Pelatih tim nasional Curaçao, Dick Advocaat, menegaskan bahwa kekalahan telak 1-7 dari raksasa dunia Jerman pada laga pembuka Grup E Piala Dunia 2026 di Houston Stadium bukanlah sebuah aib. Juru taktik legendaris berusia 78 tahun tersebut justru mengaku sangat bangga melihat perjuangan anak asuhnya, yang sempat memberikan kejutan besar dengan mencetak gol pertama sepanjang sejarah negara pulau kecil tersebut di panggung dunia.  

Tampil sebagai debutan sekaligus negara dengan populasi terkecil dalam sejarah Piala Dunia (sekitar 150.000 jiwa), Curaçao sempat membuat publik Houston bergemuruh ketika pemain muda Livano Comenencia mencetak gol penyeimbang 1-1 pada menit ke-21. Walau pada akhirnya kalah kelas oleh gelontoran tujuh gol Jerman yang dimotori oleh Kai Havertz dan Jamal Musiala, Advocaat menilai pencapaian timnya melangkah hingga ke putaran final sudah merupakan sebuah keajaiban yang luar biasa.  

Bukan Hal yang Memalukan

Dalam konferensi pers pascapertandingan, Advocaat yang tercatat sebagai pelatih tertua dalam sejarah penyelenggaraan Piala Dunia tidak dapat menyembunyikan sisi emosionalnya. Mantan pelatih timnas Korea Selatan dan Belanda itu bahkan sempat meneteskan air mata saat lagu kebangsaan Curaçao dikumandangkan sebelum sepak mula.  

"Kekalahan ini sama sekali bukan hal yang memalukan," ujar Advocaat dengan tegas.

Baca juga: Jerman Menang Telak 7-1 di Laga Debut Curacao di Piala Dunia

“Nilai pasar total skuad Jerman berkisar di angka 850 juta euro, sementara seluruh tim kami hanya bernilai sekitar 25 juta euro. Kalah dari lawan seperti ini sama sekali bukanlah hal yang memalukan.”

Keberanian taktik Advocaat sempat dipuji oleh pelatih Jerman, Julian Nagelsmann, yang berusia 40 tahun lebih muda darinya. Pasukan "The Blue Wave" tidak sekadar menumpuk pemain di area pertahanan, melainkan berani meladeni permainan terbuka Jerman di 30 menit pertama babak pertama lewat motor serangan lini tengah yang dikomandoi Leandro Bacuna dan Tahith Chong.  

Sejarah di Menit ke-21 yang Fenomenal

Jerman membuka keunggulan lebih dulu lewat gol cepat Felix Nmecha pada menit kelima. Namun, alih-alih mentalnya runtuh, Curaçao merespons dengan determinasi tinggi yang berujung pada momen magis di menit ke-21.  

Berawal dari skema serangan balik rapi, bintang muda kelahiran 2004, Livano Comenencia, melepaskan tembakan kaki kiri mendatar melewati kerumunan bek Jerman yang gagal dijangkau kiper Manuel Neuer. Gol penyeimbang tersebut memicu perayaan emosional di mana para pemain Curaçao membentuk menara manusia di sudut lapangan, sementara Advocaat bersorak gembira merayakan gol pertama negaranya di ajang Piala Dunia.  

Baca juga: Nagelsmann Ingatkan Jerman Jangan Jemawa usai Cukur Curacao 7-1

Meski demikian, Jerman menunjukkan kelasnya sebagai juara dunia empat kali dengan merestorasi keunggulan lewat Nico Schlotterbeck dan penalti Kai Havertz sebelum jeda, disusul empat gol tambahan di paruh kedua via Jamal Musiala, Nathaniel Brown, Deniz Undav, dan gol kedua Havertz.  

"Kita perlu mengubah ini menjadi turnamen yang indah," tambah Advocaat. "Kita bisa memberikan kejutan di pertandingan kedua dan ketiga. Pada akhirnya, kita akan senang telah menjadi bagian dari turnamen sepak bola terbesar di dunia."

Bangkit Menatap Duel Kontra Ekuador

Kekalahan telak ini menempatkan Curaçao di posisi juru kunci klasemen sementara Grup E di bawah Jerman dan Pantai Gading yang sukses menumbangkan Ekuador 1-0. Walau langkah kedepan semakin terjal, winger Kenji Gorré mengungkapkan bahwa seluruh tim merasa sangat bersyukur bisa mengukir sejarah di Texas.

Curaçao kini harus segera memulihkan kebugaran fisik mereka sebelum terbang ke Kansas City. Juninho Bacuna dan kolega dijadwalkan menantang Ekuador pada laga kedua Grup E pada Minggu, 21 Juni 2026, sebuah partai krusial bagi kedua tim untuk menjaga asa merebut tiket lolos ke fase gugur.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!