Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Adu penalti selalu menjadi puncak dari segala drama dalam sepak bola. Ketika dominasi taktik dan ketahanan fisik selama 120 menit tidak cukup untuk memisahkan dua tim terbaik, takdir gelar juara terpaksa digantungkan pada ketenangan algojo serta ketangkasan penjaga gawang dari titik putih.
Dalam sejarah panjang kompetisi sepak bola tertinggi di tanah air, mulai dari era Perserikatan hingga Indonesia Super League (ISL), panggung final beberapa kali melahirkan momen tak terlupakan yang diakhiri oleh adu penalti mendebarkan.
Momen paling ikonis dalam sejarah kompetisi era modern terjadi pada 7 November 2014 di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang. Partai puncak ISL 2014 mempertemukan dua kekuatan utama sepak bola nasional, Persib Bandung dan juara bertahan Persipura Jayapura.
Baca juga: Kiper dengan Penyelamatan Terbanyak dalam Sejarah Adu Penalti Final Turnamen Besar
Pertandingan berlangsung sengit dan penuh emosi. Setelah bermain imbang 2-2 hingga akhir babak perpanjangan waktu, di mana Persib mencetak gol lewat bunuh diri Imanuel Wanggai dan aksi Muhammad Ridwan, sementara Persipura membalas via Ian Louis Kabes dan Boaz Solossa, juara harus ditentukan lewat adu penalti.
Di babak tos-tosan, penjaga gawang Persib, I Made Wirawan, tampil sebagai pahlawan setelah menggagalkan sepakan gelandang Persipura, Nelson Alom. Bek tengah Achmad Jufriyanto yang maju sebagai penendang kelima dengan tenang memperdaya Dede Sulaiman. Persib menang 5-3 di babak adu penalti sekaligus mengakhiri dahaga gelar juara Liga Indonesia selama 19 tahun.
Sebelum era Liga Indonesia bergulir, kompetisi Perserikatan pernah menyajikan salah satu laga final paling legendaris dalam sejarah olahraga nasional. Pada 23 Februari 1985, PSMS Medan bertemu Persib Bandung di Stadion Utama Senayan (sekarang Gelora Bung Karno), Jakarta.
Baca juga: Bagaimana Prosedur dan Aturan Resmi Adu Penalti FIFA Dalam Menentukan Pemenang?
Laga ini tercatat dalam sejarah dengan kehadiran sekitar 150.000 penonton yang memadati stadion, menjadikannya salah satu pertandingan dengan jumlah penonton terbanyak dalam sejarah sepak bola Asia. Setelah bermain imbang 2-2 hingga masa extra time, pertandingan terpaksa berlanjut ke adu penalti.
Kiper legendaris PSMS Medan, Ponirin Meka, tampil luar biasa di bawah mistar dengan menepis sejumlah eksekusi pemain Persib. Ayam Kinantan akhirnya keluar sebagai juara usai menang adu penalti 2-1, sekaligus mempertahankan mahkota juara Perserikatan yang juga mereka raih dua tahun sebelumnya.
Dua tahun sebelum duel kolosal 1985, PSMS Medan dan Persib Bandung telah lebih dulu mengukir drama serupa di tempat yang sama. Final Perserikatan 1983 yang berlangsung pada 10 November 1983 di Stadion Utama Senayan berakhir tanpa gol 0-0 selama 120 menit pertarungan ketat.
Baca juga: Daftar Klub Sepak Bola yang Memenangkan Trofi Melalui Babak Adu Penalti
Dalam drama titik putih, ketenangan para pemain PSMS Medan kembali menjadi pembeda. Skuad asal Sumatra Utara tersebut berhasil mengungguli Pangeran Biru dengan skor 3-2 di babak adu penalti, mengunci gelar juara Perserikatan musim 1983.