Krisis di Tottenham, Frank Bertahan dengan Skuad Seadanya Jelang Lawan Dortmund
Thomas Frank sedang berada di titik terendah dalam kariernya sebagai manajer Tottenham Hotspur. Menjelang laga krusial Liga Champions melawan Borussia Dortmund pada Rabu dini hari (21/1/2026), pelatih asal Denmark tersebut dipusingkan dengan badai cedera yang menyisakan hanya 11 pemain non-kiper yang siap bertanding.
Situasi di Tottenham Hotspur Stadium saat ini benar-benar genting. Frank, yang posisinya sedang digoyang setelah kekalahan memalukan 2-1 dari West Ham United akhir pekan lalu, harus meramu taktik dengan tim yang hancur lebur demi menjaga asa di kompetisi Eropa.
Daftar Cedera yang Mengerikan
Badai cedera ini mencakup nama-nama pilar seperti James Maddison (ACL), Richarlison (hamstring), Rodrigo Bentancur, dan Mohammed Kudus.
Masalah bertambah parah karena Micky van de Ven harus absen akibat skorsing, sementara bek veteran Ben Davies baru saja menjalani operasi patah pergelangan kaki.
"Kami hanya memiliki 11 pemain lapangan yang tersedia," ujar Frank.
"Mungkin ada tiga pemain yang perlu paksa secara fisik untuk menyelesaikan 90 menit pertandingan. Jadi, itulah mengapa kami membutuhkan dukungan dari semua orang, sejak menit pertama. Kita semua, terutama tim, terutama para pemain, terutama jika keadaan tidak berjalan dengan baik, membutuhkan dukungan.”
“Karena jika kita mendapatkan dukungan itu, segalanya bisa terjadi dan keajaiban bisa terjadi. Kita memiliki kesempatan bagus besok dan kita akan mengerahkan semua kemampuan kita untuk itu.”
Baca juga: Kapten Romero Sindir Petinggi Spurs Usai Kekalahan Memalukan
Tak hanya itu, rekrutan baru seperti Conor Gallagher dan kembalinya Yves Bissouma tidak bisa diturunkan karena tidak terdaftar dalam skuad Liga Champions untuk fase ini. Hal ini memaksa Frank untuk mengandalkan pemain muda seperti Lucas Bergvall dan Archie Gray di lini tengah.
Selain itu, terjadi masalah yang menyebabkan Mathys Tel dikeluarkan dari skuad Liga Champions untuk memberi kesempatan kepada striker Dominic Solanke yang sudah pulih dari cedera untuk kembali bermain. "Musibah datang bertubi-tubi," kata Frank, yang timnya memiliki rekor 100% di kandang sendiri di Liga Champions.
"Saya yang membuat keputusan (tentang Tel). Itu bukan keputusan yang menyenangkan, tetapi sayangnya itulah sepak bola. Sesuai aturan, satu-satunya pilihan adalah Dom atau Mathys dan saya memilih Dom."
“Karena menurut saya Matys telah bermain sangat baik dalam beberapa pertandingan terakhir dan hal yang gila adalah, jika saya bisa memilih dari semua pemain yang fit, dia akan menjadi starter besok. Tapi saya hanya bisa memilih di antara mereka berdua dan sekarang dia tidak masuk dalam skuad. Jadi tentu saja itu pukulan berat bagi Matys.”
Di Ambang Pemecatan
Masa depan Thomas Frank kini berada di ujung tanduk. Meskipun ia bersikeras masih mendapatkan dukungan penuh dari CEO Vinai Venkatesham dan Direktur Olahraga Johan Lange setelah pertemuan makan siang pada hari Senin, suara-suara sumbang dari tribun penonton tidak bisa diabaikan.
Nyanyian "Sacked in the morning" sempat menggema di stadion saat laga melawan West Ham, mencerminkan rasa frustrasi pendukung atas performa tim yang kini terpuruk di peringkat ke-14 Liga Inggris.
Laga melawan Dortmund disebut-sebut sebagai kesempatan terakhir Frank untuk membuktikan bahwa ia masih orang yang tepat untuk memimpin transisi Spurs.
Baca juga: Tottenham Resmi Datangkan Conor Gallagher dari Atletico
Mentalitas Petarung
Meski dalam kondisi compang-camping, Frank menolak untuk menyerah pada keadaan. Ia menekankan bahwa para pemain yang tersisa masih memiliki semangat juang yang tinggi.
"Fokus saya hanya satu: melakukan segalanya agar kami bisa menang melawan Dortmund," tegas mantan pelatih Brentford tersebut.
"Sepak bola itu sangat sederhana tetapi juga sedikit kompleks. Ada banyak bagian yang bergerak. Saya pikir ini tentang mengabaikan kebisingan, tetap tenang, terus maju, memperhatikan performa. Apakah para pemain masih berlari? Mereka berlari dengan keras."
Pertandingan melawan raksasa Jerman ini bukan hanya soal poin di Liga Champions, tetapi juga soal harga diri dan kelangsungan karier Thomas Frank di London Utara.