Pelatih kepala Kroasia, Zlatko Dalic, memandang laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Inggris sebagai penentu nasib timnya musim panas ini. Dalic secara terbuka mengakui bahwa dirinya lebih memilih lawan yang lebih ringan di pertandingan pertama, mengingat skuadnya saat ini tengah berjuang keras menghadapi masalah performa dan kebugaran pemain.

Kroasia memang berhasil memetik kemenangan 2-1 atas Slovenia dalam laga uji coba terakhir sebelum terbang ke Amerika Serikat. Namun, kemenangan tersebut tidak mampu menutupi keraguan besar yang menggelayuti sang pelatih menjelang laga krusial pada 17 Juni mendatang di Dallas Stadium, Texas.

Trauma Euro 2024 dan Risiko Partai Perdana

Dalic menyadari betul besarnya tekanan psikologis yang dibawa oleh sebuah laga pembuka di turnamen besar. Ia berkaca pada kegagalan menyakitkan di Euro 2024 lalu, di mana langkah Kroasia langsung pincang setelah dihantam Spanyol tiga gol tanpa balas di partai perdana, sebuah pukulan telak yang membuat mental anak asuhnya runtuh dan gagal pulih di sisa turnamen.

“Mungkin, karena pertandingan pertama bisa menghancurkan segalanya,” kata Dalic ketika ditanya apakah ia lebih suka bermain melawan Inggris di fase akhir babak penyisihan grup. 

Baca juga: Kroasia 2-1 Slovenia: Gol Menit Akhir Jadi Bekal Kroasia Menuju Piala Dunia

“Di Euro 2024 kami kalah 3-0 dari Spanyol di pertandingan pertama dan kami terpuruk, tidak bisa bangkit kembali. Tetapi di masa lalu kami telah mengalahkan Nigeria [pada tahun 2018] dan bermain imbang dengan Maroko [pada tahun 2022].”

Badai Cedera Menghantui Pilar Vital

Kekhawatiran terbesar pelatih yang membawa Kroasia menjadi runner-up Piala Dunia 2018 dan peringkat ketiga pada 2022 ini terletak pada ruang perawatan. Dua pilar andalan asal Manchester City, Mateo Kovacic dan Josip Gvardiol, saat ini tengah berkejaran dengan waktu untuk memulihkan diri dari cedera.

Kondisi pincang ini membuat tim berjuluk Vatreni terancam memulai perjalanan mereka dengan posisi tidak diuntungkan. Kebugaran kedua pemain tersebut dipastikan bakal mengurangi kekuatan lini tengah dan stabilitas lini belakang secara signifikan, sebuah celah yang sangat berbahaya di hadapan lini serang Inggris yang agresif.

“Kovacic, Gvardiol, dan Modric sudah lama tidak banyak bermain dan mereka tidak dalam kondisi optimal,” jelasnya. 

“Terutama Kovacic, dia hampir tidak bermain musim ini dan sekarang kami membutuhkannya. Ini tidak mudah dan kami butuh waktu. Kami tidak memiliki banyak pemain dalam skuad dan mereka adalah beberapa pemain terpenting kami.”

Baca juga: Tielemans dan Lukaku Segel Kemenangan Belgia di Kandang Kroasia

Menghormati Skuad Mewah Thomas Tuchel

Dalic, yang juga menukangi Kroasia saat mereka menyingkirkan Inggris di semifinal Piala Dunia 2018, menolak anggapan bahwa sang lawan masih menyimpan trauma psikologis masa lalu. Ia menegaskan bahwa situasi kini sudah jauh berubah, terlebih Tiga Singa telah mengalahkan Kroasia dua kali sejak malam bersejarah di Moskow tersebut.

Alih-alih bernostalgia, Dalic memberikan pujian tinggi untuk kualitas skuad besutan Thomas Tuchel, serta persiapan matang mereka yang sudah tiba di Miami sejak pekan lalu demi beradaptasi dengan cuaca Amerika Serikat sebelum bergeser ke Dallas.

Dengan Ghana dan Panama yang juga menanti di Grup L, bentrokan di Dallas ini bukan sekadar perebutan tiga poin biasa bagi Dalic. Ini adalah ujian mental terbesar bagi sisa-sisa generasi emas Kroasia. Jika mereka mampu meredam Inggris, jalan panjang di Amerika Serikat akan terbuka lebar; namun jika gagal, bayang-bayang kegagalan kelam di Jerman siap menerkam mereka kembali.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!