Messi Emosional, Ungkap Hari-Hari Sulit di Balik Hat-trick Bersejarah
Kapten Argentina, Lionel Messi, akhirnya membuka suara soal tangisannya yang pecah usai mencetak gol dalam kemenangan 3-0 atas Aljazair di babak grup Piala Dunia 2026.
Megabintang berusia 38 tahun tersebut mengakui bahwa emosi luar biasa yang meluap di atas lapangan dipicu oleh masalah pribadi yang berat, mengungkapkan bahwa dirinya baru saja melewati hari-hari yang sulit dan rumit di luar sepak bola.
Magis Messi di Kansas
Meski tengah dirundung masalah personal, Messi tetap tampil magis di Stadion Kansas City. Sang maestro memborong seluruh tiga gol kemenangan La Albiceleste, sekaligus menyamai rekor legendaris Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan torehan 16 gol.
Namun, alih-macam selebrasi penuh senyum, Messi justru tertangkap kamera menyembunyikan wajahnya dan menangis tersedu-sedu di pelukan rekan-rekan setimnya setelah mencetak gol pembuka pada menit ke-17.
Baca juga: Hat-trick Bersejarah Messi Bawa Argentina Bungkam Aljazair 3-0
"Hari yang Berat dan Rumit"
Berbicara kepada wartawan pascapertandingan sambil memegang trofi Man of the Match, Messi memberikan sedikit kejelasan tentang air mata yang sempat membuat jagat sepak bola khawatir.
"Sejujurnya, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Saya baru saja melewati hari-hari yang berat dan rumit," aku Messi.
"Saya sangat berterima kasih kepada seluruh delegasi dan rekan-rekan setim. Mereka selalu ada di sana, seperti biasa, di sisi saya. Mereka memberi saya banyak kekuatan agar saya bisa baik-baik saja, dan itu saja."
Meski ikon Inter Miami tersebut menolak menjelaskan lebih rinci mengenai sifat masalah pribadinya, kerentanan yang ia tunjukkan berbicara banyak. Bagi seorang pemain yang telah menghabiskan lebih dari dua dekade di bawah tekanan ekspektasi global, momen ini menjadi pengingat bagi semua orang bahwa ada sisi manusiawi yang rapuh di balik jersey bernomor punggung 10 itu.
Menulis Sejarah di Tengah Rasa Sakit
Jika Messi sedang memikul beban berat di pundaknya, hal itu sama sekali tidak terlihat dari performanya di lapangan. Laga ini menjadi panggung gemilang dari sang kapten untuk mengandaskan perlawanan sengit Aljazair.
Setelah gol pertamanya yang emosional lewat sepakan melengkung kaki kiri, Messi kembali mencetak gol pada menit ke-60 memanfaatkan bola muntah hasil tendangan keras Alexis Mac Allister.
Ia melengkapi hat-trick ke-61 sepanjang kariernya di menit ke-76 lewat eksekusi gemilang dari tepi kotak penalti yang bersarang rendah di pojok gawang Luca Zidane.
Baca juga: Pulih dari Cedera, Messi Siap Habis-Habisan Bersama Argentina di Piala Dunia 2026
Dengan tambahan tiga gol ini, Messi resmi mengukir sejarah baru di panggung tertinggi sepak bola dunia.
Seperti biasa, Messi memilih merendah saat ditanya mengenai keberhasilannya menyamai rekor Klose dan melangkahi Ronaldo.
"Sejujurnya, saya tidak terlalu memikirkan angka-angka itu," ujar Messi.
“Suatu kehormatan berada di sana karena apa artinya berada di sana di samping Klose, Ronaldo (Brasil) juga ada di sana, tetapi saya rasa itu tidak berarti apa-apa.
"Mbappe ada di sana, dia mencetak dua gol hari ini. Itu hanya statistik dan tidak lebih. Meskipun merupakan suatu kehormatan untuk dapat bersaing dengan mereka semua, itu tidak berarti apa-apa bagi saya.
"Ronaldo, dari apa yang saya lihat, adalah salah satu yang terhebat dan dia tidak berada di posisi pertama, jadi semuanya bermuara pada statistik."
Argentina akan berusaha memastikan tempat mereka di babak gugur saat bersiap menghadapi Austria pada laga berikutnya. Apakah Messi akan memecahkan rekor Klose secara mutlak pada malam itu masih harus dinanti, namun setelah malam penuh emosi di Kansas City, jelas terlihat bahwa putra terbaik Argentina ini sedang memperjuangkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar angka di buku sejarah.