Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Didier Deschamps resmi menyelesaikannya secara menyakitkan. Sebuah babak pertama yang hancur lebur dan berujung kekalahan 6-4 dari Inggris dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 pada Minggu menjadi akhir dari 14 tahun era kepelatihannya bersama tim nasional Prancis. Tanpa menghindar, sang pelatih berusia 57 tahun itu langsung pasang badan dan bertanggung jawab penuh atas penampilan skuadnya yang ia sebut sama sekali tidak bisa diterima.
Laga di Miami Stadium tersebut menampilkan kehancuran tak terduga bagi pelatih yang dikenal lewat kedisiplinan taktiknya. Prancis tertinggal 4-0 di babak pertama setelah Declan Rice, Ezri Konsa, dan dua gol Bukayo Saka merobek lini pertahanan Les Bleus. Ini merupakan kali pertama dalam sejarah timnas Prancis mereka kebobolan empat gol dalam satu babak di ajang Piala Dunia.
Deschamps merespons bencana tersebut dengan melakukan tiga pergantian pemain sekaligus sebelum babak kedua dimulai. Langkah tegas ini memicu kebangkitan cepat dari Prancis. Kylian Mbappé mencetak dua gol, sekaligus memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa di putaran final Piala Dunia dengan total 22 gol, diikuti oleh gol dari Bradley Barcola yang memperkecil jarak menjadi 4-3.
Baca juga: Saka Cetak Hattrick saat Inggris Bungkam Prancis 6-4 dalam Perebutan Juara Ketiga
Namun, kendati Prancis sempat mengancam untuk menyamakan kedudukan, gol-gol tambahan dari Saka dan Jude Bellingham di menit-menit akhir memastikan kemenangan Inggris dalam laga perebutan medali perunggu paling tinggi skornya sepanjang sejarah Piala Dunia tersebut.
"Ini adalah sebuah kekalahan, dan kami sempat tertinggal 0-4. Kami menampilkan babak pertama yang sangat tidak bisa diterima," ujar Deschamps. "Ada reaksi, dengan hal-hal yang kami tahu cara melakukannya dengan baik. Kami memiliki dua peluang untuk membuat skor menjadi 4-4, tetapi kami sedikit lebih agresif.
"Itulah yang kami tahu cara melakukannya, tetapi kami tidak melakukannya. Ini kesalahan saya karena saya mungkin tidak melakukan apa yang dibutuhkan di babak pertama."
Meski laga pamungkasnya diwarnai hasil yang mengecewakan, hasil ini tidak mengikis warisan luar biasa yang ditinggalkan Deschamps. Ditunjuk pada tahun 2012 untuk membenahi puing-puing kehancuran pasca-Piala Dunia 2010, Deschamps sukses mengembalikan kebanggaan, standar tinggi, dan mental juara ke tubuh skuad Les Bleus.
Dalam 185 pertandingan selama masa jabatannya, Deschamps mencatatkan 120 kemenangan. Ia memimpin Prancis menembus final Euro 2016, meraih trofi Piala Dunia 2018 di Rusia, menjuarai UEFA Nations League 2021, serta kembali melangkah ke final Piala Dunia 2022 di Qatar.
Baca juga: "Kami Terlalu Ceroboh": Mbappé Kritisi Performa Prancis usai Kalah dari Spanyol
Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) memberikan penghormatan mendalam kepada sang pelatih atas pengabdiannya selama lebih dari dua dekade, baik sebagai pemain maupun pelatih. Deschamps sendiri mengakui bahwa meski akhir perjalanannya terasa pahit, rasa syukurnya tidak pernah pudar.
"Akan lebih baik jika kami finis di posisi ketiga," ujarnya. "Kami datang ke sini dengan ambisi yang besar. Kami berhasil melakukan beberapa hal positif.
"Kami gagal dalam pertandingan melawan Spanyol dan mereka tahu bagaimana bermain melawan kami. Ini adalah tim dengan kualitas sepak bola yang bagus. Ada cukup bakat untuk mendapatkan hasil," tambah Deschamps.
"Dari segi personal, ini adalah petualangan yang indah. Delapan minggu, sungguh indah."
Prancis kini bersiap membuka lembaran baru di bawah kepemimpinan pelatih anyar, sementara tirai resmi ditutup untuk salah satu era paling sukses dalam sejarah sepak bola modern.