Menjelang partai final Supercoppa Italiana melawan Bologna di Al-Awwal Park, pelatih Napoli Antonio Conte meluapkan rasa frustrasinya terhadap para kritikus yang ia nilai kurang menghargai pencapaian bersejarah klub musim lalu.

Conte menegaskan bahwa keberhasilan Napoli merengkuh gelar Scudetto 2024-25 adalah sebuah keajaiban yang dianggap sebelah mata oleh banyak pihak, sementara perjuangan mereka musim ini terus dihantam oleh badai cedera yang tak berkesudahan.

Pembelaan Atas Gelar Scudetto

Dalam konferensi pers sebelum laga, Conte tidak menahan diri saat membahas persepsi publik terhadap gelar juara liga Napoli musim lalu. 

Ia merasa pencapaian timnya yang bangkit dari posisi ke-10 di musim sebelumnya untuk menjadi juara Italia sering kali dipandang sebelah mata atau dianggap sebagai kebetulan.

Baca juga: Napoli Bungkam Milan 2-0: Dominasi Hojlund Antar Partenopei ke Final Supercoppa

"Kita tidak boleh melupakan posisi kami sebelumnya. Kita memenangkan Scudetto yang luar biasa setelah finis di posisi ke-10 pada musim sebelumnya. Itu adalah sesuatu yang kurang ditekankan," tegas Conte. 

“Saya sudah mengatakan bahwa ini akan menjadi tahun yang sulit karena kami mendatangkan sembilan pemain baru, tetapi pada akhirnya, kami berada di posisi yang seharusnya di liga.”

Seperti yang diketahui pada musim 2022–23, Napoli meraih gelar Serie A untuk pertama kalinya sejak musim 1989–90, dan gelar ketiga mereka secara keseluruhan.

Namun musim selanjutnya, Napoli menjalani musim terburuk sebagai juara bertahan dan merasakan tiga pelatih yang berbeda. Untungnya kedatangan Conte kembali membawa kejayaan di kota Naples, dengan meraih gelar juara pada musim lalu.

Badai Cedera dan Revolusi Taktis

Memasuki paruh pertama musim 2025-26, Napoli memang harus berjuang ekstra keras. 

Badai cedera menghantam pilar-pilar penting seperti Andre-Frank Zambo Anguissa, Billy Gilmour, hingga Kevin De Bruyne dan Alex Meret. Sementara Romelu Lukaku baru saja kembali dari cedera panjang. Situasi ini memaksa Conte melakukan rotasi darurat dengan mengubah sistem permainan dan memaksimalkan pemain yang tersedia.

Meski diterpa jadwal padat dan keterbatasan opsi, Napoli berhasil menembus final setelah menumbangkan AC Milan 2-0 di semifinal. David Neres dan Rasmus Højlund, yang dipuji Conte karena adaptasi cepatnya sebagai pemain pinjaman, menjadi kunci kemenangan tersebut.

“Kami datang ke sini untuk bermain di Supercoppa, dan kami berada di final. Kami memiliki kesempatan untuk memenangkan gelar dan melaju di kompetisi lain. Banyak yang lupa bahwa kami mengalami cedera serius pada pemain-pemain penting,” jelasnya.

Baca juga: Conte Ungkap Perjuangan Napoli Menuju Final Supercoppa Italiana

Menatap Bologna di Final

Lawan yang menanti di final, Bologna, bukanlah tim sembarangan. Skuad asuhan Vincenzo Italiano tersebut melaju ke partai puncak setelah menyingkirkan Inter Milan lewat drama adu penalti. Menariknya, Bologna memiliki catatan positif atas Napoli musim ini, termasuk kemenangan 2-0 di Serie A bulan lalu.

Meski demikian, Conte merasa timnya berada di posisi psikologis yang tepat. Ia menekankan pentingnya mentalitas haus gelar kepada para pemainnya, terutama dengan kembalinya Romelu Lukaku di bangku cadangan setelah absen panjang.

“Pertandingan liga melawan Bologna jelas bukan hasil yang positif bagi kami. Kami kalah 2-0, di mana mereka menunjukkan permainan yang jauh lebih baik dari kami di babak kedua. Cedera memaksa kami untuk mencari solusi baru,” ucap Conte.

“Baik itu kemenangan atau kekalahan, Anda selalu harus memulai dari awal. Dari kekalahan, Anda menganalisis apa yang salah. Kami melakukannya dengan tenang dan jujur ​​dan meraih lima hasil bagus berturut-turut. Kami terpeleset dua kali tetapi memulai dengan baik (di Supercoppa Italiana) melawan Milan.”

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!