Edouard Mendy Tegaskan Senegal Juara AFCON, Meski Gelar Dicopot CAF
Kiper andalan Senegal, Edouard Mendy, menegaskan bahwa status negaranya sebagai raja sepak bola Afrika tidak bisa dihapus oleh keputusan administratif apa pun. Pernyataan keras ini muncul setelah skuad Teranga Lions melakukan aksi teatrikal yang menantang dengan memamerkan trofi Piala Afrika (AFCON) di hadapan publik Stade de France, Sabtu (28/03/2026), meski gelar mereka baru saja dicabut secara resmi.
Insiden ini menjadi puncak dari ketegangan antara Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) dan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) pasca-final kontroversial Januari lalu.
Parade Trofi di Paris
Sebelum laga persahabatan melawan Peru dimulai, kapten Kalidou Koulibaly memimpin rekan-rekannya mengitari stadion sambil mengangkat trofi AFCON tinggi-tinggi.
Baca juga: Sebut Gelar Juara AFCON Dirambok, Senegal Siap Beri Perlawanan
Tidak hanya itu, Senegal turun bertanding dengan kostum yang masih menyematkan dua bintang di atas logo federasi, melambangkan gelar tahun 2021 dan gelar 2025 yang kini sedang disengketakan.
Mendy mengatakan bahwa tidak ada keputusan di atas kertas yang bisa menghapus kenyataan apa yang terjadi di lapangan.
"Pertanyaan saya adalah: mengapa saya tidak boleh merasa sebagai juara Afrika? Mengapa? Anda tidak punya alasan untuk membuat saya merasa bahwa Anda bukan juara," kata Mendy.
"Semua orang merasa bahwa Senegal adalah juaranya. Jadi tidak ada pertanyaan tentang itu. Ada pertandingan di lapangan, kami memenangkannya.
"Ada pertandingan lain, tetapi di lapangan lain, yang sayangnya tidak dapat kami kendalikan. Tetapi orang-orang ini, sayangnya, mereka tidak berada di level yang sama.
"Permainan sepak bola di lapangan oleh para pemain sepak bola Afrika lebih cepat daripada orang-orang di kantor ini. Ini memalukan bagi Afrika, tetapi hal-hal ini perlu diubah, dan kita perlu berada di level yang sama di mana-mana."
Kronologi Pencabutan Gelar
Kemarahan Senegal berakar pada keputusan Dewan Banding CAF pertengahan Maret ini yang membatalkan kemenangan 1-0 Senegal atas tuan rumah Maroko di final Januari lalu. CAF memutuskan untuk memberikan kemenangan administratif 3-0 kepada Maroko.
Baca juga: Senegal Resmi Gugat CAF ke CAS Terkait Pencopotan Gelar AFCON
Alasannya, skuad Senegal dianggap melakukan "aksi mogok" atau mengundurkan diri setelah sempat meninggalkan lapangan selama kurang lebih 17 menit sebagai protes atas penalti yang diberikan kepada Maroko di masa injury time.
Meski akhirnya kembali ke lapangan dan Edouard Mendy berhasil menepis penalti Brahim Diaz sebelum menang di babak perpanjangan waktu, CAF menilai pelanggaran disiplin tersebut tetap menggugurkan hasil pertandingan.