Thomas Tuchel menegaskan dirinya tidak akan mundur dari kursi kepelatihan tim nasional Inggris. Hanya beberapa menit setelah kekalahan menyakitkan 2-1 dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026, pelatih asal Jerman tersebut memastikan akan tetap memimpin skuad Tiga Singa hingga Euro 2028.

Keputusan ini memicu perdebatan sengit setelah taktik defensif Tuchel dituding menjadi penyebab utama kegagalan Inggris mempertahankan keunggulan. Namun, dengan perpanjangan kontrak yang sudah ditandatangani sejak Februari lalu, baik Tuchel maupun FA sepakat bahwa proyek jangka panjang menuju Piala Eropa di rumah sendiri tidak boleh terhenti karena patah hati di Atlanta.

Bencana Taktik di Babak Kedua

Inggris sebenarnya sempat membuka asa untuk lolos ke final Piala Dunia pertama mereka sejak 1966. Gol klinis Anthony Gordon pada menit ke-55 yang memanfaatkan umpan silang matang dari Morgan Rogers membuat publik Inggris bersorak.

Baca juga: Inggris 1-2 Argentina: Dua Asis Messi Bawa Albiceleste ke Final Piala Dunia 2026

Namun, petaka dimulai ketika Tuchel memilih bermain aman. Ia menarik keluar Gordon dan memasukkan bek Ezri Konsa untuk mengubah formasi menjadi 5-4-1 yang sangat defensif. Identitas agresif dan tekanan tinggi yang biasa ditunjukkan Inggris mendadak hilang, memberikan keleluasaan penuh bagi Lionel Messi dan kolega untuk membombardir pertahanan Inggris.

Pertahanan rapat itu akhirnya jebol juga. Enzo Fernández menyamakan kedudukan pada menit ke-86, sebelum Lautaro Martínez mencetak gol kemenangan dramatis melalui sundulan pada menit ke-92 memanfaatkan umpan silang Messi.

“Kami memutuskan untuk menggunakan formasi lima bek karena celah di antara mereka terlalu terbuka,” kata Tuchel. “Argentina bermain lebih berisiko, bermain dengan ritme yang lebih baik, dan bermain dengan perasaan bahwa mereka tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, yang membuat mereka lebih leluasa dan membuat kami tertekan. 

“Karena kami jelas tiba-tiba bermain dengan perasaan bahwa kami memiliki banyak hal untuk dipertaruhkan. Tentu saja tanggung jawab ada pada pelatih dan jika hasilnya tidak baik, mudah untuk mengatakan bahwa itu salah.”

Fokus Penuh ke Euro 2028

Meski mendapat gelombang kritik tajam akibat pergantian pemain yang terlalu defensif, Tuchel langsung menepis spekulasi mengenai masa depannya. Targetnya kini beralih ke Euro 2028 yang akan digelar di Inggris dan Irlandia.

Baca juga: Harry Kane Akui Taktik Parkir Bus Inggris Berujung Petaka Lawan Argentina

"Kami akan terus melanjutkan kontrak hingga Euro di kandang sendiri,” tegas Tuchel.

“Saya menantikan itu meskipun saat ini sulit untuk memikirkan sejauh itu."

Tuchel awalnya didatangkan karena reputasinya sebagai pakar taktik kelas dunia yang bisa memenangi laga-laga besar dengan detail kecil. Namun, keputusannya memasukkan pemain seperti Dan Burn dan Nico O'Reilly untuk bertahan justru menjadi bumerang yang akan terus diungkit publik.

Inggris kini harus segera bangkit untuk menghadapi Prancis dalam laga perebutan tempat ketiga akhir pekan ini. Setelah itu, fokus sepenuhnya akan dialihkan ke Piala Eropa. Tuchel memilih bertahan, tetapi masa bulannya madunya telah usai. Jika ingin bertahan hingga 2028, ia harus membuktikan bahwa ia berani membawa Inggris bermain seperti tim raksasa, bukan kalah karena rasa takut.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!