Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) secara resmi telah mendakwa pelatih kepala Southampton, Tonda Eckert, dengan tiga tuduhan pelanggaran terkait perannya dalam skandal 'Spygate' yang menyita perhatian publik. Keputusan ini menjadi babak baru yang merusak dalam saga mata-mata yang mengacaukan promosi klub dan mengguncang sepak bola Inggris.
Badan pengatur tersebut mengonfirmasi bahwa Eckert menghadapi tiga dugaan pelanggaran Peraturan FA E3.1. Dakwaan tersebut menyebutkan bahwa pelatih berusia 33 tahun asal Jerman itu bertindak tidak pantas dan mencoreng nama baik pertandingan dengan mengarahkan serta mengizinkan mata-mata terselubung terhadap sesi latihan tim rival, termasuk Oxford United, Ipswich Town, dan Middlesbrough, antara Desember 2025 hingga Mei 2026.
Sepak bola Inggris dibuat terkejut pada bulan Mei lalu ketika komisi disiplin independen mengungkapkan bahwa Southampton telah mengorganisasi operasi tertutup untuk mengamati persiapan taktis lawan.
Puncak krisis terjadi pada laga semi-final play-off Championship, ketika seorang analis the Saints tertangkap kamera sedang merekam persiapan akhir Middlesbrough menggunakan ponsel.
Baca juga: Manajer Southampton Tonda Eckert Jadi Dalang di Skandal 'Spygate'
Apa yang awalnya terlihat sebagai pelanggaran terisolasi dengan cepat terkuak sebagai pelanggaran sistematis. Temuan komisi menggambarkan operasi tersebut sebagai "rencana yang dirancang dan ditentukan dari tingkat atas," dengan catatan bahwa staf analitis junior merasa tertekan untuk menjalankan pengamatan terselubung yang diminta oleh manajemen senior.
Dampaknya sangat cepat dan berat. Football League mendiskualifikasi Southampton dari laga final play-off, yang merampas potensi pemasukan senilai £200 juta untuk naik ke Premier League, serta menjatuhkan sanksi pengurangan empat poin untuk Championship musim 2026–27 mendatang.
Middlesbrough dipulihkan posisinya untuk menggantikan Saints, meski pada akhirnya mereka menelan kekalahan dari Hull City di Stadion Wembley.
Meskipun menghadapi konsekuensi olahraga dan finansial yang sangat besar, pemilik Southampton Dragan Šolak beserta jajaran hierarki klub secara terbuka tetap memberikan dukungan penuh kepada manajer muda mereka.
Eckert, yang mengambil alih kepemimpinan pada akhir 2025 dan memimpin kebangkitan taktis yang luar biasa hingga meraih tiga penghargaan Manager of the Month secara beruntun, sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada para pendukung.
Ia mengakui adanya "keputusan yang buruk," namun menegaskan bahwa sesi yang diintai tersebut sebenarnya tidak memberikan dampak nyata terhadap persiapan pertandingan.
Baca juga: FA Turun Tangan Selidiki Skandal 'Spygate' Southampton
"Tonda dan klub akan terus bekerja sama secara penuh dan terbuka dengan FA," tulis Southampton dalam pernyataan resminya menyusul pengumuman tersebut. "Fokus kami tetap pada persiapan musim 2026–27. Klub mendukung penuh Tonda beserta stafnya saat kami bekerja keras mewujudkan ambisi kembali ke Premier League."
Eckert memiliki waktu hingga 28 Juli untuk memberikan tanggapan resmi terhadap dakwaan tersebut. Dengan kewenangan FA untuk menjatuhkan hukuman berupa larangan mendampingi tim di pinggir lapangan, denda dalam jumlah besar, hingga pembekuan total dari seluruh aktivitas sepak bola di Inggris, potensi dampak yang ada dapat menguji ketahanan klub.
Jika badan pengatur memutuskan untuk mengajukan permohonan ke FIFA agar sanksi tersebut berlaku secara global, mirip dengan larangan 12 bulan yang dijatuhkan kepada mantan pelatih tim nasional wanita Kanada, Bev Priestman, pada Olimpiade Paris, karier kepelatihan Eckert berisiko terhenti dalam jangka waktu yang panjang.
Di saat persiapan pra-musim terus berjalan di bawah bayang-bayang ketidakpastian, St Mary's kini berada di antara ambisi menuju Premier League dan ancaman sanksi dari panel disiplin Wembley.