Piala Dunia FIFA 2026 telah resmi bergulir di Amerika Utara, dan turnamen kali ini menghadirkan fenomena unik yang membelah kehangatan keluarga demi genggaman paspor yang berbeda. Sebanyak tujuh pasang saudara kandung mencatatkan sejarah dengan tampil di panggung sepak bola terbesar ini, di mana sebagian besar dari mereka justru harus saling berhadapan di bawah bendera negara yang bertolak belakang akibat dinamika migrasi global modern.

Dari megabintang kelahiran Basque hingga kakak-beradik asal Aberdeen yang menempuh jalur karier kontras, turnamen ini menyuguhkan drama keluarga yang sangat emosional. Jika beberapa pasang saudara beruntung bisa bahu-membahu mengenakan lambang di dada yang sama, sebagian lainnya harus menghadapi kenyataan pahit: potensi saling menyingkirkan di fase gugur demi ambisi negara masing-masing.

Keluarga yang Terbelah 

Rivalitas saudara paling mencuri perhatian tentu saja datang dari Nico dan Iñaki Williams. Keduanya adalah pahlawan tak tergantikan di Athletic Club, namun mereka kembali membela negara yang berbeda untuk edisi Piala Dunia kedua berturut-turut. 

Nico Williams datang ke Amerika Utara dengan status juara Eropa bersama Spanyol, sementara sang kakak, Iñaki, memimpin lini depan Ghana demi menghormati tanah kelahiran orang tua mereka.

Baca juga: Lokasi Base Camp dan Latihan untuk 48 Tim di Piala Dunia 2026

Cerita yang tak kalah menarik datang dari keluarga Doué. Sang adik, Désiré Doué, menjadi motor kreativitas tim favorit Prancis setelah musim yang gemilang bersama Paris Saint-Germain. 

Di sisi lain, sang kakak, Guéla Doué, yang beroperasi sebagai bek kanan terbang, justru memilih turun membela Pantai Gading. Perbedaan pilihan ini bahkan sudah melahirkan momen viral di laga uji coba sebelum turnamen, saat Guéla mencetak gol kemenangan ke gawang Prancis sementara Désiré hanya bisa menyaksikannya dari bangku cadangan.

Perbedaan geografis yang lebih ekstrem terlihat pada keluarga Souttar. Lahir dan besar di Aberdeen, Skotlandia, John Souttar tetap setia menjaga lini belakang Tartan Army. Sebaliknya, sang adik yang bertubuh jangkung, Harry Souttar, mengambil langkah radikal dengan mengalihkan kesetiaannya kepada Australia, negara asal ibunya. 

Sementara itu di seberang Atlantik, ada striker perkasa Brian Brobbey yang menjadi ujung tombak Belanda, sedangkan kakak tirinya, Derrick Luckassen, mendapatkan panggilan mendadak di menit-menit terakhir untuk memperkuat lini pertahanan Ghana.

Bersatu di Bawah Satu Lambang Negara

Bagi sebagian orang tua lainnya, menyaksikan Piala Dunia kali ini mungkin terasa jauh lebih tenang karena anak-anak mereka bertarung berdampingan di bawah satu bendera yang sama. 

Duet bersaudara paling berprofil tinggi tetap dipegang oleh Lucas dan Théo Hernández, yang mengawal lini belakang Prancis untuk turnamen besar kedua secara beruntun. Setelah merasakan kepedihan menjadi runner-up di Qatar empat tahun lalu, duo bek tangguh ini terobsesi untuk menebusnya dengan medali emas bersama Les Bleus.

Tim nasional Belanda juga memiliki koneksi keluarga yang tak kalah solid lewat kembar Quinten dan Jurriën Timber. Setelah keduanya terpaksa melewatkan Euro 2024 akibat cedera yang tidak tepat waktu, si kembar ini bangkit dengan luar biasa. 

Baca juga: Mengintip Aturan Baru yang Akan Mengubah Wajah Piala Dunia 2026

Jurriën datang dengan modal gelar juara Premier League bersama Arsenal, sementara Quinten menjadi jenderal lapangan tengah Marseille, memberikan Oranje kekuatan hubungan saudara yang instan di lapangan. Sayangnya, Jurriën terpaksa absen di menit-menit terakhir sebelum turnamen karena belum bisa pulih total dari cedera.

Sejarah besar juga diukir oleh para tim kuda hitam turnamen. Curaçao merayakan partisipasi historis pertama mereka di Piala Dunia, dan kakak-beradik Leandro serta Juninho Bacuna menjadi denyut nadi dari kisah dongeng tersebut. Fenomena serupa juga terlihat di skuad debutan Tanjung Verde yang diperkuat oleh gelandang kelahiran Rotterdam, Laros dan Deroy Duarte, membuktikan bahwa ikatan darah tetap mengalir kuat bahkan bagi negara-negara kecil di panggung dunia.

“Saya dan saudara saya seperti kembar,” kata Desiré kepada Téléfoot. “Begitulah perasaan kami sejak kecil. Kami memiliki ikatan luar biasa yang telah banyak dikomentari orang selama bertahun-tahun. Kami saling menceritakan segalanya dan tidak memiliki rahasia. Dia sangat mendukung saya dalam kehidupan sehari-hari.”

Kalimat tersebut merangkum esensi dari ketujuh keluarga yang terlibat di turnamen ini. Baik saat mereka berbagi ruang ganti yang sama atau harus saling tatap dengan tegang di garis tengah lapangan, para saudara kandung ini telah memastikan bahwa Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai panggung pembuktian ikatan darah yang paling murni.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!