Giuseppe Meazza hampir saja menjadi saksi kegagalan Inter Milan untuk memaksimalkan keuntungan pekan ini. Namun, sebuah momen dari bangku cadangan mengubah rasa cemas menjadi euforia. Penyerang muda, Francesco Pio Esposito, muncul sebagai pahlawan dengan mencetak gol tunggal kemenangan 1-0 atas Lecce pada laga lanjutan Serie A, Kamis dini hari.

Kemenangan tipis ini memiliki nilai yang sangat krusial bagi armada asuhan Cristian Chivu. Dengan hasil imbang yang diraih Napoli beberapa jam sebelumnya, Inter kini sukses memperlebar jarak di puncak klasemen menjadi enam poin, sekaligus mengukuhkan status mereka sebagai Campione d'Inverno (Juara Musim Dingin) musim 2025-26.

Dominasi yang Membuat Frustrasi

Sejak awal laga, Inter langsung memegang kendali permainan. Lini tengah yang digalang Piotr Zielinski dan Nicolo Barella terus menekan pertahanan Lecce yang menumpuk pemain di area kotak penalti. Namun, penyelesaian akhir menjadi masalah utama tuan rumah di babak pertama.

Ange-Yoan Bonny sempat terjatuh di kotak penalti yang awalnya memicu wasit Fabio Maresca menunjuk titik putih. 

Baca juga: Chivu Tak Pusingkan Hasil Imbang Inter Lawan Napoli

Namun, setelah intervensi VAR, keputusan tersebut dianulir karena bek Lecce, Danilo Veiga, terbukti menyentuh bola terlebih dahulu. 

Peluang demi peluang dari Barella dan Bonny pun berkali-kali mentah di tangan kiper Lecce, Wladimiro Falcone, yang tampil luar biasa malam ini.

Insting Sang Striker Muda

Memasuki babak kedua, Inter memasukkan Francesco Pio Esposito dan Lautaro Martinez untuk menambah daya gedor. Perjudian taktis ini membuahkan hasil pada menit ke-78.

Berawal dari umpan matang Zielinski yang dipantulkan oleh Pio Esposito kepada Lautaro, sang kapten melepaskan tembakan keras yang berhasil ditepis Falcone. Namun, bola muntah jatuh tepat di jalur lari Pio Esposito. 

Penyerang muda berbakat ini dengan tenang menceploskan bola ke gawang yang kosong, memicu ledakan kegembiraan dari puluhan ribu Interisti di tribun.

Lecce sempat memberikan ancaman lewat serangan balik cepat Riccardo Sottil dan Mohamed Kaba, namun penampilan tenang Yann Sommer di bawah mistar gawang memastikan gawang Inter tetap suci hingga peluit akhir berbunyi.

Baca juga: Inter 2-2 Napoli: Brace McTominay Gagalkan Kemenangan Nerazzurri

Menatap Scudetto

Keberhasilan menjadi juara musim dingin sering kali menjadi indikator kuat bagi peraih gelar juara di akhir musim. 

Meski tidak tampil seganas biasanya, Inter menunjukkan atribut paling penting dari seorang calon juara: kemampuan untuk menang dalam kondisi sulit. Chivu memuji kedewasaan para pemainnya yang tetap tenang meski berada dalam tekanan waktu.

“Saya pernah meraih gelar semi juara musim dingin dalam karier saya, tetapi itu tidak berarti apa-apa. Yang penting adalah mencapai bulan Mei, dengan mengetahui bahwa Anda kompetitif,” tegas Chivu.

“Ini akan menjadi musim liga yang ketat dan pertarungan hingga akhir. Saya juga pernah mengikuti kamp pelatihan sebagai pemain. Dan bukan berarti mengikuti kamp pelatihan menjamin kemenangan, tidak ada yang bisa menjanjikan itu.”

“Dibutuhkan kejelasan dan kesadaran. Saya percaya pada pemain saya, kedewasaan mereka, dan saya senang dengan bagaimana mereka berkomitmen setiap hari, terlepas dari kesulitan yang ada.”

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!