Sepak bola profesional sering kali dinilai sebagai dunia glamor yang steril dari penderitaan manusia biasa. Namun, pengakuan emosional yang dilontarkan bek tengah Prancis, Ibrahima Konaté, pada Rabu waktu setempat menjadi tamparan keras yang meruntuhkan stigma tersebut.

Berbicara secara terbuka dari kamp pelatihan tim nasional Prancis menjelang Piala Dunia 2026, pemain berusia 27 tahun itu mengungkapkan bahwa dirinya diam-diam berjuang melawan depresi hebat sepanjang musim 2025/26. Badai mental tersebut menghantamnya menyusul dua tragedi beruntun: kematian tragis rekan setimnya di Liverpool, Diogo Jota, serta berpulangnya sang ayah, Hamady Konaté.  

"Uang Banyak Itu Omong Kosong"

Dalam wawancara mendalam bersama stasiun radio France Inter, Konaté menantang narasi publik yang sering kali meremehkan kesehatan mental para atlet top hanya karena mereka memiliki pendapatan yang fantastis.  

"Ada saat-saat sulit, ada depresi. Dan saya pikir depresi adalah sesuatu yang jauh lebih dalam, dan itu adalah penyakit yang dialami orang setiap hari. Anda juga bisa menderita depresi di dunia sepak bola; tidak perlu malu untuk mengatakannya,” kata Konate.

Baca juga: Eksodus Anfield Berlanjut: Ibrahima Konaté Siap Tinggalkan Liverpool Secara Gratis

“Dan itu bisa dipicu oleh apa saja. Memang benar saya sering mendengar pemain mengatakan mereka menderita depresi dan bahwa penggemar atau orang di luar tidak mengerti karena mereka menghasilkan banyak uang. Tapi tidak, itu omong kosong dan Anda tidak seharusnya mengatakan itu. Depresi itu bersifat pribadi; itu ada jauh di dalam diri Anda."

Efek Domino Dua Tragedi Beruntun

Garis waktu penderitaan Konaté bermula pada Juli 2025, tepat sebelum pramusim dimulai. Penggawa timnas Portugal, Diogo Jota, yang juga tetangga dekat Konaté di Merseyside, secara tragis meninggal dunia bersama saudaranya, André Silva, dalam sebuah kecelakaan mobil di Spanyol.  

"Bahkan sampai hari ini masih sulit dipercaya. Lokernya masih ada di ruang ganti, dan setiap hari ketika saya pergi latihan, dia selalu ikut bersama kami,” kenang Konate. 

“Saya ingat ketika saya mengetahuinya saat berada di Los Angeles dan saya tidak percaya. Itu menghancurkan saya. Saat itu saya tidak tertarik pada hal lain. Dia adalah orang terakhir yang akan dipilih siapa pun untuk mengalami hal ini. Dia tidak peduli dengan apa pun. Dia hanya ingin bahagia dan bersenang-senang dengan rekan satu tim dan keluarganya. Dia tidak tertarik pada ketenaran. Dia juga tetangga saya, jadi saya menghabiskan beberapa momen lagi bersamanya."

Baca juga: Ibrahima Konaté Resmi Tinggalkan Liverpool dengan Status Bebas Transfer

Di saat ruang ganti Anfield bersama-sama meratapi kepergian Jota, Konaté harus memikul beban berat lainnya sendirian di balik layar. Sang ayah, Hamady, jatuh sakit keras dan harus menghabiskan waktu berminggu-minggu di rumah sakit.  

Performa Konaté di lapangan sempat terlihat menurun drastis sepanjang musim gugur seiring dengan konflik batin yang berkecamuk di kepalanya. "Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya bimbang apakah harus pulang ke rumah dan berhenti bermain, atau tetap bertahan karena tim juga sedang membutuhkan saya."  

Petaka gelombang kedua akhirnya tiba pada Januari 2026 ketika sang ayah dinyatakan meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakitnya. Demi membantu Liverpool yang saat itu tengah dilanda krisis cedera lini belakang, Konaté mengambil keputusan berani untuk memotong masa cuti berkabungnya dan langsung bermain di bawah arahan Arne Slot. Ia bahkan menandai laga kembalinya dengan sebuah gol emosional melawan Newcastle di Anfield.  

Pesan untuk Dunia dan Lembaran Baru di Madrid

Meskipun terus tampil profesional hingga akhir musim, mantan bek RB Leipzig itu mengakui bahwa ia tidak pernah benar-benar pulih dari luka batinnya di sepanjang musim lalu.  

"Tidak pernah ada satu momen pun di mana saya merasa keadaan saya membaik," cetusnya. "Semua peristiwa tragis ini terjadi begitu cepat. Tepat ketika saya merasa baru bisa menyembulkan kepala ke atas permukaan air untuk bernapas, sesuatu yang buruk kembali terjadi dan menenggelamkan saya."

Konaté yang telah mengonfirmasi kepergiannya dari Liverpool musim panas ini seiring berakhirnya kontrak kerja, dan santer dikabarkan segera merampungkan kepindahan bebas transfer ke Real Madrid, kini berharap pengakuannya bisa membantu sesama pemain yang sedang menderita dalam kesunyian. 

"Saya tidak tahu harus berbicara dengan siapa tentang hal itu, jadi saya menyimpan semuanya sendiri. Dan inilah nasihat yang akan saya berikan kepada semua orang yang mendengarkan: ketika Anda merasa sedih atau ada sesuatu yang terjadi, Anda perlu berbicara dengan orang-orang di sekitar Anda. Itu dapat membantu Anda dan bermanfaat bagi Anda. Saya tidak membicarakannya dan menyimpannya sendiri. Kemudian dokter memberi tahu kami bahwa dia tidak akan hidup lama, tetapi kami tidak tahu itu akan terjadi begitu cepat.” 

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!