Dalam sebuah serangan tajam terhadap kepemimpinan sepak bola dunia, Presiden La Liga Javier Tebas mendesak Presiden FIFA Gianni Infantino untuk mengundurkan diri. Tebas menuduh badan pengatur tersebut telah merusak industri sepak bola akibat ekspansi kompetisi internasional yang terus-menerus hingga mengorbankan liga domestik.

Berbicara kepada surat kabar Italia La Gazzetta dello Sport, Tebas melontarkan kritik pedas menyusul proposal baru untuk memperluas Piala Dunia pria menjadi 64 tim pada turnamen 2030 mendatang.

"Menurut pendapat saya, ya, saya pikir waktunya sudah habis," ujar Tebas ketika ditanya secara langsung apakah Infantino harus mengundurkan diri. "Menambah jumlah tim nasional sama sekali tidak masuk akal. Industri sepak bola bukan cuma Piala Dunia.”

"Sistem yang Busuk dari Akarnya"

Pernyataan Tebas menyoroti keretakan yang kian mendalam antara liga-liga domestik Eropa dan FIFA, yang dipicu oleh kekhawatiran atas kesejahteraan pemain, padatnya jadwal pertandingan, serta keberlanjutan ekonomi. 

Ia berargumen bahwa fokus FIFA pada turnamen-turnamen raksasa mengorbankan ekosistem dasar yang mendanai sepak bola Eropa sepanjang tahun.

Baca juga: Infantino Konfirmasi FIFA Buka Peluang Ekspansi Piala Dunia Menjadi 64

"Kompetisi nasionallah yang menopang olahraga ini. Mereka menghancurkan industri sepak bola, yang menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja, untuk sebuah acara yang berlangsung selama 40 hari dan melibatkan sebagian kecil pemain,” tambahnya.

“Apakah pemain terbaik ada di sana? Jelas, tetapi mereka juga ada di liga kita. Kita membutuhkan lebih sedikit pertandingan internasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola nasional, di semua tingkatan. Mereka tidak menyadari bahwa mereka membuat keputusan yang tidak bertanggung jawab."

Meskipun menyuarakan perlunya perubahan, Tebas mengakui bahwa melengserkan Infantino, yang mengumumkan rencananya untuk maju kembali dalam pemilihan FIFA 2027 di Maroko, adalah perjuangan yang berat.

"Dia seharusnya tidak tetap menjabat, tetapi keadaan saat ini berarti dia tidak akan pergi," tegas Tebas.

“Dia mendapat dukungan dari sistem, dari federasi. Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang mau maju hanya untuk kalah. Ini adalah sistem yang busuk dari akarnya.”

Gelombang Ketidakpuasan yang Kian Membesar

Bos La Liga tersebut juga mengkritik keputusan operasional dalam acara-acara FIFA belakangan ini, menggambarkan jeda iklan dan jeda minum (hydration break) di tengah pertandingan sebagai trik korporat alih-alih kebutuhan struktural.

Tebas juga mempertanyakan keputusan FIFA untuk menunda larangan satu pertandingan yang diberikan kepada striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, setelah menerima kartu merah selama Piala Dunia. Keputusan itu dibuat setelah intervensi Presiden AS Donald Trump. Belgia mengalahkan Amerika Serikat 4-1 di babak 16 besar.

"Penangguhan larangan pemain Amerika itu adalah masalah yang sangat serius. Mereka beruntung Belgia menyingkirkan AS, karena jika tidak, kasus bisa muncul yang mungkin akan membuat Infantino kehilangan pekerjaannya,” ucap Tebas.

Baca juga: Presiden CONMEBOL Klaim Piala Dunia 2030 akan Diikuti 64 Tim

"Karena Belgia menang, mereka berhasil mengubur masalah ini. Tetapi hal-hal ini hanyalah puncak gunung es."

Kecaman keras ini bertepatan dengan penolakan yang makin meluas di kancah sepak bola Eropa. Koalisi suporter seperti Football Supporters Europe (FSE) juga menyuarakan kekhawatiran serupa terkait melonjaknya harga tiket, jadwal yang terlalu padat, serta prioritas pada tontonan komersial ketimbang tata kelola sepak bola tradisional.

Dengan FIFA yang terus melangkah maju lewat format-format baru yang diperluas—termasuk Piala Dunia Antarklub 32 tim dan rencana Piala Dunia 64 tim, garis konfrontasi antara Zurich dan liga-liga papan atas Eropa kini terbentang semakin tajam.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!