Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Kapten sekaligus jenderal lapangan tengah Spanyol, Rodri, berharap generasi muda dapat memetik pelajaran berharga dari kisah perjuangannya melawan keterpurukan.
Hal ini disampaikannya setelah memimpin La Roja merengkuh trofi Piala Dunia 2026 pada Senin (20/7) dini hari WIB, yang melengkapi seluruh koleksi gelar mayor dalam karier sepak bolanya, hanya berselang kurang dari dua tahun sejak dirinya menderita cedera ligamen lutut parah.
Pemain berusia 30 tahun itu tidak hanya mengangkat trofi emas pasca-kemenangan dramatis 1-0 atas Argentina lewat babak perpanjangan waktu di MetLife Stadium, tetapi juga dinobatkan sebagai peraih Golden Ball alias Pemain Terbaik Turnamen.
Baca juga: De La Fuente Puji Kebersamaan Skuad Usai Spanyol Jadi Kunci Juara Piala Dunia
Pencapaian ini menjadi akhir yang luar biasa dari skenario perjalanan epik yang diakuinya bahkan melampaui ekspektasinya sendiri.
“Rasanya seperti skenario yang sempurna. Saya sama sekali tidak menyangka ini,” kata Rodri.
“Saya ingin generasi muda melihat bahwa seorang pemain yang menyentuh langit, lalu turun ke neraka, bisa kembali. Ini adalah pelajaran tentang mengatasi kesulitan.”
Kembali ke bentuk performa terbaik setelah cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) pada September 2024, tepat sebulan sebelum ia memenangkan Ballon d'Or, bukanlah perkara mudah.
Baca juga: De la Fuente Tagih Janji Cucurella: Tato Wajah Sang Pelatih Harus Segera Dibuat!
Pada awal turnamen di Amerika Utara ini, Rodri sempat dihujani kritik tajam menyusul hasil imbang tanpa gol Spanyol kontra Tanjung Verde di laga pembuka. Penampilannya dinilai belum pulih total, sebuah narasi yang sempat dikecam keras oleh pelatih Luis de la Fuente.
Namun, seiring berjalannya turnamen, prediksi Pep Guardiola bahwa Rodri yang asli akan terlihat di Piala Dunia 2026 terbukti menjadi kenyataan.
Rodri tampil kian mendominasi di lini tengah, mendikte permainan saat Spanyol menyingkirkan raksasa-raksasa Eropa seperti Portugal, Belgia, dan Prancis, sebelum akhirnya meredam magis Lionel Messi di partai puncak.
“Itulah rahasia tim nasional,” ujarnya. “Kami akan selalu berjuang untuk Anda. Pada akhirnya, Tuhan akan membalas Anda. Kami telah berani.
“Kami sangat gembira. Skuad ini sensasional. Kami adalah juara Piala Dunia dua kali. Ini adalah turnamen tersulit dalam sejarah Piala Dunia. Kami mengalahkan tim Argentina yang hebat, yang diperkuat (Lionel) Messi, pemain terbaik dalam sejarah.”
Dengan medali emas Piala Dunia yang kini melingkar di lehernya, Rodri resmi masuk ke dalam lingkaran elite sepak bola dunia yang sangat langka. Ia menjadi orang keempat dalam sejarah sepak bola yang sukses mengawinkan gelar Piala Dunia, Piala Eropa (Euro), Liga Champions UEFA, dan Ballon d'Or.
Baca juga: Jadi Pahlawan Spanyol di Piala Dunia, Torres: Takdir Kami Sudah Tertulis
Namanya kini bersanding sejajar dengan tiga legenda abadi lapangan hijau: Franz Beckenbauer, Gerd Müller, dan Zinedine Zidane.
Kemenangan bersejarah di New Jersey ini juga memperpanjang rekor tak terkalahkan Spanyol menjadi 38 pertandingan internasional beruntun. Bagi sang kapten, trofi ini adalah bukti sahih dari filosofi hidup yang selalu dipegangnya teguh: tidak peduli seberapa dalam Anda terjatuh, dengan mentalitas yang positif dan keberanian, Anda selalu bisa bangkit dan kembali menguasai dunia.