Wolverhampton Wanderers akhirnya menemukan juru selamat mereka. Dalam langkah yang mengejutkan dan penuh intrik, klub yang saat ini mendekam di dasar klasemen Premier League itu resmi menunjuk Rob Edwards sebagai pelatih kepala baru. Edwards menandatangani kontrak berdurasi tiga setengah tahun, mengakhiri masa kerjanya yang baru berjalan lima bulan di klub Championship, Middlesbrough.

Keputusan ini datang setelah petinggi Wolves, yang dipimpin oleh Executive Chairman Jeff Shi, mencapai kesepakatan kompensasi senilai sekitar £3 juta dengan Middlesbrough, yang awalnya menolak pendekatan dari Molineux. Edwards, mantan bek Wolves dan pelatih tim junior, secara terbuka menyatakan keinginannya untuk kembali ke klub lamanya, memaksa Boro—yang sedang berada di jalur promosi—untuk mengalah.

Kembalinya Sang Anak Hilang di Tengah Krisis

Edwards, yang berusia 42 tahun, menggantikan Vitor Pereira, yang dipecat setelah Wolves gagal memenangkan satu pun dari 10 pertandingan pembukaan Premier League. Dengan hanya dua poin dari 11 pertandingan dan terpaut delapan poin dari zona aman, tugas Edwards adalah salah satu yang paling menantang di liga.

"Saya mengenal Rob dengan sangat baik dan saya telah melihat pertumbuhannya di berbagai klub," ujar Jeff Shi dalam pernyataan klub. "Dia orang yang sangat baik, dia tahu klub ini dengan sangat baik, dia tahu kota ini, para penggemar, dan dia sangat berbakat."

Penunjukan ini merupakan periode keempat Edwards di Molineux, setelah sempat menjadi pemain (2004-2008), pelatih akademi, dan pelatih interim pada 2016. Pengalaman ini diyakini manajemen dapat menyegarkan kembali seluruh klub dengan filosofi pelatih baru.

Baca juga: Wolves Pecat Vitor Pereira Setelah Terjebak di Dasar Klasemen

Rekor Promosi vs. Realitas Premier League

Di sinilah letak ironi terbesar dari kepindahan ini. Edwards meninggalkan Middlesbrough yang ia bawa ke posisi kedua di Championship, hanya kalah dua kali dari 15 pertandingan liga. 

Laju impresif ini menggarisbawahi reputasinya sebagai pembangun tim, yang dibuktikan dengan kesuksesannya memimpin Luton Town promosi ke Premier League pada 2023.

Namun, pengalaman Edwards di kasta tertinggi bersama Luton juga menjadi pengingat akan beratnya tugas di depan. Meskipun Luton menunjukkan semangat juang dan mencetak banyak gol, mereka akhirnya terdegradasi setelah satu musim, dan kembali terdegradasi di musim selanjutnya yang membuat mereka kini berada di kasta ketiga. 

Sekarang, Edwards mengambil alih tim yang secara statistik berada di ambang bencana degradasi.

Baca juga: Drama Tujuh Gol, 10 Pemain Chelsea Tahan Gempuran Wolves di Carabao Cup

Jarak dari Zona Aman: 8 poin.

Edwards kini memiliki waktu selama jeda internasional untuk mengimplementasikan filosofinya sebelum debutnya yang krusial: pertandingan kandang melawan Crystal Palace pada 22 November.

Kepindahan Edwards, yang lahir di Telford, dekat Wolverhampton, adalah cerminan dari daya tarik Premier League yang tak tertahankan. Ini adalah pertaruhan besar: Edwards menukar kepastian persaingan promosi dengan tantangan monumental untuk menyelamatkan klub lamanya dari kehancuran.

Mampukah koneksi emosional dan reputasi Edwards sebagai motivator mengubah nasib The Old Gold? Molineux, dan seluruh dunia sepak bola, akan menyaksikannya.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!