Bellingham Ungkap Rumitnya Menyatukan Vinicius dan Mbappe Jelang Duel Bayern
Jude Bellingham memberikan pengakuan jujur yang mengejutkan menjelang laga penentuan perempat final Liga Champions melawan Bayern Munich. Gelandang asal Inggris tersebut mengakui bahwa menyatukan visi dengan dua megabintang, Kylian Mbappe dan Vinicius Junior, terkadang menjadi tantangan tersendiri di lapangan hijau.
Berbicara menjelang laga leg kedua yang akan berlangsung pada Kamis (16/4) dini hari WIB, Bellingham mengungkapkan bahwa keselarasan antara trio lini depan Real Madrid masih merupakan proses yang terus berjalan. Real Madrid saat ini tertinggal agregat 1-2 setelah kekalahan di Santiago Bernabeu pekan lalu.
Masalah Ruang dan Posisi
Masalah utama yang diidentifikasi oleh pemain bernomor punggung 5 ini bukanlah kurangnya talenta, melainkan tumpang tindihnya gaya permainan.
Baca juga: Arbeloa Optimistis Real Madrid Mampu Bangkit Usai Takluk dari Bayern
Baik Vinicius maupun Mbappe secara alami lebih dominan bergerak dari sisi kiri lapangan, sebuah dinamika yang menurut Bellingham terkadang membuat alur serangan Los Blancos menjadi macet.
"Sulit, karena saya masih merasa ada banyak pertandingan di mana kami benar-benar berpadu dengan baik," kata Bellingham ketika ditanya tentang kerja sama dengan rekan-rekan setimnya.
"Kadang-kadang, bisa sulit dengan dua pemain yang secara alami bermain di sisi kiri [Mbappe dan Vini].
"Bisa sulit ketika kita semua berada di sisi yang sama. Arbeloa telah menemukan keseimbangan dengan saya di sisi lain sedikit lebih baik.
"Kami fleksibel, kami memiliki kebebasan untuk bergerak, kadang-kadang itu bisa sedikit mengacaukan, tetapi dengan keduanya, Anda harus percaya pada kemampuan mereka... ketika semuanya berjalan dengan baik, mudah-mudahan seperti besok. Saya pernah melihatnya sebelumnya."
Bellingham menambahkan bahwa pelatih Alvaro Arbeloa telah mencoba mencari keseimbangan dengan menggeser posisinya lebih ke sisi kanan, namun kebebasan bergerak yang diberikan kepada trio ini terkadang justru menciptakan disorganisasi dalam skema permainan.
Ambisi di Balik Musim yang Frustrasi
Bagi Bellingham, pertandingan di Allianz Arena bukan sekadar laga biasa. Ia menyebut potensi tersingkirnya Madrid dari Eropa sebagai sebuah bencana, mengingat posisi mereka yang kini tertinggal sembilan poin dari Barcelona di La Liga.
“Saya rasa ini akan sulit, dan kesalahan kami sendiri karena tertinggal di papan skor. Pertandingan akan berlangsung lama, dan kami harus memulai dengan kuat. Kekalahan apa pun adalah bencana, dan mengingat posisi kami saat ini, ini adalah final,” ujarnya.
Baca juga: Bayern Cuma Unggul Satu Gol, Kompany Waspadai Remontada Real Madrid
"Banyak yang dipertaruhkan, dan kami harus bermain bagus. Ini semua atau tidak sama sekali. Itulah mentalitas kami, dan kami tidak akan bersembunyi. Kami percaya karena kami tidak punya peluang lain. Ini adalah pertandingan yang harus kami mainkan dan menangkan.
“Ini adalah pertandingan yang sangat penting mengingat situasi kami di La Liga, dan kami juga tidak berada di Copa America. Ini seperti final. Kami ingin bersaing dan memenangkan Liga Champions. Kami ingin bermain untuk memenangkan gelar. Ini adalah pertandingan yang sangat penting, dan kami akan memberikan yang terbaik untuk menang.”
Pemain internasional Inggris ini juga mengakui bahwa musim 2025-26 adalah periode yang cukup membuatnya frustrasi secara pribadi karena beberapa kali diganggu cedera. Ia berharap laga melawan Bayern akan menjadi momen di mana koneksi antara dirinya, Mbappe, dan Vinicius benar-benar klik untuk membalikkan keadaan.
Kegagalan di Munich tidak hanya akan mengakhiri mimpi Eropa Madrid, tetapi juga meningkatkan tekanan pada kursi kepelatihan Alvaro Arbeloa. Setelah tersingkir lebih awal di Copa del Rey oleh Albacete dan tertatih di liga, Liga Champions menjadi satu-satunya jalur realistis bagi Madrid untuk meraih trofi musim ini.