Enzo Maresca Resmi Jadi Manajer Baru Manchester City, Kontrak hingga 2029
Manchester City resmi memulai era baru setelah mengonfirmasi penunjukan Enzo Maresca sebagai pelatih kepala baru mereka. Pria asal Italia tersebut diikat dengan kontrak berdurasi tiga tahun yang akan berjalan hingga musim panas 2029.
Maresca, yang kini berusia 46 tahun, mewarisi salah satu kursi panas paling didambakan sekaligus penuh tekanan di dunia sepak bola. Ia melangkah masuk untuk mengisi kekosongan besar yang ditinggalkan oleh Pep Guardiola, yang mengakhiri masa bakti legendarisnya selama satu dekade di Etihad Stadium bulan lalu.
Bagi Maresca, ini adalah sebuah momen kepulangannya. Ini menandai periode ketiganya di kubu Manchester Biru. Sebelumnya, ia sukses membawa skuad Elite Development City menjuarai Premier League 2 pada tahun 2021, sebelum akhirnya kembali menjadi tangan kanan tepercaya Guardiola dalam kampanye historis meraih Treble Winner pada musim 2022–2023.
Penuh Drama dari London ke Manchester
Di saat para pendukung City merayakan penunjukan ini sebagai kelanjutan taktis dari mazhab Guardiola, kedatangan Maresca di Manchester sebenarnya diselimuti drama politik yang cukup sengit. Ia tiba setelah perpisahan yang kontroversial dengan Chelsea, meninggalkan rasa pahit yang mendalam di London Barat.
Manajemen Chelsea bahkan merilis pernyataan yang sangat blak-blakan bersamaan dengan pengumuman ini. Mereka mengungkapkan bahwa Maresca secara mental sudah absen sejak musim gugur lalu setelah mengetahui dirinya menjadi kandidat utama untuk menggantikan Guardiola.
Baca juga: Pecahkan Rekor, Manchester City Sepakati Transfer Elliot Anderson Senilai £116 Juta
Keputusan mendadak sang pelatih untuk mengundurkan diri pada Hari Tahun Baru 2026 sempat membuat musim Chelsea berantaka. Mereka kemudian menunjuk Liam Rosenior yang juga gagal mendongkrak posisi the Blues yang mengakhiri musim di posisi ke-10, sebelum The Blues akhirnya menunjuk Xabi Alonso untuk musim depan.
Maresca langsung angkat bicara mengenai dinamika hubungannya dengan Chelsea saat diperkenalkan oleh City.
“Pada akhir Desember 2025, saya membuat keputusan sulit untuk meninggalkan Chelsea,” kata Maresca, dilansir dari situs resmi City. “Keputusan itu sepenuhnya milik saya. Pengunduran diri saya dari Chelsea membuka jalan bagi saya untuk bergabung dengan Manchester City, klub yang sangat saya kenal. Saya sangat gembira karena sekarang saya telah bergabung dengan Manchester City.
“Saya menyadari bahwa kepergian saya dari Chelsea di tengah musim menyebabkan gangguan bagi klub dan saya meminta maaf untuk itu. Itu bukan niat atau keinginan saya. Saya diperlakukan dengan baik oleh semua orang di Chelsea dan bersama-sama kami meraih kesuksesan besar dan kenangan yang akan selalu saya hargai.
“Saya berterima kasih kepada klub, pemilik, dan para penggemar karena telah memberi saya kesempatan.”
Terlepas dari friksi tersebut, reputasi Maresca di bursa pelatih tetaplah tinggi. Selama 18 bulan berada di Stamford Bridge, ia berhasil mengamankan posisi empat besar, mempersembahkan trofi UEFA Conference League, serta meraih gelar FIFA Club World Cup, membuktikan bahwa ia mampu mengatasi tekanan klub elite dan menghadirkan trofi.
Cetak Biru Baru
Tugas utama Maresca di Etihad sudah sangat jelas: mengembalikan Manchester City ke puncak tertinggi sepak bola Inggris. Setelah satu dekade dominasi yang spektakuler di bawah Guardiola, The Sky Blues terpaksa menghabiskan dua musim terakhir tanpa trofi Premier League, menyaksikan Arsenal dan Liverpool mengangkat trofi Premier League secara berturut-turut.
Baca juga: Al Mubarak Ungkap Guardiola 100 Kali Ancam Tinggalkan di Manchester City
Ketika Guardiola mengakui pada bulan Mei lalu bahwa dirinya "tidak lagi memiliki energi" untuk memenuhi tuntutan kejam dari pekerjaan ini, hierarki City, yang dipimpin oleh CEO Ferran Soriano dan Chairman Khaldoon Al Mubarak, memilih stabilitas struktural daripada melakukan perombakan radikal. Mereka bertaruh pada versi mereka sendiri dari cetak biru Arsenal: menunjuk mantan asisten Guardiola yang sangat memahami DNA klub, filosofi taktis, serta standar internal yang ketat.
Soriano menegaskan mengapa Maresca menjadi pilihan mutlak untuk memimpin masa transisi pasca Guardiola ini.
"Enzo adalah kandidat paling menonjol dalam pertimbangan kami. Kami tahu kepribadiannya dan visinya tentang bagaimana sepak bola seharusnya dimainkan. Dia adalah pria dengan integritas, karisma, dan semangat yang tinggi. Selain keberhasilannya di Chelsea dan Leicester, rekam jejaknya di City telah membuktikannya sendiri,” ujar Soriano.
Sanggupkah Menahan Beban Warisan Pep?
Menggantikan posisi sekaliber Guardiola secara historis sering kali dianggap sebagai tugas yang mustahil, tanyakan saja pada siapa pun yang mencoba mengikuti jejak Sir Alex Ferguson di Manchester United atau Arsène Wenger di Arsenal. Guardiola pergi dengan koleksi 17 trofi mayor serta warisan yang secara mendasar telah mengubah lanskap taktis sepak bola modern.
Baca juga: Real Madrid Resmi Rekrut Bernardo Silva Secara Gratis dari Man City
Namun, Maresca tampaknya sama sekali tidak gentar dengan bayang-bayang raksasa yang ditinggalkan pendahulunya. Berbekal sistem menyerang yang terstruktur dan berbasis penguasaan bola yang ketat, pria Italia itu melihat stabilitas di Etihad sebagai kanvas terbaik untuk merajut idenya.
"City adalah klub sepak bola yang dikelola dengan sangat baik. Segala hal yang mereka lakukan penuh inovasi, terencana, dan memiliki tujuan jelas," ujar Maresca. "Bagi seorang manajer, itu adalah situasi impian. Hal ini memberi saya konsistensi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan secara efektif. Ini akan menjadi periode ketiga saya di sini. Saya tahu klub ini, saya tahu tuntutannya, dan saya tahu apa ekspektasinya."
Dengan rumor dana belanja musim panas yang besar yang sudah mulai berembus di koridor kekuasaan Etihad, Maresca dipastikan tidak akan kekurangan amunisi finansial untuk membangun generasinya sendiri. Sesi pramusim akan dimulai dalam beberapa minggu ke depan, dan dunia sepak bola akan menyaksikan dengan cermat: apakah sang murid benar-benar bisa menyamai kehebatan sang master?