Ibrahimovic Kritik Budaya Sepak Bola Italia: "Pelatih Muda Terlalu Terobsesi Hasil"
Zlatan Ibrahimovic kembali melontarkan pernyataan tajam yang mengguncang panggung sepak bola Italia. Sang legenda, yang kini menjabat sebagai Penasihat Senior RedBird untuk AC Milan, mengkritik keras budaya tim muda di Italia yang menurutnya terlalu terobsesi pada hasil akhir ketimbang pengembangan bakat.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan CBS Sports yang dirilis Kamis (12/3), pria asal Swedia ini menegaskan perlunya "keseimbangan" dalam mengelola tim Primavera (U-19) dan U-23 agar tidak mematikan potensi pemain muda berbakat.
Masalah "Pemain Jadi" vs "Pemain Potensial"
Ibrahimovic menyoroti kecenderungan pelatih muda di Italia yang lebih memilih memainkan pemain yang sudah dianggap "matang" secara fisik dan taktis demi mengamankan kemenangan instan.
Strategi ini, menurut Ibra, justru menghambat jalur perkembangan bagi mereka yang memiliki potensi besar namun butuh waktu bermain lebih banyak.
Baca juga: Dinasti Berlanjut: Nama Ibrahimovic Kembali ke Skuad Milan untuk Supercoppa
"Budaya di Italia adalah semua orang fokus pada hasil," ujar Ibrahimovic.
“Para pelatih muda berpikir, ‘Saya ingin menang, jadi jika saya ingin menang, saya akan menurunkan pemain yang sudah matang. Tetapi kemudian saya memiliki pemain potensial, dia tidak akan bermain. Saya akan memainkan pemain yang sudah siap karena dia akan membuat saya menang’.”
Ibra menegaskan bahwa filosofi semacam ini sudah mulai dikikis dari sistem akademi AC Milan.
“Kami mengubah filosofi karena pertama-tama kami ingin memberi mereka waktu bermain. Karena ketika Anda masih muda, saya percaya pada waktu bermain,” tambahnya.
Proyek Milan Futuro sebagai Solusi
Untuk mengatasi kebuntuan tersebut, AC Milan di bawah arahan Ibrahimovic mengandalkan proyek Milan Futuro (tim U-23) sebagai jembatan. Proyek ini dirancang agar pemain bisa naik-turun kelas antara Primavera dan tim utama dengan tujuan mencari menit bermain yang kompetitif.
“Jika Anda tidak bermain di Milan Futuro, Anda akan bermain dengan Primavera, 100%,” ujarnya.
“Jadi semua orang akan mendapatkan waktu bermain. Kemudian setelah beberapa waktu, Anda akan naik level lagi. Ini seperti timbangan, seperti skala yang naik dan turun.”
Baca juga: Allegri Sebut Inter Tetap Favorit Scudetto usai Kemenangan AC Milan
Tantangan Mentalitas Juara
Meski ingin memprioritaskan pengembangan di level muda, Ibra mengakui bahwa tuntutan di tim utama Milan tetaplah hasil. Sejarah besar klub dengan tujuh trofi Liga Champions dan 19 Scudetto menjadi beban sekaligus motivasi yang menghantui setiap kebijakan klub.
“Tapi kemudian ketika Anda masuk ke tim utama, itu hanya berdasarkan hasil. Jadi sekarang kita butuh hasil. Kami mencoba untuk mengeluarkan potensi pemain muda, yang kami inginkan, tetapi pada saat yang sama, kami dihantui oleh sejarah klub,” ucapnya.
“Maksud saya, tujuh Liga Champions, 19 Scudetto, semua pemain peraih Ballon d'Or yang menang, semua piala internasional yang kami menangkan, para penggemar sudah terbiasa dengan itu. Jika kami tidak memberi mereka itu, kami tidak memberi mereka Milan. Dan kami perlu memberi mereka Milan.”
Ibrahimovic juga sempat memuji kinerja pelatih tim utama, Massimiliano Allegri, yang menurutnya sangat ahli dalam mengelola karakter pemain besar dan memahami tuntutan tinggi di Milan.
“Dia sosok yang unik. Saya juga pernah dilatih olehnya. Bahkan saat itu pun dia menangani para pemain dengan sangat baik,” jelas Ibrahimovic. “Dia sangat pandai dalam menjalin hubungan dengan para pemain, dia mengelola tim dengan fantastis. Dan jelas dia sosok yang unik.”
“Bekerja dengan Allegri sangat mudah. Dia ahlinya. Dia memiliki pengalaman yang luas, dia pernah berada di klub-klub besar. Dia seorang pemenang dan berada di Milan bukanlah untuk semua orang. Menjadi pelatih Milan itu sulit. Sangat menuntut dan dia mengerti apa artinya berada di Milan, jadi dia membawa paket lengkap. Dia hanya perlu menyampaikan hal itu kepada para pemain sekarang.”
Pernyataan Ibra ini menjadi sinyal kuat bahwa Milan tengah berusaha merombak pakem sepak bola Italia yang konservatif, demi menciptakan generasi baru yang tidak hanya pandai menang, tapi juga matang secara kualitas individu.