Lionel Scaloni mengakui bahwa Spanyol tampil lebih baik saat menumbangkan Argentina 1-0 di final Piala Dunia 2026 pada Senin (20/7) dini hari WIB. 

Meski gagal mempertahankan gelar juara, pelatih Albiceleste tersebut menegaskan dirinya tetap bangga luar biasa karena para pemainnya telah memberikan segalanya dan bertarung habis-habisan di lapangan hingga menit akhir.

Kekalahan Menyakitkan

Kekalahan menyakitkan lewat gol babak perpanjangan waktu Ferran Torres pada menit ke-106 memaksa Argentina merelakan takhta sepak bola dunia berpindah tangan. 

Namun, alih-alih mencari dalih atas badai cedera dan kartu merah yang menimpa timnya, Scaloni memilih untuk memberikan penghormatan tinggi kepada sang lawan sekaligus memuji spartanisme anak asuhnya.

“[Saya merasa] sedih, tetapi juga bangga karena kami telah memberikan segalanya. Ada banyak hal yang bisa saya katakan tentang bagaimana kami sampai sejauh ini, tetapi sekarang bukan waktunya,” kata Scaloni usai laga. 

Baca juga: Spanyol Juara Piala Dunia 2026 usai Kalahkan Argentina 1-0 di Perpanjangan Waktu

“Saya akan selamanya berterima kasih kepada para pemain ini karena telah memberi kami final Piala Dunia lainnya dan karena telah berjuang hingga akhir. Spanyol adalah tim yang lebih baik; itulah kenyataannya.”

Runtuh di Babak Perpanjangan Waktu

Selama 105 menit, Argentina menyajikan performa memukau saat bertahan. Di tengah kelelahan fisik yang ekstrem, Scaloni dipaksa menarik keluar tiga bek pilarnya, termasuk duet jangkar Lisandro Martínez dan Cristian Romero, akibat cedera. 

Situasi kian pelik setelah Enzo Fernández diganjar kartu merah di penghujung babak kedua.

Satu-satunya alasan Argentina mampu bertahan dari gempuran tiada henti La Roja adalah aksi heroik Emiliano "Dibu" Martínez yang mencatatkan 11 penyelamatan gemilang. Namun, benteng pertahanan itu akhirnya runtuh di menit ke-106 saat Torres menyambar umpan silang tepat ke langit-langit gawang.

“Kami harus mengganti tiga dari empat pemain bertahan. Itu bukan alasan, tetapi dampak fisiknya sangat besar,” jelas Scaloni

“Para pemain ini datang dalam kondisi terbaik dan melakukan upaya terakhir, tetapi melawan tim seperti itu, jika Anda tidak dalam performa puncak, Anda bisa menanggung akibatnya. Tetapi jika ada satu tim yang mampu bertahan dalam pertandingan hingga akhir, itu adalah kami.”

Kalah dengan Kepala Tegak

Meski pedih harus melepas status juara bertahan, Scaloni menegaskan bahwa hasil satu pertandingan ini tidak akan menodai tinta emas yang telah ditorehkan generasi emas Argentina. 

Sejak mengambil alih tim pada 2018, ia telah mempersembahkan dua trofi Copa América dan gelar juara dunia abadi di Qatar 2022.

“Saya akan selalu menghargai apa yang telah mereka lakukan dan apa artinya telah sampai sejauh ini. Kita harus sangat menghargai itu karena ini sangat sulit. Kita tahu bagaimana menang, dan kita juga harus tahu bagaimana kalah. Hari ini kita menunjukkannya. Kita kalah dalam pertandingan dan kita harus menerimanya. Tetapi itu tidak berarti kita akan melupakan semua yang telah kita lakukan untuk sampai di sini,” tambahnya.

Baca juga: De La Fuente Puji Kebersamaan Skuad Usai Spanyol Jadi Kunci Juara Piala Dunia

“Saya ingin berterima kasih kepada para penggemar, para pemain saya, dan negara, dan memberi tahu mereka bahwa kami telah memberikan segalanya. Kenyataannya adalah kami memasuki pertandingan dengan tangan terikat. Tetapi ketika para pemain memberikan segalanya seperti yang mereka lakukan hari ini, mereka memberikan contoh yang bagus bagi rakyat dan negara kita. Dan yang terpenting, ketika Anda kalah, Anda tidak punya pilihan selain bangkit dan terus maju.”

Isyarat Akhir Era Scaloni

Suasana ruang pers berubah emosional ketika Scaloni mengisyaratkan bahwa perjalanan panjangnya menakhodai Albiceleste mungkin akan segera berakhir, dengan kontraknya yang akan berakhir pada Desember. Beban psikologis dan fisik yang berat selama empat tahun terakhir tampak puncaknya malam itu.

Saya akan berbicara dengan presiden [AFA, Claudio Tapia]. Saya sudah punya gambaran kasar tentang apa yang ingin saya lakukan,” ujar Scaloni.

“Saya akan menyelesaikan kontrak saya dan kemudian kita lihat nanti. Sejujurnya, saya merasa perlu waktu untuk berpikir juga karena saya tidak tahu apakah kita akan pernah bisa melakukan sesuatu sebesar ini lagi... sesuatu yang diimpikan semua orang.”

Dengan kalimat penutup tersebut, Scaloni beranjak meninggalkan ruangan. Ia pulang dari Amerika Serikat tanpa trofi emas di tangan, namun statusnya sebagai salah satu pelatih terbesar dalam sejarah sepak bola Argentina tetap tidak tergoyahkan.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!