebagian besar kemarahan publik yang ditujukan kepada mantan pelatih berakar dari keputusan pemilihan pemain yang aneh di laga krusial tersebut. Hong mengejutkan dunia sepak bola dengan memilih untuk membangkucadangkan Son di sepanjang babak pertama melawan Afrika Selatan.
Meski pemain berusia 33 tahun itu akhirnya dimasukkan di babak kedua untuk memimpin serangan, paceklik golnya di Piala Dunia kali ini terus berlanjut. Korea Selatan gagal membongkar pertahanan rapat Afrika Selatan hingga peluit panjang berbunyi. Menyadari atmosfer yang mulai beracun di tanah air, Son menggunakan suaranya untuk melindungi para pemain muda di dalam skuad.
"Saya tahu begitu banyak hal telah dikorbankan untuk tahap ini. Saya juga merasa sangat bertanggung jawab karena saya tidak dapat membalas waktu, hati, dan dukungan serta cinta yang terus-menerus Anda berikan,” lanjutnya.
"Saya akan melakukan yang terbaik di posisi saya lagi untuk memenangkan hati rakyat Korea dan penggemar sepak bola. Saya akan berjuang sampai mati untuk memberikan Anda kesenangan lagi.
Baca juga: Hong Myung-Bo Resmi Mundur Usai Korsel Tersingkir Tragis di Piala Dunia 2026
"Terakhir, saya merasa ingin meminta satu bantuan lagi kepada para penggemar dalam situasi ini. Maaf, tetapi saya mohon Anda untuk memberikan dukungan dan semangat yang hangat daripada mengkritik dan menyakiti semua pemain."
Akhir dari Sebuah Era?
Dengan usia Son yang akan menginjak 34 tahun bulan depan, turnamen di Amerika Utara ini, yang merupakan Piala Dunia keempatnya, diyakini banyak pihak sebagai panggung terakhir sang legenda di level internasional. Sepanjang karier luar biasanya, ia tercatat hanya sekali berhasil membawa negaranya lolos ke babak gugur.
Meskipun mantan bintang Tottenham Hotspur tersebut tidak secara eksplisit mengumumkan pensiun dari tim nasional, kata-katanya membawa beban berat dari sebuah akhir babak sejarah. Bagi negara yang menaruh ekspektasi tinggi di Piala Dunia 2026, evaluasi dari kegagalan ini akan berjalan panjang dan menyakitkan. Namun, sang kapten tetap bertekad untuk mengembalikan kejayaan sepak bola Korea Selatan sebelum ia benar-benar gantung sepatu.