Panggung kompetisi antarklub tertinggi di Eropa, Liga Champions, telah resmi mengukir sejarah baru dengan mengadopsi sistem 'Model Swiss', sebuah perombakan taktis dan struktural paling radikal dalam beberapa dekade terakhir. 

Format baru ini menggantikan sistem babak grup tradisional yang telah digunakan selama bertahun-tahun, mengubah lanskap persaingan menjadi lebih dinamis, ketat, dan tak tertebak sejak peluit pertama dibunyikan.

Dari Babak Grup ke Klasemen Tunggal

Perbedaan paling mendasar antara format baru dan sistem lama terletak pada struktur fase awal kompetisi. Di bawah sistem klasik, 32 tim peserta dibagi secara merata ke dalam delapan grup yang masing-masing berisi empat klub. 

Setiap tim bertanding sebanyak enam kali dengan format kandang dan tandang melawan tiga musuh yang sama di dalam grup mereka.

Baca juga: Asal Usul Sebutan Derby El Clasico dan Derby Della Madonnina

Model Swiss menghapus pembagian grup mini tersebut secara penuh. Sebagai gantinya, jumlah peserta diperluas menjadi 36 klub yang seluruhnya disatukan ke dalam satu tabel klasemen raksasa. 

Konsep pertarungan berulang melawan tiga tim yang sama juga telah ditinggalkan. Dalam format baru ini, setiap klub diwajibkan memainkan delapan pertandingan di fase liga melawan delapan lawan yang berbeda, empat laga dimainkan di markas sendiri dan empat laga lainnya di kandang lawan. 

Lawan-lawan ini ditentukan melalui pengundian berbasis empat pot unggulan, sehingga setiap tim dipastikan bertemu dengan dua wakil dari masing-masing pot, termasuk pot unggulan teratas.

Mekanisme Kelolosan dan Eliminasi Tanpa Ampun

Sistem penentuan tim yang berhak melangkah ke babak gugur juga mengalami perubahan total. Pada format lama, dua tim teratas dari masing-masing grup secara otomatis melenggang ke babak 16 besar, sementara tim peringkat ketiga mendapatkan tiket hiburan untuk turun kasta bertanding di Liga Europa.

Dalam format Model Swiss, rute menuju babak gugur menjadi jauh lebih kompetitif. Delapan tim teratas di klasemen akhir liga tunggal akan langsung mengamankan tempat di babak 16 besar. 

Baca juga: Pengertian Financial Fair Play FFP dan Dampaknya Bagi Klub

Sementara itu, tim yang mengakhiri fase liga di peringkat ke-9 hingga ke-24 harus melewati babak play-off tambahan bersistem gugur dua leg untuk memperebutkan delapan tiket tersisa. 

Hukuman berat menanti tim yang terdampar di peringkat ke-25 hingga ke-36, karena mereka akan langsung tersingkir dari kompetisi Eropa tanpa adanya jaring pengaman untuk berlaga di Liga Europa.

Intensitas Tinggi dan Menghilangnya Laga Formalitas

Perubahan struktur ini membawa dampak besar pada intensitas pertandingan di atas lapangan. Pada format lama, tim-tim raksasa yang sudah mengunci posisi dua besar sering kali menurunkan skuad cadangan pada pertandingan kelima atau keenam babak grup karena hasilnya tidak lagi memengaruhi kelolosan mereka.

Di bawah Model Swiss, fenomena 'laga formalitas' tersebut berhasil dikikis. Karena selisih gol dan perolehan poin dari seluruh 36 tim diakumulasikan dalam satu papan klasemen yang sama, setiap gol dan setiap kemenangan hingga pekan terakhir menjadi sangat krusial untuk menentukan posisi kelolosan langsung atau menghindari babak play-off yang menguras fisik. 

Model Swiss tidak hanya menyajikan lebih banyak laga sengit antarklub raksasa sejak awal, tetapi juga menuntut konsistensi performa di tingkat tertinggi sepanjang fase liga.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!