Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Dunia sepak bola terus berevolusi demi menciptakan keadilan di atas lapangan hijau. Salah satu eksperimen taktis paling menarik yang pernah diuji coba oleh Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) dan UEFA adalah perubahan urutan eksekusi adu penalti, dari skema konvensional ABAB menuju format inovatif yang dikenal sebagai format ABBA.
Meskipun keduanya sama-sama bertujuan menentukan pemenang dalam laga fase gugur yang berakhir imbang, urutan penembakan serta filosofi psikologis di balik kedua sistem ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar.
Dalam format tradisional ABAB, kedua tim bergantian mengambil tendangan penalti secara konstan. Tim A mengeksekusi penalti pertama, diikuti oleh Tim B, lalu kembali ke Tim A, dan seterusnya hingga masing-masing tim menyelesaikan lima kesempatan awal.
Baca juga: Daftar Pemain Bintang yang Gagal Mengeksekusi Penalti di Final Krusial
Sebaliknya, format ABBA mengadopsi skema tie-break yang biasa digunakan dalam olahraga tenis. Tim A mengambil tendangan penalti pertama. Setelah itu, giliran berganti di mana Tim B mengeksekusi dua tendangan berturut-turut (penalti kedua dan ketiga). Urutan kemudian kembali ke Tim A yang mengambil dua tendangan beruntun (penalti keempat dan kelima). Pola berpasangan ini terus berulang hingga babak adu penalti selesai.
Latar belakang utama di balik terciptanya format ABBA adalah faktor psikologis, di mana tekanan akibat terus-menerus berada dalam posisi tertinggal. Penelitian statistik yang dipimpin oleh Profesor Ignacio Palacios-Huerta mengungkapkan bahwa dalam format tradisional ABAB, tim yang menendang pertama memiliki peluang menang hingga 60 persen, sementara tim penendang kedua hanya mengantongi 40 persen tingkat kemenangan.
Baca juga: Apakah Tim yang Menendang Pertama Selalu Menang dalam Adu Penalti?
Pada skema ABAB, tim penendang kedua selalu mengeksekusi bola di bawah tekanan mental untuk menyamakan kedudukan jika tim penendang pertama berhasil mencetak gol. Format ABBA dirancang untuk menyeimbangkan beban psikologis tersebut. Dengan memberikan dua kesempatan berturut-turut kepada Tim B, tim penendang kedua memiliki peluang langsung untuk membalikkan keadaan atau mengambil alih keunggulan, sehingga tekanan mental tidak tertumpuk secara tidak adil pada satu pihak saja.
Format ABBA sempat diuji coba secara resmi pada berbagai turnamen usia muda UEFA serta ajang FA Community Shield 2017 saat Arsenal menundukkan Chelsea lewat adu penalti. Meskipun secara akademis dan statistik terbukti lebih adil, format ABBA dinilai cukup rumit untuk dipahami secara instan oleh penonton awam maupun pemain di lapangan.
Baca juga: Kiper dengan Penyelamatan Terbanyak dalam Sejarah Adu Penalti Final Turnamen Besar
Akibatnya, IFAB dan FIFA memilih untuk kembali menggunakan format tradisional ABAB di turnamen-turnamen utama dunia, sementara diskusi mengenai pencarian skema adu penalti yang paling adil tetap menjadi topik hangat di kalangan pengamat sepak bola internasional.